Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Seperti Cinta, Adakalanya Partikel "Pun" Ditulis Terpisah

30 Juni 2018   15:27 Diperbarui: 1 Juli 2018   08:13 2122 12 10
Seperti Cinta, Adakalanya Partikel "Pun" Ditulis Terpisah
Sumber: pixabay

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI seyogianya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Siapakah yang mengelola akun Twitter Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI? Andai kata dikelola sendiri oleh beliau, tentu riskan dan miris karena beliau pejabat negara. Lebih miris lagi, beliau penanggung jawab tata kelola pendidikan di negeri tercinta ini.

Andaikan bukan beliau sendiri yang mengelola akun Twitter @muhadjir_ef, alias akun tersebut dipercayakan kepada administratur, rasanya makin miris. Pengelola akun Pak Mendikbud bisa sebegitu lengah. Bukan sekadar menyebalkan, melainkan sudah menyedihkan. Kata menyedihkan ini sedikit lebih lembut dibanding mengenaskan.

Apa pasal sehingga saya berpendapat demikian? Adalah cuitan beliau, Rabu (27/6), yang menjadi cikal soal kegelisahan dan kegusaran saya. Coba kita tilik rekam layar cuitan Pak Menteri.

Sumber: Twitter.com/muhadjir_ef
Sumber: Twitter.com/muhadjir_ef
Mari kita sisir kicauan beliau.

Hari ini bersama istri tercinta menunaikan pemilihan kepala daerah wilayah Jawa Timur. Saya membayangkan alangkah saktinya Pak Menteri sampai-sampai beliau sanggup menggelar hajat seakbar pilkada. Bayangkan, beliau yang menggelar Pemilihan Gubernur Jawa Timur, bukan KPU. 

Akan tetapi, abaikan saja soal pilkada itu. Ada perkara yang lebih menggelitik. Lihatlah cara beliau menggunakan kata siapa pun. Sesuatu yang seharusnya dipisah malah digabung. Aneh bin ajaib. Sekelas menteri, Mendikbud pula, tidak paham kaidah penulisan partikel pun.

Jangan-jangan beliau tidak pernah membaca Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Bisa jadi begitu. Dan, masuk akal karena Permendikbud tersebut ditandatangani oleh menteri sebelumnya, bukan oleh Pak Muhadjir. 

Meski begitu, maafkan beliau. Bagaimanapun, beliau manusia biasa. Pak Harto pun dulu sering keliru berbahasa Indonesia. Semakin disebut semangkin. Daripada sering digunakan dengan tidak semestinya. Pak Badudu sampai-sampai letih sendiri mengkritik mantan presiden kita itu. 

Nah, sekarang kekeliruan berbahasa Indonesia itu dilakukan oleh seorang menteri. Kekeliruan mendasar yang fatal. Mengapa begitu? Jawabannya sederhana, karena beliau Mendikbud. Kalaupun bukan beliau yang berkicau demikian, akun yang digunakan tetaplah akun beliau.

Apa kata dunia!

Sederhananya begini. Jika seorang guru Bahasa Indonesia keliru dalam berbahasa Indonesia, murid-muridnya pun besar kemungkinan akan ikut keliru. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru pun keliru, apalagi murid.

Mungkin sepele bagi sebagian orang, namun tidak remeh bagi para munsyi atau pencinta bahasa Indonesia. Kenapa? Hal ini terkait dengan keteladanan. Siapa pun yang membaca kicauan Pak Menteri boleh jadi mengira bahwa cara beliau menulis siapapun itu sudah betul. Lalu ditiru. Padahal, sebenarnya salah. Atau, kita anggap peristiwa ini semacam kebetulan yang salah saja. Ah, tidak sesederhana itu. 

Walau bagaimanapun, Pak Menteri sedang melakukan tindak penyesatan. Beliau mencontohkan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Tak heran bila bahasa Indonesia tidak dikuasai oleh pemakai dan penuturnya sendiri. Lah, menterinya saja begitu. Kira-kira begitu komentar yang pedasnya.

Padahal, penulisan partikel pun bukanlah sesuatu yang sulit. Asalkan kita tahu kaidahnya pasti mudah. Masalahnya, kita sendiri yang malas mempelajari bahasa Indonesia. Kita sendiri yang kerap, tanpa sadar atau malah sangat sadar, meremehkan dan merecehkan bahasa Indonesia. 

Sekali lagi, penulisan partikel pun itu mudah. Atas niat lebih memudahkan pula maka tulisan ini lahir. Sebut saja ikhtiar seorang warga yang ingin mengudar atau mengurai kekeliruan penulisan partikel pun.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Pertama, kenali 12 kata yang partikel pun ditulis serangkai. Jumlahnya tidak banyak, cuma dua belas. Kedua belas kata tersebut adalah adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.

Kedua belas kata itu berfungsi sebagai penghubung. Semacam jembatan di atas sungai yang menghubungkan sisi yang satu dengan sisi yang lain. Itu sebabnya ditulis serangkai. Bagaimana mungkin menghubungkan jika kata itu saja dipisah?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3