Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Riwayat Luka

11 Juni 2018   23:41 Diperbarui: 12 Juni 2018   13:25 2284 14 8
Puisi | Riwayat Luka
dokpri

1

Kita sepakat meninggalkan masa silam. Tetapi, kita suka diam-diam mengunjunginya. Lewat hujan, lewat ingatan. 

Kesedihan kita biarkan berumah di mata. Sekulum senyum disamarkan oleh jarak dan pelukan.

Luka adalah puisi, rimbun di kebun masa lalu: sebagai kita.

2

Kita sepasang merpati, dengan rindu memusim, sedang menggugurkan kenangan--yang hujan di dada. Seperti angan, angin musim penghujan ditakdirkan sebagai pemutar kenangan. 

Dan kita, sepasang merpati bersayap luka, terisak ditampar-tampar badai nasib, mengutuk malam dan hujan yang tak membiarkan kita tertidur sebelum pagi tiba.

3

Aku bisa saja pergi meninggalkan dan menanggalkan kenangan. Tetapi, aku senang menunggalkan kamu dalam ingatan.

Aku mencarimu di sela jari-jari hujan, yang kudapati sepampang kenangan. Rindu memang rumah segala kesedihan, barangkali. Meski begitu, aku terus bernyanyi, menidurkan kamu di dalam mimpi.

Di sana, tubuhmu terbuka mengundang pagi: membawa cahaya dan embun pembasuh luka. Jendela angan terbuka, matahari tiba lebih pagi.

Kubiarkan rindu menghangat. Berlarian, berlarian, berlarian sebagai kenangan.

4

Semenjak luka kunamai doa, aku tahu kehilangan tak lagi butuh air mata.

Oktober 2010