Mohon tunggu...
Agung Setiawan
Agung Setiawan Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Pribadi yang ingin memaknai hidup dan membagikannya. http://fransalchemist.com/ | @fransalchemist | fransalchemist@gmail.com "To love another person, is to see the face of God."

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Cerita Batik Tiga Negeri: Pewarnaan dari 3 Kota, Seharga 2 Sapi, sampai Merah Darah Ayam

30 Juni 2019   07:10 Diperbarui: 7 Maret 2020   16:03 833 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerita Batik Tiga Negeri: Pewarnaan dari 3 Kota, Seharga 2 Sapi, sampai Merah Darah Ayam
Mempelajari motif batik dan membelinya di rumah Bapak Sigit Witjaksono di Lasem | Foto Cynthia Iskandar

Hari semakin senja, badan terasa begitu lepek. Apalagi seharian perjalanan dari Jakarta, belum juga melepas lelah. Ditambah dengan udara kersang khas Pantura. Sisa energi yang ada, dipakai untuk menyalurkan rasa penasaran pada Batik Lasem di Tiongkok Kecil Heritage, Lasem, Jawa Tengah.

Batik sendiri telah menjadi identitas asli Indonesia. Bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Yang menarik, Batik Lasem sangat kental dengan sentuhan budaya Tiongkok. 

Hal ini tidak mengherankan, karena menurut catatan National Geographic Indonesia, pada abad 19 sampai awal abad 20 Lasem menjadi tempat jumlah etnis Tionghoa terbesar ketiga setelah Batavia dan Semarang. Nenek moyang mereka datang dari pesisir pantai selatan Tiongkok yakni Fujian dan Guangdong. 

Sejarah yang dicatatkan kembali oleh National Geographic Indonesia, menyebutkan teknik membatik di Lasem diperkenalkan pada abad ke-15 oleh Si Putri Campa, istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Cheng He (1405-1433). 

Dalam perkembangannya, batik menjadi industri paling maju setelah candu. Puncak kejayaan batik sekitar 1860-an, yang mana banyak orang Tionghoa mendirikan perusahaan batik, yang memperkerjakan 2.000-an pekerja untuk proses artistik dan 4.000-an pekerja untuk proses lainnya. Kain Batik Lasem bahkan diekspor ke Singapura dan Sri Lanka.

Batik Lasem dari sisi industri mengalami pasang-surut. Tetapi dari sisi identitas, semakin terjal melangkah dalam derap zaman, identitasnya justru semakin nyata. 

Batik telah membuktikan bahwa dirinya sudah menjadi simbol perpaduan budaya, jejak sejarah peradaban, kerukunan dan persatuan bangsa, toleransi tiada batas, yang semuanya mengarah pada jati diri Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seorang pemandu di Tiongkok Kecil Heritage menjelaskan panjang lebar tentang Batik Lasem. Sayang saya lupa namanya. Sebelum masuk ke area penginapan Oemah Batik Lasem yang menjadi pusat Tiongkok Kecil Heritage, kami melewati semacam lorong yang berisi koleksi kain batik tulis yang dibuat oleh para sesepuh pembatik di Lasem. Di sinilah kami dijelaskan motif-motif khas Batik Lasem sekaligus makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

Motif Batik Tulis Lasem
Batik Lasem Motif Beras Utah atau bahasa Indonesianya beras tumpah/tercecer. Warna biru soga dan hitam dari motif ini saling berpadu indah memancarkan keteduhan dan ketentraman hati. 

Mengangkat motif beras menandakan bahwa sejak dulu negara kita terkenal dengan pertanian. Produk agraria menjadi salah satu tolok ukur kemakmuran yang sekaligus menjadi doa bagi siapa saja yang memakai batik dengan motif ini.

Batik Lasem Motif Gunung Ringgit adalah salah satu motif klasik. Makna motif ini adalah kekayaan yang dilambangkan dengan ringgit dan kekayaan itu menggunung atau berlimpah. Bisa jadi, ide awal dari penciptaan motif ini adalah refleksi dari asa untuk menjadi kaya raya atau memiliki harta berlimpah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x