Cerpen highlight headline

Cerpen | Mbok Darmi

15 Mei 2017   10:56 Diperbarui: 16 Mei 2017   20:34 896 15 5
Cerpen | Mbok Darmi
Ilustrasi/Kompasiana (kfk.kompas.com/Tiwuk Suwantini)

Mbok Darmi menyusuri tepian jalan raya yang makin ramai karena mulai banyak anak yang berangkat sekolah, orang yang pergi ke kantor, pedagang yang berbelanja, dan mobil-mobil yang berlalu lalang. Sesekali Mbok Darmi mengusap peluhnya yang mengalir walau hari masih pagi. Bahkan embun pun masih enggan beranjak dari kaki langit.

Di gendongannya bergayut tumbu berisi jajanan cenil di baskom plastik. Di bagian sisi lainnya ada kelapa parut dan air gula merah dalam toples plastik juga. Di bawahnya ada daun pisang yang telah disobek menjadi lembaran-lembaran dan telah dilap bersih. Ada juga lidi penyemat dalam plastik yang sudah dipotong-potong runcing, juga beberapa gulung daun pisang.

Setiap hari, hujan panas bukan halangan, Mbok Darmi membawa dagangannya itu ke pasar. Walaupun di sepanjang jalan yang dilaluinya, selalu ada yang membeli. Cenil Mbok Darmi sudah lintas generasi. Karena profesinya itu sudah dijalaninya sejak anak-anaknya masih sekolah, dan sekarang mereka sudah menjadi orang sukses. Ada yang menjadi pegawai, pengusaha lokal, dan karyawan. Tapi Mbok Darmi tak mau berhenti. Julukan Mbok Cenil, dan sekarang menjadi Mbah Cenil sangat membanggakannya.

Meski sudah tua, Mbok Darmi tampak masih sehat. Otot kakinya telah terlatih berjalan jauh. Demikian juga jantungnya. Bahkan ketika menjadi tamu Allah di Baitullah, ia tak menghadapi rintangan apa pun. Sejak berangkat sampai pulang, kesehatannya selalu fit. Sedangkan mereka yang seusianya banyak yang harus mendapatkan perawatan karena cuaca yang ekstrem dan makanan yang tak sesuai.

Ya, Mbok Darmi memang sudah hajjah. Namun, ia sama sekali tak mau berhenti menjadi penjual makanan kecil yang terbuat dari tepung tapioka itu. Baginya, berjualan adalah kehidupannya. Bila ia dilarang oleh anak-anaknya, berarti itu menyuruhnya untuk mati pelan-pelan katanya. Mbok Darmi tak mau tinggal dengan anak-anaknya, ia memilih tinggal sendiri di rumah berukuran 6x7 m, yang sederhana. Sehari-hari ia ditemani TV. Untuk nonton sinetron dan pengajian katanya.

“Mbah... beli cenilnya,” seorang wanita dengan pakaian necis menuntun anak kecil yang berpakaian seragam TK memanggilnya. Si anak menampakkan ekspresi wajah yang tak suka.

“Oh ya, Den...,” Mbok Darmi menghampiri dan menurunkan tumbunya, ”Berapa, Den?” lanjutnya ramah.

“Jangan panggil Den to, Mbok, eh Mbah... aku ini Dini alias Dono yang dulu selalu langganan tiap pagi itu lho... anaknya Pak Rejo,” Dini berjongkok menyalami Mbok Darmi dan berniat mencium tangannya, tapi Mbok Darmi menarik tanggannya, “Saya selama ini di Jakarta, baru beberapa hari ini tinggal di sini, menemani Ibu, kasihan sudah sakit-sakitan,” Mbok Darmi berusaha mengingat-ingat. Ia jadi bingung karena pembelinya tidak segera memesan tapi malah mengajaknya ngobrol.

“Oooh, yang tak pernah pakai rok dan selalu memesan cenil dari atas pohon rambutan depan rumah itu ya?” Wajah Mbok Darmi semringah berhasil mengingat pelanggannya yang aneh itu.

