Mohon tunggu...
Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Mohon Tunggu... Guru dan Penulis.

Mencipta wacana bermutu dari sistem berpikir Plato dan Aristoteles. Sarjana Filsafat dari STFK Ledalero sejak tahun 2002 dan seorang guru profesional sejak tahun 2008. Email: mengkakablasius@yahoo.com. --(C)2013-2020.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Miras Bukan Solusi Tepat Atasi Krisis Covid-19

10 Juni 2021   14:07 Diperbarui: 10 Juni 2021   14:18 66 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Miras Bukan Solusi Tepat Atasi Krisis Covid-19
Foto tahun 2019 ini memperlihatkan Gubernur NTT Victor Bung Tilu Laiskodat dengan Sophia. (Foto: okezone.com).

      Moke, arak, sopi dan tuanakaf adalah minuman-minuman tradisional NTT yang berkadar alkohol tinggi tapi luput dari penelitian. Pemprov NTT sudah melegalkan Sophia, produk miras domestik NTT ini. Saya tidak tahu sudah berapa botol Sophia yang dikonsumsi para warga. Dengan kurangnya data-data konsumsi, bagi saya Sophia sangat tidak berpengaruh pada kebiasaan minum warga NTT. Meskipun kebijakan Pemprov NTT melegalkan miras domestik memiliki pertimbangan matang.  

     Menurut pengamatan di lapangan, konsumsi alkohol domestik selain Sophia sudah lama dilakukan dan malahn terus meningkat di desa-desa di NTT sebelum dan selama pandemi Covid-19. Pada saat yang sama, belum ada larangan resmi meminum minuman berkadar alkohol berlaku - untuk melindungi para warga dari infeksi selama pandemi Covid-19.

     Jerman adalah indikator di mana para warganya sangat suka minum-minuman beralkohol terutama bier. Oleh sebab itu, para ahli di Jerman giat melakukan penelitian tentang sejauh mana dampak alkohol bagi kesehatan warga selama krisis Covid-19 ini. Di Indonesia, kebiasaan minum minuman beralkohol hanya ada di desa-desa di NTT. Tetapi penelitian tentang dampak alkohol bagi kesehatan selama krisis Covid-19 ini tidak dibuat. Sehingga larangan untuk minum miras lokal kurang berdasar pada data-data penelitian. Akibatnya para warga tetap mengkonsumsi miras kampung tersebut. 

     Mari kita menegok kondisi di Jerman di mana para warganya sangat suka minum bier, sebuah minuman beralkohol. Umumnya hanya sedikit peminum dapat mengetahui tentang apa yang dilakukan alkohol dalam tubuh manusia. Dalam hal ini pendapat ahli di Jerman sangat diperlukan untuk memahaminya. 

     Dalam suatu survey online di Jerman, 35,5% responden mengatakan bahwa mereka minum lebih banyak alkohol daripada sebelumnya selama pandemi Covid-19. Survey tersebut dilakukan oleh Central Institute for Mental Health (ZI) di Mannheim, Jerman bekerja sama dengan Klinik Nuremberg di Jerman dengan lebih dari 3.000 responden anonim. Dalam berbagai peristiwa domestik, konsumsi alkohol di kalangan anak muda yang merayakan sebuah moment tertentu sering mengabaikan aturan kebersihan yang sangat penting dalam perang melawan virus Corona. Tetapi benarkah konsumsi alkohol benar-benar berbahaya pada saat pandemi Corona?

     Pakar kesehatan asal Jerman yang bernama Sebastian Mueller, Profesor Penyakit Dalam dan Kepala Pusat Penelitian Alkohol (CAR) di Heidelberg, mengatakan bahwa alkohol memiliki pengaruh buruk bagi kesehatan selama masa Covid-19.

     Prof. Sebastian Mueller mengatakan bahwa alkohol adalah racun sel. Tentang bagaimana cara kerja alkohol dalam semua detail di tubuh manusia belum sepenuhnya dipahami dengan tuntas. Hanya satu hal yang pasti: secara farmakologis, alkohol bertindak seperti depresan. Jika Anda minum terlalu banyak, alkohol berubah sebagai narkotika. Hal ini tentu dapat menyebabkan kematian karena efek alkohol berdampak pada  neurotransmiter, zat ini merupakan pembawa pesan di otak dan juga pada sistem hormonal. Karena efek toksiknya, alkohol menyebabkan disinhibition. Dalam jumlah kecil, alkohol juga merupakan 'pelumas sosial'  karena membuat hidup tampak lebih mudah. Tidak terlalu rumit jika Anda melakukan hubungan sosial secara lebih baik dengan alkohol. Proses berpikir yang sangat kompleks dihambat oleh sedikit alkohol. Itulah sebabnya mengapa meminum alkohol, misalnya di malam hari, dapat memiliki efek yang berbeda pada tubuh manusia.

     Menurut Prof. Sebastian Mueller, alkohol sangat berbahaya pada saat pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan karena alkohol menghalangi dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Alkohol membuat manusia lebih mudah terserang penyakit dan juga terserang virus Covid-19. Zat yang terbentuk dalam tubuh karena konsumsi alkohol disebut Asetaldehida. Zat ini adalah zat yang dibentuk dalam tubuh melalui konsumsi alkohol, lebih tepatnya ketika alkohol diuraikan sebagai karsinogenik. Asetaldehida dapat menyebabkan kanker payudara dan kanker usus besar.

     Untuk mencegah konsumsi alkohol berlebihan menurut Prof. Mueller adalah pertama-tama, Anda harus menyadari bahwa alkohol bukan merupakan stimulan yang tidak berbahaya. Alkohol adalah racun. Oleh karena itu, kita harus menanganinya secara bertanggung jawab - karena efek formatifnya pada anak-anak pada khususnya. Sehingga satu-satunya jalan untuk mencegah korban untuk diri sendiri adalah kesadaran dan tekad memperbaiki diri sendiri. Siapapun yang memiliki masalah dengan alkohol harus segera keluar dari alkohol. Jika orang berjuang sendiri tidak mudah sebab sering diri sendiri tidak kuat harus menahan godaan untuk meminum alkohol apalagi jika godaan itu datang dari teman sendiri. Untuk itu setiap orang yang kecanduan alkohol sebaiknya harus mendapatkan pendampingan dan bantuan tenaga medis profesional untuk terapi dan detoksifikasi.

     Pengalaman dalam masyarakat tradisional mengatakan bahwa orang minum minuman keras domestik sering karena kebiasaan atau adat istiadat budaya, tetapi juga tidak jarang untuk penyelesaian konflik. Hanya saja sebaiknya siapapun yang ingin mencari alternatif untuk menghilangkan stres lebih baik memilih olahraga atau hobi lainnya yang memiliki lebih sedikit masalah dengan alkohol.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x