Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Apa Salah Kiai Ma'ruf?

10 Agustus 2018   14:50 Diperbarui: 11 Agustus 2018   19:52 6677 40 39
Apa Salah Kiai Ma'ruf?
K.H. Ma'ruf Amin | (ANTARA Foto/Hafidz Mubarak A).

Gempar. Mula-mula tersiar kabar bahwa Pak Jokowi akan memilih pasangan cawapres yang berinisial 'M'. Spekulasi pun bermunculan. Ternyata bukan Mahfud MD. Bukan juga Muhaimin Iskandar. Apalagi Maman Suherman. Ternyata Kiai Ma'ruf Amin.

Pada mulanya hanya pidato. Adalah Ahok yang berpidato di depan warga Pulau Pari, Kepulauan Seribu, pada akhir 2016. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyitir Al-Maidah ayat 51. Lantas seseorang mengeposkan video potongan pidato beliau. 

Lantas video potongan pidato itu viral di media sosial. Lantas FPI berang dan menggalang massa dan meminta agar Ahok diadili. Lantas MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ahok menghina Alquran dan Ulama.

Indonesia semakin riuh. Ahok pun dicap penista agama. Fatwa MUI menyatukan umat. Kemudian lahirlah Gerakan Nasional Pendukung Fatwa (GNPF). Gerakan ini kemudian membidani lahirnya aksi massa berjudul 212. 

Hasilnya telah kita ketahui bersama. Ahok akhirnya kalah pada Pilgub DKI Jakarta dan berlapang dada menjalani hukuman. Belakangan bahkan memilih menjalani hukuman tanpa potongan.

Sementara itu, GNPF tetap eksis termasuk pada ingar-bingar Pilpres 2019. Beberapa waktu lalu, gerakan ini melahirkan Ijtima Ulama untuk mendukung Salim Assegaf atau Ustaz Abdul Somad sebagai Cawapres bagi kubu Prabowo. 

Bola menggelinding deras. Ustaz Abdul Somad memilih tetap bekerja sebagai suluh bagi umat. Belakangan, kubu Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai Cawapres dan mengabaikan Ijtima Ulama yang ditelurkan GNPF.

Jauh dari dugaan sebagian besar pendukung kubu Jokowi, ternyata petahana yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta itu melakukan manuver politik yang mencengangkan. Memang benar beliau memilih Cawapres dengan inisial 'M', tetapi bukan Mahfud atau Muhaimin. Pilihan beliau jatuh kepada Kiai Ma'ruf Amin, salah seorang inisiator GNPF.

Kontan netizen gempar. Kubu Prabowo terpangah lantaran tidak menyangka Jokowi akan memilih Kiai Ma'ruf. Pendukung Jokowi yang loyalis Ahok juga tercengang. 

Bukan apa-apa. Bagi loyalis Ahok, Kiai Ma'ruf merupakan "musuh bebuyutan" yang dianggap turut mengantar Ahok ke bui. Sekarang malah dipilih Pak Jokowi untuk maju ke Pilpres 2019. Dengan kata lain, Kiai Ma'ruf beralih status dari "musuh bebuyutan" menjadi "musuh dalam selimut".

"Bukan fatwa yang menimbulkan kegaduhan, tapi ucapan Ahok." ~ K.H. Ma'ruf Amin 

Pernyataan tersebut jelas-jelas tidak berterima bagi khalayak pendokung Ahok. Segelintir di antara mereka bahkan tidak bisa memaafkan Kiai Ma'ruf. Maka, kalangan yang tidak bisa memaafkan itu sontak melawan dan mengancam akan memilih golput pada Pilpres 2019.

Tentu saja khalayak loyalis Ahok berhak menentukan pilihan apakah golput atau tetap mendukung Jokowi. Itu hak politik mereka. Namun, Kiai Ma'ruf juga berhak untuk menerima pinangan Pak Jokowi. Beliau tentu punya alasan, pikiran, dan pendapat sendiri terkait persetujuannya menjadi Cawapres. Meminjam pendapat Gus Dur, gitu aja kok repot.

Apakah salah apabila Kiai Ma'ruf menerima pinangan Pak Jokowi? Jelas tidak salah. Mau ditilik dari sudut mana pun, beliau tidak bisa dipersalahkan. Pak Jokowi juga tidak bersalah. Beliau berhak memilih siapa saja yang beliau inginkan untuk mendampingi beliau. Mau Memet mau Maman, itu hak beliau.

Ada beberapa hal yang mesti kita ingat.

Pertama, politik itu cair. Kemarin bilang A, hari ini bilang B, besok mungkin C. Tidak ada yang aneh. Biasa-biasa saja.

Barangkali kita masih ingat bahwa petinggi PDIP, dulu, ada yang pernah menandaskan bahwa partai berlambang moncong putih itu tidak butuh suara dari pemilih Muslim. 

Sekarang situasinya berbeda. Mana tahu kini PDIP sudah membutuhkan suara dari pemilih Muslim. Dan, penahbisan Kiai Ma'ruf selaku pendamping Pak Jokowi adalah alamat yang terang terhadap kebutuhan itu.

Jadi, tidak usah heran. Dulu, beberapa tahun silam sewaktu Ibu Mega maju melawan SBY, beliau pernah memilih Pak Prabowo selaku pasangan. Ndilalah, pendukung Jokowi mulai gerah dan mengungkit-ungkit masa lalu Pak Prabowo hanya karena mantan menantu Pak Harto itu tetap ngeyel melawan Jokowi. Dulu mereka ke mana sehingga tidak berkoar-koar menghujat Pak Prabowo. Tidak aneh, tidak ada yang aneh, sebab politik memang cair.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2