Ram Tadangjapi
Ram Tadangjapi Wiraswasta

Kutu Buku, Penggila Film, Penikmat Musik

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Resensi Film Seven Pounds (2008)

22 April 2018   21:53 Diperbarui: 17 Juli 2018   23:02 762 0 0
Resensi Film Seven Pounds (2008)
Poster Film Seven Pounds (2008)

Ben menelpon 911 dengan gugup, dia melaporkan tentang adanya kasus bunuh diri, saat ditanya oleh operator telpon 911 siapa korbannya dia menjawab "saya".

Ben mengalami trauma akibat kecelakaan saat mobil yang dikendarainya menyerempet sebuah mobil penumpang sehingga merenggut nyawa istrinya dan tujuh orang lainnya. Ben lalu memutuskan untuk melakukan semacam "penebusan dosa" dengan mendonorkan bagian penting tubuhnya, mulai dari paru paru yang ia donorkan ke adiknya, kemudian ginjal, liver, dan sumsum tulang yang ia donorkan ke tiga orang berbeda. Tak hanya itu, ia juga memberikan rumah mewahnya ke seorang wanita dengan dua anak yang kerap disiksa oleh pacarnya. Terakhir dia ingin mendonorkan mata dan jantungnya, untuk itulah dia mencari orang yang pantas untuk menerimanya.

Ben pun memilih Ezra (Woody Harrelson) seorang customer care buta namun pandai bermain piano, dan Emily (Rosario Dawson) seorang wanita yang memiliki kelainan di jantung. Tanpa mampu dikendalikan Ben, ia pun jatuh cinta pada Emily, disaat itulah keadaan dilematis membuatnya memilih antara tetap mendonorkan jantung dan matanya atau hidup bersama Emily.

Rosario Dawson dan Will Smith
Rosario Dawson dan Will Smith
Secara drama film besutan Gabriele Muccino ini sangat memikat, ditunjang pula dengan akting Will Smith yang kali ini lebih kalem tanpa ada menggunakan kalimat kalimat makian seperti biasanya ia gunakan di film filmnya yang lain. Kejutan-kejutan di film ini pun cukup sulit ditebak, baru menjelang akhir film kita mengetahui siapa sebenarnya Ben dan apa hubungannya dengan identitas adiknya. Meskipun banyak hal yang agak kurang rasional, seperti bagaimana Ben bisa bertahan hidup dengan kondisi sudah kehilangan organ penting bagian dalamnya?.

Film ini seakan mengetuk sebuah pertanyaan di dalam diri saya pribadi: apakah ada manusia seperti Ben di dunia nyata?