Mohon tunggu...
Muliadi Akbar
Muliadi Akbar Mohon Tunggu... Guru - Guru, dosen, Tutor, Pegiat literasi, Bloggers

Guru Matematika yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tanjakan Pangi

17 November 2022   20:52 Diperbarui: 18 November 2022   05:12 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tolitoli, 16 Nopember 2022
Oleh: Muliadi

Sekitar pukul 07.00 WITA saya berangkat menuju desa Maebua I Kecamatan Lampasio. Tujuan perjalanan, anda sudah tahu. PI 5. Ini hari ke tiga dan pendampingan ke 3. Jadwal hari ke 3 itu SMP Negeri 4 Lampasio. Yang mengatur jadwal kali ini, CGP. Biasanya saya sebagai PP yang menjadwalkan. Ini aktualisasi dari kolaborasi dan demokrasi. Begitulah kemitraan PP dan CGP.

CGP yang saya dampingi memberitahukan via WA kalau dia akan menumpang. Dia tidak bisa naik motor sendiri. Jalanan licin katanya Sebelumnya memang Tolitoli dan sekitarnya diguyur hujan.

Melalui pendakian terjal Pangi adalah satu-satunya akses menuju wilayah Kecamatan Lampasio dari Kota Tolitoli. Pendakian pangi sepintas tidak terlalu ekstrim. Tetapi kasus kecelakaan yang terjadi sudah tidak terhitung. Berbagai jenis kenderaan. Berat atau ringan. Jungkir balik di jalur ini.

Hari itu, saat kami berangkat, kejadian kecelakaan terjadi lagi. Sebuah kenderaan pick up dengan muatan penuh melintang menghantam bibir gunung. Kap mesin mobil terbuka. Menganga menghadap gunung. Bemper depan sudah pasti penyok. Syukur muatannya tidak sampai tumpah. Sopir dan penumpangnya sepertinya juga tidak sampai terluka.

Beberapa kenderaan berhenti. Sejumlah orang memperhatikan situasi mobil. Kami memilih melanjutkan perjalanan. Berhenti bukan pilihan tepat. Situasi jalan menanjak. Bisa-bisa mobil kami kesulitan naik. Belum lagi jalan sempit. Dapat menghambat kenderaan lain yang akan melintas. Selain itu kami juga harus sampai di sekolah lebih pagi. Jalan ke Maebua bukan jalan normal. Anda sudah tahu. Selain berlubang bak kubangan. Juga banyak tanjakan dengan jalan berbatu bergelombang. Laju kenderaan harus pelan. Makan waktu.

Lebih dari satu jam perjalanan, kami akhirnya sampai di sekolah tujuan. Ini kelima kalinya saya mengunjungi sekolah ini. SMPN 4 Lampasio. Alhamdulillah setiap kunjungan, sungai yang harus dilewati selalu tidak sedang banjir. Aman. Meski harus melewati jembatan ambruk.

Saya memulai pendampingan setelah meminta izin kepada kepala sekolah. Seorang srikandi muda. Belum menikah. Sengel. Lebih mudah dari CGP yang saya dampingi. Tetapi sama-sama lajang. Keduanya juga berlatar keilmuan fisika. Kepsek muda fisika kebumian. Sedangkan CGP muda, fisika instrumen. Begitu kata bu kepsek kepada saya. Semoga saja saya tidak salah. Keduanya berasal dari almamater yang sama. Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI Bandung. Fisika murni. Bukan pendidikan. Tapi akhirnya berkiprah juga di dunia pendidikan.

Pendampingan kelima fokus pada Refleksi penerapan aksi nyata modul 3.1. Diskusi rancangan program yang berdampak pada murid, dan Diskusi perkembangan komunitas praktisi yang dijalankan di sekolah serta implementasi dari rencana di lokakarya 3 untuk berbagi ke rekan sejawat. Yang tidak kalah penting saya harus menilai Keterampilan coaching untuk supervisi akademik.
 
PP perlu mengajak CGP berdiskusi dan berefleksi atas sejumlah materi dan aksi nyata yang telah dijalani. Hal ini penting untuk membantu CGP memaksimalkan perannya sebagai agen perubahan. Jangan sampai pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh melalui pendidikan Guru penggerak menguap begitu saja. Tidak berdampak. Kan jadi sayang programnya. Sudah dirancang sedemikian rupa, tetapi sia-sia. Makanya kehadiran PP menjadi sangat bermakna. Selain sebagai mitra berbagi dalam peran coach. Juga bisa sebagai mentoring, pemantau dan penilaian keberhasilan program.

Sesi coaching dan penilaian praktik coaching dalam supervisi akademisi menjadi kegiatan akhir PI 5. Sesaat setelah selesai kami langsung pulang. Seperti biasa, kami harus melalui tanjakan ekstrim Pangi. Waktu menanjak dari arah Tinading. Tidak ada kejadian apa-apa. Tinading itu Desa di kecamatan Lampasio yang letaknya tepat di jalan poros Palu Tolitoli. Mobil meluncur perlahan, tetapi lancar.

Namun saat mobil mulai menurun. Melewati mobil pick up yang menghantam bibir gunung. Kira-kira 250 meter dari kecelakaan pertama. Sebuah kenderaan truck bermuatan aspal sedang terbaring melintang diatas aspal. Lagi-lagi terjadi kecelakaan. Bagian depan mobil hancur. Semoga saja sopir atau keneknya selamat. Mobil melintang mengambil sebagian besar jalan. Untung saja masih menyisakan sedikit jalan yang bisa dilewati mobil lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun