Mohon tunggu...
Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Mohon Tunggu... Guru dan Penulis.

Mencipta wacana bermutu dari sistem berpikir Plato dan Aristoteles. Sarjana Filsafat dari STFK Ledalero sejak tahun 2002 dan seorang guru profesional sejak tahun 2008. Email: mengkakablasius@yahoo.com. --(C)2013-2020.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Makna Nama pada Manusia Menurut Plato

5 Agustus 2020   05:51 Diperbarui: 10 Agustus 2020   01:10 52 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Makna Nama pada Manusia Menurut Plato
Naskah tua Kratylos. (Foto: Youtube).

Tema-tema tua karya Plato dan Aristoteles telah banyak diulas secara tuntas oleh Wikipedia bahasa Jerman, Inggris, Italia dan Yunani. Dalam hal ini betapa pentingnya menguasai bahasa asing. 

Salah satu karya tulis Plato yang kurang lengkap dibahas oleh Wikipedia bahasa Indonesia adalah Kratylos. Kratylos adalah salah satu karya tulis Plato yang paling sulit. Tetapi Kratylos telah menjadi rujukan bagi teori-teori tentang tata bahasa Eropa modern.

Kratylos Sebagai Perintis Teori Bahasa Modern

Dalam bukunya Kratylos, Plato menyebut gurunya Sokrates sebagai filsuf pencetus pemberian nama pada diri setiap manusia dan benda. 

Menurut Plato, nama memiliki arti penting karena makna yang terkandung di dalamnya. Bagi Plato, makna sebuah nama pada manusia adalah pengetahuan yang dapat diandalkan.

Plato menjelaskan arti penting sebuah nama pada manusia dan benda ide dalam karyanya berjudul Kratylos. Buku Kratylos dianggap sebagai salah satu karya Plato yang paling sulit. 

Sejumlah penelitian mengakui pentingnya buku Kratylos sebagai perintis filsafat bahasa Eropa. Pelbagai pertimbangan dalam dialog Kratlyos mengarah pada teori bahasa modern. Buku Kratylos berisi percakapan atau dialog antara Kratylos, Hermogenes dan Sokrates.

Kratylos Mendalami Makna Sebutan (Nama dan Kata)

Kratlyos membahas sebutan yang benar dan membahas sebutan sebenarnya. Kratylos juga memeriksa pengertian etimologis dari masing-masing kata dengan menerangi maknanya. 

Makna kata memungkinkan kesimpulan diambil tentang sifat dari hal-hal. Kratylos yakin tentang kebenaran kata-kata (naturalisme semantik). Sementara Hermogenes mengasumsikan hipotesis tentang persetujuan kata yang berubah-ubah (konvensionalisme). Sokrates mengambil pandangan kritis pada kedua konsep.

Setelah memeriksa persyaratan teoretis dan banyak contoh, Sokrates menolak asumsi bahwa istilah dan hal-hal didasarkan pada konvensi acak memiliki posisi yang berlawanan. Sokrates mengatakan bahwa semua istilah secara objektif harus "benar". 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x