Edukasi

Mengidentifikasi Keberhasilan Siswa dalam Pelaksanaan BK di Sekolah

15 Oktober 2018   21:31 Diperbarui: 15 Oktober 2018   21:52 324 1 0
Mengidentifikasi Keberhasilan Siswa dalam Pelaksanaan BK di Sekolah
barangpasar.com

Sebuah program pelaksanaan memang tidak jauh dari kata asesment yang menjadi peran penting utama dalam mencapai keberhasilan suatu program layanan bimbingan konseling tersebut, sehingga perlu kita ketahui bahwa tanpa adanya sebuah asesment maka tidak mungkin kita mengetahui serta bagaimana cara mengidentifikasi dengan baik suatu keberhasilan atas terlaksananya sebuah program yang sudah direncanakan.  

Sebagaimana pada hakikatnya dalam asessment tersebut adalah sebagai hasil usaha untuk mengetahui sejauh mana kita melaksanakan program yang telah ditentukan tersebut dalam mencapai sebuah tujuan awal yang sudah ditetapkan. 

Pada garis besarnya yang disebut dengan suatu keberhasilan yang tercapai pada program tersebut dalam mencapai tujuan itu sebagai salah satu kondisi yang akan kita lihat maupun telaah dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran.  

Asesment dalam kegiatan pelayanan di bidang bimbingan konseling di setiap sekolah yang biasa disebut berupa segala bentuk usaha, suatu tindakan untuk mencapai bagaimana proses yang digunakan dalam menentukan masing-masing derajat dalam mencapai lebel kemajuan di setiap kegiatan yang selalu berkaitan dengan pelaksanaan program di sekolah yang berpacu pada kriteria dan patokan tertentu yang harus sesuai dengan program kegiatan yang dilaksanakan. 

Maksud dari kriteria dan patokan-patokan yang digunakan untuk mengukur nilai keberhasilan dalam pelaksanaan setiap program bk di sekolah yaitu  yang mengacu pada data terpenuhi atau tidaknya kebutuhan masing-masing peserta didik atau pihak yang ikut serta baik secara langsung maupun tidaknya untuk mendapatkan sebuah perubahan baik dalam hal tingkah laku serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Dalam mencapai keseluruhan penilaian yang sangat perlu untuk mendapatkan umpan balik mengenai keefektifan dalam program pelayanan bk yang telah dilaksanakan. Dengan memperoleh informasi tersebut juga perlu diketahui bahwa sejauh mana sebuah proses keberhasilan dapat diaplikasikan langkah untuk menindak lanjuti dan mengembangkan program yang lainnya. 

Asesmen yang harus dikembangkan yaitu pada umumnya asesmen yang berbentuk secara baku serta meliputi beberapa dari berbagai macam aspek yang mana berupa kognitif, afektif, dan psikomotor yang perlu dipahami dari segi kompetensi dengan memakai indikator-indikator yang sudah ditetapkan serta dikembangkan oleh Guru bimbingan konseling atau biasa disebut sebagai konselor sekolah.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa pada umumnya dalam mengenai asesmen bimbingan konseling juga dapat dilaksanakan dalam bentuk seperti laporan diri, atau sebagai performance test, biasanya juga dilakukan dalam bentuk tes psikologis, observasi atau wawancara, dan lain sebagainya.

Pada hakikatnya dalam pelaksanaan kegiatan asesmen yang paling penting untuk diperhatikan yaitu harus dilakukan secara berhati-hati dan harus sesuai pada kaidahnya, kenapa? 

Karna ketika seorang asesmen melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi suatu masalah yang kurang memadai itu akan memicu atau penyebab dari gagalnya treatmen yang sifatnya merugikan pada klien. 

Begitu juga sebaliknya bukan berarti seorang konselor harus melakukan penilaian dengan semua sisi dari latar belakang maupun situasi yang dialami klien saat itu. Untuk itu setiap guru bimbingan konseling perlu berpegang teguh pada pedoman dalam pertanyaan sebelum dilakukannya assesmen, misalnya pertanyaan ''apa saja yang harus saya ketahui mengenai diri klien? Kurang lebih seperti itu pertanyaan yang relevannya.

Adapun juga beberapa fungsi dari asesmen, yaitu untuk mendorong klien atau konselor sendiri dari berbagai isu dalam permasalahan tersebut, mampu menjelaskan fakta dari masalah tersebut, memberi solusi dari masalah yang dihadapi, serta menyediakan suatu metode tertentu yang berguna untuk membandingkan sehingga dapat diambil sebuah keputusan tersebut, mengadakan evaluasi dari kegiatan evektivitas konseling.

Selain itu asessment juga mempunyai ikatan yang sangat penting dengan sebuah perencanaan dalam pelaksanaan di berbagai model pendekatan konseling, yang mempunyai makna besar bahwa sebuah asesmen tidak hanya meninjau pada hasil, akan tetapi tebih berfokus dengan sebuah proses konseling tersebut, yang intinya harus ada keseimbangan antar keduanya dari proses maupun hasil, sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan kemampuan potensi diri klien tersebut.

Perlu diketahui bahwa semua sesuatu yang memberikan petunjuk maupun keterangan bukan diukur dengan bentuk soal dalam pembelajaran, akan tetapi cara mengukur yaitu secara kualitatif, dan hasilnya kemudian dianalisis, setelah itu melihat apa saja kendala dari masalah klien untuk mengambil keputusan yang benar. Selanjutnya yaitu membahas ruang lingkupnya yaitu, sistem dari asessmen, program planning atau perencanaan, program implementasi untuk menilai, program perbaikan, program certification yaitu akhir dari kegiatan atau evaluasi,

Berikutnya Apapun bentuk maupun jenis dari asesmen yang sudah dilakukan tersebut, yang pastinya masih menuntut suatu program perencanaan, apalagi saat melakukan analisis. Dengan seperti itu maka akan didapatkan sebuah alat ukur maupun instrumen yang bisa diandalkan secara benar (valid)  serta dapat atau mudah  dipercaya (reliabel) ketika dalam kegiatan mengukur yang seharusnya diukur. langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam melakukan kegiatan asesmen yaitu:  

Perencanaan 

Pertama, berawal dari sebuah perencanaan. Aspek dalam perencanaan tersebut yaitu dengan terfokus pada tanda dari klien. Dalam bentuk keberhasilan konseling, maka seorang klien mampu bekerjasama baik dengan konselor.

Kedua, memilih alat yang akan dipakai. Misalnya seperti menggunakan tes psikologi, observasi dan lain sebagainya, sesuai dengan klien yang di assessment.

Ketiga, penetapan waktu. Yaitu kapan yang tepat dalam melakukan asesmen. Misalnya menggunakan tes psikologi dan kebetulan konselor tidak mempunyai kewenangan, maka konselor dapat meminta orang yang mempunyai kewenangan untuk membantu.

Keempat, validitas dan reliabilitas. Maksudnya yaitu ketika alat yang digunakan itu buatan sendiri maka alat tes tersebut perlu adanya uji validitas dan reliabilitas, begitu sebaliknya apabila menggunakan alat tes yang sudah di standarkan, maka tidak perlu adanya untuk mencari sebuah validitas maupun reliabilitasnya, karena sudah jelas dalam memenuhi syarat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2