Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Guru

Penulis warga (C)2013-2017

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Pendapat 3 Pakar Bencana Internasional tentang Bencana Alam di Sulteng

5 Oktober 2018   20:02 Diperbarui: 7 Oktober 2018   16:13 3196 3 1
Pendapat 3 Pakar Bencana Internasional tentang Bencana Alam di Sulteng
Peta teluk Palu yang sempit (Foto: Kabari.co)

Bencana alam yang terjadi di Palu adalah bencana alam ganda. Mula-mula gempa berkekuatan sekitar 7,6 skala richter, setelah 30 menit kemudian muncul tsunami dengan ketinggian air 6 meter bercampur lumpur tebal. Hingga saat ini bencana itu telah menyebabkan lebih dari 1400 korban tewas dan ribuan korban hilang.

Prof Phil Cummins - duduk di kanan (Foto: sciencewisu.anu.edu.au)
Prof Phil Cummins - duduk di kanan (Foto: sciencewisu.anu.edu.au)

Artikel ini disusun berdasarkan hasil perbincangan wartawati Guardian, Hannah Ellis-Peterson bersama Prof. Dr. Phil Cummins, seorang profesor bencana alam dari Australian National University, Adam Switzer, Ketua Sekolah Lingkungan Asia di Nanyang Technological University di Singapura, dan Dr Kerry Sieh dari Observatorium Bumi Singapura.

Apa yang menyebabkan bencana ganda: gempa dan tsunami?

Penyebab bencana ganda di Palu dan Donggala sejauh ini masih berada dalam tahap penelitian, karena bencana ganda berupa gempa dan tsunami jenis ini dengan kekuatan besar tersebut tidak biasa terjadi. 

Hingga saat ini, para ilmuwan masih mencoba untuk menentukan penyebab pasti. Gempa Palu adalah jenis gempa yang tidak biasa menyebabkan kehancuran sebegitu besar.

Sebagaimana diketahui bahwa kekuatan gempa Palu terjadi pada Jumat (28/09/2018) pagi itu bukan merupakan jenis gempa dorong.

Jenis gempa dorong adalah jenis gempa yang menyebabkan terjadinya sebagian besar tsunami, di mana lempeng tektonik bergerak secara vertikal naik dan turun dan mendorong air.

Gempa Palu baru-baru ini disebabkan oleh apa yang dikenal sebagai kesalahan strike-slip, di mana lempeng tektonik bergerak secara horizontal.

Menurut Phil Cummins, profesor bencana alam di Australian National University, seperti dikutip Guardian (02/10/2018), gempa bumi jenis ini biasanya hanya menyebabkan tsunami yang sangat lemah.

Herannya bahwa gempa bumi Palu pada Jumat (28/09/2018) justru bisa menyebabkan tanah longsor bawah laut berkekuatan besar yang mendorong dan menggantikan air.

Tanah longsor bawah laut ini bisa saja terjadi di teluk Palu, dekat dengan pantai, atau lebih jauh ke laut.

Biasanya tsunami disebabkan oleh gempa bumi ratusan mil dari pantai, dan daya goncangan atau daya gemetarnya sangat jarang dirasakan di darat.

Seperti yang dicatat oleh Prof. Phil Cummins, "Adalah tidak biasa untuk melihat bencana ganda seperti ini."

Untuk itu, menurut Cummins, dibutuhkan beberapa bulan penelitian lapangan dan eksplorasi bawah air untuk menentukan penyebab pastinya.

Alat pendeteksi gempa dan tsunami (Foto: Tirto.id)
Alat pendeteksi gempa dan tsunami (Foto: Tirto.id)

Jenis sistem peringatan dini apa yang ada dan apakah sistem peringatan dini telah gagal?

Jelas bahwa terdapat anggapan yang mengklaim bahwa Badan Meteorologi dan Geofisika Indonesia (BMKG) mungkin telah menghapus peringatan tsunami terlalu dini, sebelum gelombang menghantam pantai Palu. Sehingga dengan demikian BMKG dianggap perlu bertanggung jawab atas beberapa korban jiwa.

Selain itu terdapat klaim yang mengatakan bahwa pelampung laut yang mendeteksi gempa bumi dan tsunami sebagai bagian dari sistem peringatan dini belum diperbaiki selama enam tahun dan sementara rusak.

Padahal untuk mendeteksi gempa bumi dan tsunami di Indonesia, BMKG memiliki 33 stasiun geofisika di seluruh Indonesia.

Selain itu, BMKG juga memiliki 285 alat untuk memonitor gempa antara lain seismometer, demikian Tirto.id (19/12/2017). 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo P Nugroho pernah mengatakan bahwa banyak alat sensor gelombang tsunami di lautan Indonesia rusak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2