Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Acuhkan Bulan Bahasa

18 Oktober 2018   10:36 Diperbarui: 18 Oktober 2018   14:27 1333
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sabda mengangguk. "Betul."

Willy manggut-manggut. Mulutnya mencelangap. "Kopi-kopi ini dirawat secara tradisional?"

"Semula begitu." Sabda menarik napas, mengembuskannya pelan-pelan, dan tersenyum. "Sejak mengikuti banyak pelatihan, termasuk Pelatihan Mengenal Kopi di Kanada, petani-petani kopi di sini sudah tahu cara merawat kopi yang sesuai teknologi."

Sam tercengung. "Belajar hingga Kanada?"

Sabda mengangguk. "Ya, Kelompok Tani Aroma sudah melanglang buana."

"Jenis kopi apa yang mereka tanama?" tanya Willy.

"Arabika," ujar Sabda.

Sam dan Willy serentak berseru, "Wah, favoritku."

"Kalian pernah dengar pepatah 'kerbau punya susu, sapi punya nama'?"

Sam dan Willy serempak menyahut, "Ya."

Mata Sabda meripit karena cahaya matahari menyemburat di balik dedaunan. "Kopi-kopi di sini dinamai Kopi Rumbia, berarti asalnya dari Jeneponto. Di Bulukumba ada Kopi Kahaya, sementara di Enrekang ada Kopi Kalosi. Mereka punya kopi, tetapi orang-orang di luar lebih sering menyebutnya Kopi Toraja."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun