Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Tami Memerinci Rindu Malah Dicocor Sendu

8 Juni 2018   00:26 Diperbarui: 8 Juni 2018   05:47 1296 7 5
Tami Memerinci Rindu Malah Dicocor Sendu
Dokumentasi Pribadi

(Kutulis surat ini ketika petasan mendentum-dentum dan rindu mendentam-dentam. Kuharap kamu sudi membacanya. Tidak akan menyita waktumu, apalagi menyintas perasaanmu. O ya, Lebaran sudah melambaikan tangan. Maafkan semua kesalahan dan kekeliruanku selama ini.)

Remba yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa

Sehat dan setialah selalu, sebab rindu butuh tubuh yang sehat dan cinta yang setia. Aku tidak ingin kehilangan lelaki semenyebalkan dan semenjengkelkan kamu. Lelaki yang lekas beraksi atas kata atau kalimat yang keliru, tetapi lambat dan lamban merespons perasaan rindu atau cemburu.

Eits, tetap tenang dan rileks.

Aku senang mengenalmu dan tenang mencintaimu. Semenyebalkan dan semenjengkelkan apa pun kamu, hatiku menolak berpaling darimu. Itu sekarang, entahlah nanti. Kita sadar, cinta seperti angin. Setiap saat bisa berubah arah.

(Tunggu sebentar, Yang. Mau minum dulu. Aku haus. Rindu sedang rajin mengeringkan tenggorokan.)

Remba, patriotku yang sopan dan kesatria.

Ketahuilah, Yang. Selama ini aku sering keliru menggunakan kata, sampai-sampai yang salah kukira sudah tepat. Asam berasa asing lantaran asem lebih lazim kudengar. Janggut berasa janggal karena jenggot lebih kerap kusebut. Itu sekadar menyebut contoh, ya.

Andai tidak bertemu denganmu, barangkali aku masih dan makin setia pada kesalahan berbahasa. Andai kamu tidak getol memberitahuku (dapat awalan dan akhiran jadi digabung, kan?), mungkin aku tetap abai dan tidak peduli. 

Terus terang, Yang, semula kurasa dicintai dan mencintai kamu adalah kesalahan. Kamu terlalu datar. Dingin. Tidak seperti anak muda kekinian. Bukan Gen Y atau Z yang milenial. Ajaibnya, kamu tak layak pula masuk Gen X. Kamu lahir ketika semua gelar akademik sudah migrasi ke belakang nama.

(Moga-moga kamu masih ingat guyonan kita tentang dr., ir., atau drs. yang dipindahkan ke belakang nama.

Tuh, mengerutkan kening lagi. Santai saja, Yang. Seduh kopi dulu, gih, biar sedih mengerak di dasar kalbumu.)

Remba yang patuh dan suka bermusyawarah.

Namun seiring laju waktu, aku yakin bahwa mencintaimu adalah anugerah. Yang semula asing jadi intim, yang semula aneh jadi akrab. Maksudku, kebiasaan berbahasa Indonesia. Jangan ngeres

Sekarang aku dapat membedakan sekalipun dan sekali pun.

Contoh bagi kata pertama: Aku akan selalu memaafkanmu, sekalipun kamu berkali-kali menyakitiku. Contoh penggunaan kata kedua: Meski berkali-kali menyakitiku, tidak sekali pun kamu meminta maaf.

(Hei, itu contoh kalimat. Jangan tersinggung, Yang.)

Remba yang rela menolong dan tabah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3