Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Profesional

You can't make an omelet without breaking a few eggs. Author and teacher ---(C)2013-2018

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Mengkritisi Kebenaran Survey Lembaga-Lembaga

11 Maret 2019   20:10 Diperbarui: 13 Maret 2019   14:56 120 2 1

Hasil survey lembaga-lembaga tentang Pemilu 2019 patut dikritisi. Pertama-tama ialah soal status lembaga-lembaga yang melakukan survey. Jika lembaga-lembaga itu berada di kubu tim Jokowi tentu amat mudah mereka mengunggulkan Jokowi. 

Hal ini tentu dibaca sebagai keunggulan Jokowi yang mampu merebut simpati dari survey para lembaga itu untuk berada di pihak Jokowi. 

Pertanyaannya ialah siapakah para ahli dalam lembaga-lembaga survey yang memenangkan Jokowi? Mudah menjawabnya. Mereka adalah para ahli yang hidup dalam sebuah dunia mapan yang berada di luar massa akar rumput. Mereka digambarkan sebagai para pemilih liberal yang tidak memihak salah satu paslon atau bersifat indenpenden namun mendapatkan rezeki dari survey-survey karena ada jaminan kredibilitas dan pengaruh mereka yang besar di media-media arus utama.

Selain terdiri dari para pemilih beridiologi liberal, para analis survey-survey yang memenangkan Jokowi ialah kaum kosmopolitan di gedung-gedung bertingkat di berbagai kota metropolitan dan kota megapolitan. Mereka mampu mempengaruhi opini masyarakat melalui akses mereka yang mudah di media-media online dan media-media cetak.

Kesimpulan kecil yang dapat dipetik dari tema ini adalah bahwa Jokowi yang punya modal besar hasil sumbangan berbagai kalangan kaya di Indonesia amat mudah membuat lembaga-lembaga yang dikelola kaum liberal dan kosmopolitan menjadi mesin-mesin yang tangguh bagi elektabilitas Jokowi seperti yang terjadi pada Pilpres 2014 lalu. Uang sumbangan kampanye dari orang-orang kaya untuk Jokowi tentu berimbas pada proyek-proyek berskala besar yang akan mereka terima pasca Pilpres jika Jokowi menang.

Capres Prabowo sejak Pilpres 2014 sepertinya tak mampu mengendalikan dan menguasai survey lembaga-lembaga yang dikelola oleh para pemilih liberal dan kosmopolitan ini. Hal iniu antara lain disebabkan kesulitan dana. Terbukti, banyak relawan Prabowo setelah Pilpres 2014 berdemo karena tidak dibayarkan honorariumnya oleh Prabowo setelah Pilpres 2014. 

Hal yang sama mungkin sedang terjadi dalam kampanye Pilpres menjelang Pemilu 2019. Hal lain ialah ketidaksesuaian hasil survey dengan hasil Pilpres. Pada hasil Pilpres 2014, ternyata Jokowi-JK hanya unggul sekitar 8 juta suara di atas paslon Prabowo-Hatta, tak sebesar selisih suara seperti yang telah digembor-gemborkan survey lembaga-lembaga saat itu. 

Kemungkinan masalah keuangan bisa membawa dampak tak kecil bagi Prabowo. Sebab tak ayal kubu Prabowo pun geram, menuding lembaga survei bermacam-macam sebagai partisan hingga tak berdasarkan fakta. Juga tak ketinggalan mengklaim, survei internalnya lebih kredibel, bahwa suara Prabowo sudah unggul jauh atas Jokowi.

Saat Prabowo bangkit dalam elektabilitas, Prabowo mengahadapi gelombang kemapanan yang telah dibangun kubu Jokowi. Mereka yang merasa sudah mapan dengan Jokowi tak mau turun pangkat atau beranjak dari posisi mereka yang nyaman. Salah satu caranya ialah mereka akan seperti maling berteriak maling dalam hal hoax.

Pemilu 2019 adalah hakim yang akan menentukan apakah mereka tetap berada dalam posisi nyaman ataukah memberi tempat bagi kubu Prabowo. Sungguh, persaingan Pemilu antara 2 Paslon makin tak menentu dan sulit diprediksi secara akurat. Yang perlu dibuat ialah hanya menunggu waktu Pemilu 2019!***

Sumber:

1.Mengkaka, Blasius, Mempertimbangkan Faktor Ekonomi Dalam Pemilu 2019: Wawancara Dengan Prof. Colin Brown (UC News), diakses pada 11/03/2019

2. Mengkaka, Blasius, Menganalisis Faktor Ekonomi di Balik Keterpilihan Sandiaga Jadi Cawapres di Pilpres 2019 (UC News), diakses pada 11/03/2019

3.How The Economy Factors Into Indonesia's Elections (thediplomat.com, Pebruary 20, 2018)- An interview Anthony Fensom with Prof. Colin Brown, diakses pada 11/03/2019

4. Honor Belum Dibayar, Ratusan Relawan Prabowo-Hatta di Jember Kecewa (Tribunnews, 07/07/2014), diakses pada 11/03/2019

5. Prasetya, Mohammad, ICW: Dana Kampanye Pilpres, Prabowo Rp 116 M dan Jokowi 312 M (Merdeka.com, 15/12/2014), diakses pada 11/03/2019

6. Rincian Sumbangan Dana Kampanye Pilpres dan Partai Pemilu 2019 (Tempo.com, 03/01/2019), diakses pada 11/03/2019

7. Bawaslu Sebut Prabowo Dapat 3 Fasilitas Negara Saat Kampanye (Tempo.co, 06/03/2019), diakses pada 11/03/2019