“Betul, Mbok. Mbok ini hebat, ingatannya canggih hahaha... bungkuskan lima ribu, Mbok!”

“Oh njeh... njeh.... Walah ra nyangka, dadi ayu tenan, betul-betul pantas menjadi Dini sekarang, Mbok pangling. Duh cah ayu, iki anakmu?” dibelainya anak kecil itu.

Injeh Mbok,” Dini memberi isyarat kepada anaknya untuk menyalami Mbok Darmi. Cinta dekat takut-takut menyalami Mbok Darmi.

“Cah ayu, siapa namanya?”

“Cinta, Mbah.”

“Pinter, Ndok dibungkus semua atau dipincuk?

“Terserah Mbah ajalah,” Cinta bingung ditanya, karena jajanan itu belum pernah dimakannya.

“Ndok Dini, anakmu pinter tenan.

Dengan cekatan, Mbok Darmi segera membungkus cenil menjadi beberapa bungkus. Tangannya yang kurus dan urat-uratnya yang menonjol tampak sangat terampil.

Pincuknya satu, Mbok. Rasanya saya langsung bernostalgia ke masa kecil lho, Mbok, melihat dan mencium aroma cenil ini.”

Mbok Darmi tersenyum.

“Masih selalu ke pasar dan jalan kaki begini, Mbok? Mengapa tidak istirahat saja, bermain dengan cucu mungkin lebih menyenangkan? Kan capek to Mbok jalan kaki terus.”

“Anak sekarang itu kalau bermain, mereka punya dunia sendiri. Duduk di depan TV berjam-jam atau mainan TV kecil yang bisa dibawa ke mana-mana. Mbok jadi merasa tidak dianggap ada. Lha kalau jualan begini, kan Mbok bisa olahraga, senang ketemu teman-teman di pasar atau seperti sekarang ini, bertemu dengan langganan puluhan tahun yang lalu,” Wajah Mbok Darmi jelas terlihat bangga. ”Urip ki sedermo nglakoni, jadi selama masih bisa melakukan sesuatu untuk hidup ini, Mbok tak akan membebani orang lain.”

“Meskipun itu anak-anak Mbok sendiri?”

“Mbok dulu mendidik mereka untuk mandiri dan berusaha berdiri di kaki sendiri, sekarang mereka sudah hidup enak, punya pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan kemampuan masing-masing, Mbok bersyukur kepada Gusti Allah. Tanggung jawab dan amanah yang diberikan oleh mendiang suami Mbok dulu sudah Mbok laksanakan. Sekarang tinggal tanggung jawab untuk Mbok sendiri. Dan Mbok masih mampu. Alhamdullilah, Ndok.”

“Tapi hasilnya kan sedikit dan tidak sesuai dengan capeknya, Mbok?”

“Yang mengetahui sedikit-banyak, sesuai dan tidak sesuai itu kita sendiri. Mbok ini kan sudah tua, butuh makannya sudah tidak seperti dulu. Makanan enak dan mahal sudah tidak bisa tergigit atau dinikmati lagi. Kalau masih muda dulu, Mbok ini untuk makan susah nyarinya, lah sekarang susah untuk makannya. Hahaha.... Sehari secanting saja tidak pernah habis,” seloroh Mbok Darmi tertawa renyah, tampak giginya yang sudah tinggal beberapa.

Ada kebahagiaan yang terpancar dari tawanya yang lepas. Hal yang tak pernah dilihatnya di wajah ibunya yang sebenarnya usianya lebih muda dari Mbok Darmi. Ada pelajaran berharga yang diambilnya pagi ini dari tukang cenil, bahwa hidup itu harus berarti, minimal untuk dirinya sendiri. Untuk hidup bahagia harus selalu bersyukur dan dapat menemukan cara hidup bahagia sesuai dengan sudut pandangnya sendiri. Karena kebahagian sebenarnya tidak dapat berikan atau diminta, tapi ditemukan sendiri.

“Mbok pamit, Cah Ayu, mau ke pasar dulu, keburu siang,” Mbok Darmi tersenyum.

Monggo Mbok.”