Mohon tunggu...
Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Mohon Tunggu... Guru dan Penulis.

Mencipta wacana bermutu dari sistem berpikir Plato dan Aristoteles. Sarjana Filsafat dari STFK Ledalero sejak tahun 2002 dan seorang guru profesional sejak tahun 2008. Email: mengkakablasius@yahoo.com. --(C)2013-2020.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Filsuf Thomas Hobbes, Kiamat Zombie dan Krisis Covid-19

9 Juni 2021   17:54 Diperbarui: 10 Juni 2021   13:29 180 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Filsuf Thomas Hobbes, Kiamat Zombie dan Krisis Covid-19
Salah satu karakter Zombie. (Gambar: vecteesy.com).

     

     Pemahaman tentang pandemi Covid-19 tidak dimengerti hanya sepintas saja. Karakter zombie sebagai budaya populer di barat harus diikutsertakan sehingga alur pemahaman tentang pandemi Covid-19 kuat berakar pada literatur-literatur dan film-film menyangkut karakter zombie     Dalam semua kondisi, para warga di benua Asia berjuang untuk hidup. Perjuangan untuk meraih hidup adalah pragmatis dan tidak butuh imaginatif. 

     Ketakutan terbesar pada manusia adalah ketakutan terhadap kematian. Sumber ketakutan besar ini mendorong manusia melakukan banyak hal yang dianggap sebagai dosa. Dosa adalah potret keburukan dalam pergulatan adegan-adegan horor dalam film zombie.

     Padahal di barat, gagasan pandemi Covid-19 terbangun dari prespektif filsafat tentang malapetaka virus zombie. Orang meyakini bahwa gagasan filsuf Thomas Hobbes masih menjiwai malapetaka  virus zombie di film-film horor.

     Di film-film horor tentang virus zombie, semangat filsuf Thomas Hobbes masih begitu kuat dianut manusia menjelang abad 21 ini. Pengandaian untuk masa depan: Jika semua virus yang telah dirilis seperti: ebola, zika, HIV/AIDS, flu burung/babi, virus Sars, dan sekarang virus Corona berada di sekitar kita, apa yang terjadi dengan manusia dan apa tindakan negara menghadapi masalah ini?

     Filsuf Thomas Hobbes berpendapat bahwa untuk memperjuangkan hak hidupnya sendiri, termasuk demi mendapatkan obat, manusia harus saling berperang. Dalam kondisi primitif ini muncul bellum omnium contra omnes (perang semua orang melawan semua orang).

     Hobbes memiliki pandangan pesimis terhadap manusia. Situasi primitif ditandai kecurigaan dan keangkuhan saling menyerang (homo homini lupus). Perang itu kemudian menyadarkan manusia terhadap salah satu ketakutan besar, yakni: ancaman kepunahan manusia. Dalam hal ini Hobbes membela abolutisme negara berdasarkan kontrak-kontrak sosial.

     Ketakutan akan kepunahannya sendiri telah menyertai umat manusia sejak keberadaannya. Di masa lalu yang kita takuti adalah kekuatan alam atau murka Tuhan. Hari ini manusia sendiri menciptakan masa depan yang tidak bisa lagi dia hentikan dan mengancam nasib spesiesnya sendiri.

     Virus zombie telah menjadi simbol ketakutan terhadap kiamat buatan manusia yang disebut petaka zombie. Siapakah di antara kita yang tidak mendapati diri untuk memikirkan apa yang harus dilakukan ketika kehidupan manusia terancam zombie? Fantasi kiamat zombie telah menggantikan keberadaan banyak fantasi hari kiamat dan telah dengan kuat memantapkan dirinya dalam budaya sehari-hari manusia.

     Dalam film 28 Days Later (2002), setelah terinfeksi, virus mengubah manusia menjadi binatang buas yang mengamuk. Hanya dalam 28 hari, Kepulauan Inggris dibiarkan dengan lanskap yang dihuni zombie dengan populasi manusia yang berkurang.

     Asal-usul zombie tetap menjadi misteri di banyak film dan serial horor. Para penyintas kebanyakan berspekulasi tentang asal-usul virus zombie dan pada akhirnya menyalahkan percobaan virus yang gagal oleh militer atau perusahaan bioteknologi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN