Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara Pepuja Hati: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Bahasa Rakyat bagi Budiman Sudjatmiko

4 November 2018   20:02 Diperbarui: 11 November 2018   16:37 5535 30 19
Bahasa Rakyat bagi Budiman Sudjatmiko
Ilustrasi: budimansudjatmiko.net

Hidup Demokrasi. Penjara tidak akan membuat saya jera. Dunia melihat apa yang terjadi di sini. Soeharto akan memetik buah dari pohon diktator yang ia tanam.

Empat kalimat itu diteriakkan berkali-kali, dengan suara lantang, oleh Budiman Sudjatmiko dalam sebuah video pendek yang gencar beredar di dunia maya. Generasi Z yang lahir sekisar 1995-2010 akhirnya mengenal aktivis yang dulu kerap mengepalkan tinju tangan kirinya.

Video itu menayangkan cuplikan persidangan, pleidoi tersangka, dan suasana ketika si tersangka digelandang ke dalam mobil untuk dibawa ke LP Cipinang. Durasi boleh singkat, tetapi senyum Budiman dan gayanya membaca pembelaan lekat dalam ingatan.

Bukan hanya itu. Ekspresi Hakim Ketua yang terlihat kesal dan dongkol, tampak dari mulut yang terkatup rapat dan palu sidang yang diketukkan berulang-ulang, juga menjadi pemandangan epik dalam video tersebut. Apalagi gaya "unik nan elegan" Budiman yang sering memunggungi Pak Hakim dan menghadap ke arah penyaksi sidang, seakan-akan pleidoi yang ia baca persis naskah orasi belaka. 

Kala itu usianya baru 26 tahun, tetapi nyalinya seperti tidak mengenal rasa takut. Dalam balutan kemeja putih berlengan pendek, celana hitam, dan ikat kepala merah, sosoknya rajin menghiasi koran pada kisaran 1994-1998.

Akibat sepak terjangnya menentang kelaliman Panglima Orde Baru, Presiden Soeharto, ia didapuk menjadi "buronan nomor satu". Siapa pun tahu, Pak Harto tidak tanggung-tanggung dalam menyikapi "para pembangkang".

Akan tetapi, saya mengenal Budiman bukan dari video tersebut. Kiprah lelaki berkacamata dan berambut agak ikal itu sudah saya ketahui semenjak saya masih remaja. Saya mengikuti sepak terjang lelaki kelahiran 10 Maret 1970 sejak awal 1990-an.

Meskipun jauh dari Jakarta, kabar tentang gerakan perlawanan menentang Orde Baru gencar di telinga. Sebelum hijrah ke Jakarta pada pertengahan Agustus 1997 pun saya kian kerap mengikuti kiprah "singa podium" kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, yang mahir berorasi itu.

Berita tentang peristiwa Sabtu Kelabu, 27 Juli 1996, juga marak menghiasi media massa. Adalah Budiman dan konco-konconya di Partai Rakyat Demoratik (PRD) yang kemudian dituding selaku dalang di balik peristiwa perebutan kantor DPP PDI di Jln. Diponegoro Jakarta.

Di bawah todongan tujuh pistol, dengan mata yang tertutup kain hitam, dan kemeja yang dipereteli petugas, ia dan kawan-kawannya "diamankan". Istilah ini memang marak pada era Orde Baru. Padahal, sebenarnya Budiman digelandang ke sebuah tempat untuk diinterogasi.

Pada akhirnya, Budiman divonis 13 tahun penjara. Andaikan reformasi tidak bergulir, andaikan Soeharto tetap mengangkangi kursi "orang nomor satu di Indonesia", andaikan Gus Dur tidak terpilih menjadi Presiden setelah reformasi tuntas meruntuhkan Orde Baru, barangkali Budiman masih tetap mendekam di LP Cipinang--atau dipindahkan entah ke mana.

Budiman tidak sendirian. Delapan aktivis PRD lain yang ditahan di tempat yang sama. Yakni, Petrus Hari Hariyanto, Anom, Kurniawan, Wilson, Ignatius Pranowo, Garda Sembiring, Suroso, dan Ken Budha Kusumandaru.

Atas amnesti Presiden Gus Dur pada 10 Desember 1999, Budiman akhirnya menghirup udara bebas. Sejak itu, lama tidak terdengar kiprahnya. Ternyata ia meneruskan kuliah di Universitas London dan Universitas Cambridge.

Budiman Sudjatmiko memaparkan gagasan awal pembentukan Inovator 4.0 Indonesia | Dokumentasi Pribadi
Budiman Sudjatmiko memaparkan gagasan awal pembentukan Inovator 4.0 Indonesia | Dokumentasi Pribadi
Bahasa rakyat. Inilah dua kata yang lekat di bawah batok kepala saya pada pertemuan imajiner bersama Budiman. Tidak, kami tidak beremu langsung dan bercengkerama tentang dunia buku--sekalipun kami sama-sama rakus membaca. Kami bertemu lewat tulisan. Beliau selaku penulis dan saya selaku pembaca. Pertemuan itu terjadi lewat sebuah opini Menggali Jejak Kebangkitan pada 21 Mei 2008.

Sejatinya, Budiman berbicara tentang kebangkitan bangsa. Namun, ia justru mengedepankan dua kata yang sudah lama hilang dari kamus pejabat atau petinggi negara. Dua kata itu adalah "bahasa rakyat". Dua kata yang lesap dan lesak ke dasar sanubari saya.

Pemilu memang terus digelar setiap lima tahun sekali, jargon "suara rakyat suara Tuhan" masih rutin terdengar, tetapi bahkan wakil rakyat pun sebenarnya tidak lebih dari wakil partai. Meminjam ledekan Iwan Fals, wakil rakyat tidak lebih dari politisi yang "hanya tahu nyanyian lagu setuju". Belakangan kian parah. Ada yang sudah tidak ikut "barisan asal setuju", tetapi cenderung "asal bunyi". Tragis!

Pada pertemuan kedua itu beliau menegaskan kembali alangkah vital bahasa rakyat itu. 

Pada awal-awal kebangkitan [bangsa], hampir semua pemimpin kebangkitan nasional hidup bersama rakyat, sangat dekat dengan kehidupan keseharian rakyat, sehingga bahasa rakyat hampir tidak berjarak dengan mereka. 

Begitu ungkap Budiman dalam artikel yang bernas dan renyah dibaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2