Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Ketika Tami Keliru Memakai "Di"

30 Mei 2018   21:01 Diperbarui: 31 Mei 2018   08:47 3014 12 7
Ketika Tami Keliru Memakai "Di"
Dokumentasi Pribadi

Matahari hangat di punggung Remba. Pagi cerah, tetapi pikirannya keruh. Pesan pendek Tami gara-garanya. 

Dibalik perpisahan pasti ada pertemuan. 

Begitu pesan Tami. Ia menepuk jidat. Betapa tidak, ternyata Tami masih kelimpungan memakai di. Kekasihnya itu belum paham betul bilamana di ditulis terpisah dan kapan ditulis terangkai. Padahal sudah sarjana. Dokter pula.

Mendadak ia masam-mesem sendiri karena teringat sesuatu dan merasa geli. Selama ini memang banyak dokter yang keliru menggunakan bahasa Indonesia. Plang bertuliskan PRAKTEK DOKTER atau DOKTER PRAKTEK menjamur di mana-mana. Eh, banyak apoteker ikut-ikutan salah. Sudah tepat apotek, malah menggunakan kata apotik.

Remba geleng-geleng kepala. Ia ingat. Semasa kuliah, Tami tidak pernah keliru memakai kata praktikum dan praktis. Namunbegitu menulis atau menyebut praktik, otomatis menjadi praktek. Sungguh ajaib.

Belum sempat ia tanggapi kesalahan penulisan dibalik, pesan baru muncul di WA.

Aku malas ke rumahmu. Jalanan sedang di aspal.

Remba menggaruk-garuk kepala. Kesalahan Tami menjadi-jadi. Yang mesti digabung malah dipisah, yang harus dipisah malah digabung. Jangan pisahkan sesuatu yang mestinya digabung. Tidak baik menceraikan sesuatu yang harusnya bersatu. Itu jahat! 

Jempolnya sudah penasaran ingin menegur Tami. Telunjuknya juga begitu. Namun ia takut gadis yang dikasihinya itu tersinggung. Lalu marah-marah tak keruan. Lalu menghindari pertemuan. Lalu benar-benar meminta perpisahan. Bisa-bisa kiamat, deh.

Meski begitu, ia tetap harus menunjukkan kekeliruan tersebut. Jika tidak, Tami akan hanyut dalam arus kekeliruan.

Maka, mulailah ia menulis di WA. 

Aku tak ingin kamu terus-menerus keliru, maka aku menegurmu. Tetapi kuharap kamu tidak tersinggung, apalagi marah selama berhari-hari. 

Ia berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Kalian tentu tahu alangkah mendebarkan saat-saat sebelum kita menegur orang yang kita kasihi. 

Kemudian ia kembali mengetik.

Kamu harus tahu, Yang. Dibalik berbeda maknanya dengan di balik

Yang pertama menegaskan peristiwa, yang kedua menandaskan posisi. Yang pertama menyatakan dibuat menjadi terbalik, yang kedua menyatakan posisi berada di. Yang pertama awalan, kaidahnya ditulis serangkai. Yang kedua kata depan, asasnya ditulis terpisah.

Ia berhenti lagi seraya mengembuskan napas keras-keras.

Hal sama berlaku pada diaspal-di aspal, dilanggar-di langgar, dan ditombak-di tombak. Kata-kata pertama menyatakan peristiwa dan berfungsi sebagai awalan, jadi penulisannya digabung. Persis seperti cemburu. Kita tidak boleh memisahkan cemburu dari cinta, karena cemburu yang dikelola baik-baik akan membuat cinta kuat dan baik-baik saja.

Selain itu, Yang, kesalahan penulisan di pada tiga pasang kata tersebut akan memengaruhi makna kata. "Jalan ini baru di aspalbeda dengan "jalan ini baru diaspal". Yang pertama keliru karena makna kalimatnya "jalan ini sudah diberi aspal".

Kalimat "Dia dilanggar" beda maknanya dengan "Dia di langgar". Yang pertama menyatakan peristiwa si dia ditabrak atau ditubruk, sedangkan yang kedua menunjukkan posisi tempat si dia sedang berada.

Remba membaca ulang pesannya, kemudian menekan tombol kirim. Dadanya berdentam-dentam. Beberapa jenak kemudian, ia tersentak. Tami membalas pesannya. Singkat. Hanya satu kata dan semuanya memakai huruf kapital. 

TERSERAH!!!!!

Delapan huruf kapital itu diakhiri tanda seru (!). Tidak tanggung-tanggung, lima batang. Sebanyak jumlah sila pada Pancasila. Ia tahu. Artinya Tami bukan ingin berkata bagaimana kamu saja, melainkan sebenarnya aku sewot.

Remba menenangkan hati. Ia tidak boleh marah. Setelah merenung sejenak, setelah menimbang baik-buruk, ia balas pesan Tami dengan tenang.

Orang cerdas melihat kritik sebagai saran, yang dungu menerimanya sebagai cacian.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Sudah sejam terkirim, jawaban tak kunjung tiba. Remba mengelus dada.

Kalian tentu tahu beratnya menunggu balasan pesan. Lagi pula, ketika menyatakan terserah, perempuan kalian belum tentu betul-betul menyerahkan segala-galanya kepada kalian. Bisa jadi perempuan kalian tengah mengerahkan kemarahan dan mengarahkannya kepada kalian.

Tidak percaya? Terserah! []