Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Kata Remba "Mengubah", Bukan "Merubah"

4 Juni 2018   09:15 Diperbarui: 5 Juni 2018   13:44 1073 7 2
Kata Remba "Mengubah", Bukan "Merubah"
betanews.com

Sudah lama Remba lupa memeluk dirinya sendiri. Selama ini ia terlalu memikirkan apa kata orang, sampai-sampai ia lupa pada kebahagiaannya sendiri. Apa saja yang ia lakukan harus seturut dengan kata orang tersebut. Akibatnya fatal. Ia merasa gagal menjadi dirinya sendiri. Ia merasa tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Ia merasa ada, padahal sebenarnya tidak ada.

Semasa kecil, ia sering mendengar saran sanak-kerabatnya. Tirulah si anu, sekarang sudah anu karena dulu dia nganu. Kadang benak anak-anaknya ingin memberontak, tetapi anak kecil selalu dianggap bukan siapa-siapa oleh orang dewasa. Kalaupun ia berontak, ia segera dituduh mencari-cari perhatian. Tuduhan itu sering kali diakhiri dengan kalimat pamungkas yang menyakitkan. Lihat si anu, jadi anak mestinya begitu.

Remba belajar tabah. Kesedihan ia pendam sedalam-dalamnya. Ia simpan di dasar hatinya.

Setamat SD, ia merasa akan memasuki dunia baru yang lebih segar dan bebas. Dunia remaja namanya. Tetapi ia kecele. Tidak ada kesegaran, tidak ada kebebasan. Ia harus tetap menjadi yang bukan dirinya. Orang-orang dewasa di sekitarnya merasa berhak mengambil alih tugas dan kewenangan Tuhan. Orang-orang dewasa itu mengatakan ini dan menyatakan itu. Alasannya selalu sama. Ini demi kebaikanmu juga

Semasa SMA, orang-orang dewasa di sekitarnya mulai abai. Kadang-kadang ia mendengar nasihat, yang sebenarnya keluhan atau kepasrahan, semacam terserah kamu saja atau kamu akan tahu apa yang terbaik bagi dirimu. Sayang, nasihat itu kerap diikuti bisik-bisik di belakang telinga kepada teman sebayanya. Jangan tiru Remba. Seakan-akan ia suri teladan buruk yang negara akan rusak apabila pemuda lain meniru ulahnya.

Remba belajar tabah. Keperihan ia simpan serapat-rapatnya. Ia simpan di dasar sanubarinya. 

Sewaktu ingin kuliah dan memilih jurusan, orang-orang dewasa kembali muncul dengan segala kepintarannya. Kalau ingin masa depan cerah, kamu harus pilih jurusan ini. Ia turuti nasihat meredan mengabaikan minatnya pada sastra. Kata mereka, eksakta menunjukkan kecerdasan. Tetapi ia sudah bosan bengal. Tiba-tiba ia ingin menjadi penurut, meskipun diam-diam ia menyimpan hasrat menunjukkan siapa dirinya.

Semasa kuliah, ia jatuh cinta. Seorang perempuan menjatuhkan hatinya. Lagi-lagi ia dipaksa menjadi bukan dirinya. Terlalu banyak tuntutan, terlalu banyak harapan. Harus begini, harus begitu. Jika ia tampik keinginan pacarnya, petuah baru mencecar kupingnya. Mencintai itu harus mampu membahagiakan yang dicintai

Remba belajar tabah. Kepedihan ia telan sebulat-bulatnya. Ia peram di dasar kalbunya. 

Meski begitu, ia tidak bisa berdiam diri ketika kesalahan menjadi-jadi di sekitarnya. Ia tegur 0rang-orang yang sibuk kursus bahasa asing, namun tidak becus menggunakan bahasa Indonesia. Si Anu mengatakan mendramatisir, ia katakan bahwa yang tepat adalah mendramatisasi. Si mengatakan mempraktekkan, ia akan menyatakan bahwa kata yang benar adalah mempraktikkan.

Ia bahkan tidak peduli dianggap tidak gaul oleh teman main gaplenya. 

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
"Itu resiko terlalu kaku," kata temannya.

Remba tersenyum. "Kata itu keliru. Yang tepat risiko."

"Terserah kamu," ujar temannya. "Aku hanya ngasih saran."

"Kamu ingin saranmu kudengar?"

Temannya mengangguk. "Ya!"

"Aku juga begitu," timpal Remba. "Terimalah sanranku bahwa yang tepat adalah risiko, bukan resiko."

"Kamu memang susah merubah watak!"

Remba cengengesan. "Aku tidak mau jadi rubah, karena itu aku tidak mau merubah."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2