Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menulis Itu Meniru Kreativitas Tuhan

15 April 2018   13:30 Diperbarui: 16 April 2018   13:08 2327
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi Pribadi. Juru Potret: Arco Transept

Ketika mengisi Kelas Menulis Fiksi (KMF) yang digelar oleh Katahati Production pada Sabtu, 17 Maret 2018 di AH Restocafe Fakultas Ekonomi UI, seorang peserta bertanya kepada saya, "Apakah Daeng sudah merancang keseluruhan cerita sebelum menulis atau langsung menulis begitu ide melintas?"

Saat itu, saya merasa ditodong sedemikian rupa dan tidak bisa mengelak. Saya tidak tahu persis jawaban apa yang pas dan tepat untuk saat itu. Saya mendadak merasa seperti pisang yang tak berdaya dikuliti sebelum akhirnya dikunyah habis. Akhirnya, saya menjawab sekenanya. "Saya menggunakan kedua cara itu, tetapi cara yang pertama sering kali lebih berhasil dibanding cara kedua."

Apabila cerita sudah kelar di benak sebelum saya tulis, kemungkinan buntu di tengah jalan sangatlah kecil. Beda halnya jika rancangan cerita belum utuh atau sempurna, kadang ada saja kendala yang muncul saat menulis sehingga, dengan berat hati, saya pilih menunda perampungan cerita itu. Jangankan mengarang novel, sebelum menganggit cerpen saja saya terlebih dahulu menyusun peta naskah--orang lain mungkin menyebutnya kerangka atau plot--dan grafik emosi.

Saya mesti seteliti mungkin meletakkan kata-kata bermuatan ekspresi tertentu, tekanan emosi, atau isyarat-isyarat lain yang menjadikan cerita saya lebih mudah dicerna, dapat dipercaya, dan syukur-syukur meninggalkan kesan mendalam di hati pembaca. Namun saya menyadari bahwa tidak semua usaha berhasil sesuai harapan. Namanya juga usaha, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Simpulannya, saya menulis dengan cara merampungkan cerita itu di benak saya dan saya gambarkan secara terperinci lewat rancangan yang saya namai peta naskah dan grafik emosi.

Pada kesempatan yang sama, peserta Kelas Menulis Fiksi lain bertanya, "Mengapa Daeng menulis?" Pertanyaan ini semenohok pertanyaan pertama, meskipun jawabannya lebih enteng. Motivasi saya menulis sangat bersahaja. Saya tidak bermimpi jadi orang tenar karena menulis. Andaipun ada satu-dua pembaca mengenal saya, itu bonus belaka.

Saya menulis sebagai usaha melawan sepi. Saya penyendiri dan hati saya mudah sekali diremukkan sepi. Pernyataan Colette Dowling sangat jitu menggambarkan alasan mengapa saya menulis. Penulis sekaligus terapis dari Amerika Serikat itu menyatakan dalam buku larisnya, The Cinderella Complex, "Yang memaksa saya menulis adalah saya tidak ingin lagi sendirian." Jika selama ini beberapa orang melihat saya sebagai pribadi yang mudah lebur dalam obrolan, gampang tertawa saat berbincang-bincang, atau hangat dalam bercakap-cakap, itu hanyalah lapisan kulit bawang pertama kepribadian saya. Pada lapisan berikutnya, saya tetaplah penyendiri yang kerap kelimpungan karena kesepian.

Sebut saja, saya lebih sering makan di dalam daripada makan di luar.

Saya berharap, ketika saya tengah sendirian maka tulisan saya akan menemukan kamu dan mengajakmu mengobrol dari hati ke hati. Atau menemukan pembaca yang lain dan mengajaknya berbincang-bincang dengan hangat. Manakala itu terjadi, saya tidak merasa kesepian lagi--semenyendiri apa pun. Itu sebabnya saya berusaha segigih mungkin supaya tulisan saya sedapat-dapatnya serupa teman yang bisa diajak berbincang-bincang ke sana kemari oleh pikiran atau imajinasi pembaca.

Karena tulisan saya dihajatkan menjelma sebagai teman bagi pembaca, saya mesti cermat dan telaten memindahkan diri--pikiran, gagasan, pendapat, kenangan, dan perasaan--saya ke dalam cerita. Dengan kata lain, cerita anggitan saya adalah saya sendiri, karena pada tiap-tiap cerita itu ada ruh yang saya tiupkan ke tiap demi tiap huruf. Maka, menulis bagi saya semacam meniru kreativitas Tuhan. Saya percaya bahwa pengarang adalah tuhan bagi cerita-cerita yang dikarangnya.

Dalam satu cerita, saya pasti menciptakan tokoh, menarik garis takdir bagi tokoh itu, menentukan di mana tokoh itu dilahirkan dan kapan tokoh itu dimatikan, memastikan masalah apa yang mesti saya lilitkan ke pundak si tokoh dan membiarkannya menemukan cara untuk keluar dari lilitan masalah itu, serta memastikan tokoh itu punya pikiran, pendapat, sikap, dan perasaan sendiri. Barangkali ada tokoh yang menentang dan melawan saya, tidak apa-apa. Tuhan saja ditentang dan dilawan oleh Iblis karena kebijakan-Nya menciptakan tokoh utama di muka bumi: bernama Manusia.

Barangkali kamu bertanya-tanya mengapa pembuka tulisan ini sedemikian personal. Ya, menulis adalah kegiatan yang sangat personal. Motivasi yang melatarinya pun sangat pribadi. Ada yang ingin tenar, walaupun menjadi penyanyi jauh lebih mudah terkenal dibanding jadi penulis. Ada yang ingin kaya, meskipun sadar bahwa penulis di Indonesia bukan profesi yang tepat untuk menumpuk duit sebanyak-banyaknya. Ada pula yang ingin berbagi kepada khalayak pembaca, baik berbagi secuil gagasan maupun sejumput kenangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun