HIGHLIGHT

Penjajahan Belanda: Musibah atau Anugerah?

02 November 2009 15:59:00 Dibaca :

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Mata pelajaran sejarah perjuangan bangsa yang diajarkan di sekolah sekolah kita penuh dengan doktrnasi yang tidak wajar. Terutama dalam menempatkan Belanda sebagai penjajah, dengan konotasi kejam, jahat, licik, tamak dan seterusnya, sampai rasanya tak ada tempat sedikitpun bagi penjajahan itu satu ruang untuk bias lepas dari dosa dan neraka hujatan. Dan sebaliknya menempatkan posisi bangsa Indonesia sebagai mulia, tinggi dan halus budi pekerti, heroic dan berjuang penuh pengorbanan dan seterusnya. Tapi benarkah demikian?


Mari kita tinjau, yang paling awal adalah pertanyaan apakah bentuk Negara atau pemerintahan yang ada di negeri kepulauan nusantara ini kalau tanpa kehadiran penjajahan Belanda pada akhir abad ke 16 itu? Yang jelas bukan Indonesia yang sekarang ini. Nusantara ini akan terdiri dari kerajaan kerajaan kedaerahan yang kecil, yang saling serang atau berperang memperebutkan wilayah kekuasaan. Kalau ada yang besar pun sangat mungkin adalah mereka yang berani bekerja sama dengan pihak asing yang kekuatan militernya lebih digdaya dan tentu saja dengan kompensasi tertentu. Kompensasi itu untuk beberapa alas an, ya penjajahan juga lah namanya. Dan ini mungkin yang terjadi pada masa itu, diawali dengan proses mencari rempah untuk diperdagangkan, kemudian berebut pengaruh dengan penguasa local dan perebutan juga terjadi antar sesama pedagang pendatang, kemudian diikuti dengan pengerahan militer dari masing masing negeri pendatang. Lalu dibumbui pula dengan pecahnya kerajaan kecil yang berebut kekuasaan, yang sepihak minta dukungan militer pendatang, yang satunya lagi bertahan. Dan hamper dapat dipastikan, bahwa yang mendapat bantuan asinglah yang keluar srbagai pemenang, dan dapat kompensasi hadiah berupa hak monopoli perdagangan dan seterusnya dimulailah penjajahan itu.


Proses ini berlanjut terus dan meluas keseluruh nusantara, hanya dibatasi oleh sesama mereka, bahwa daerah yang satu sudah lebih dulu dikuasai pesaing mereka ( kebetulan sama sama dari Eropa : Belanda, Inggeris, Portugis dan Spanyol ). Bukan tidak terjadi perang, tapi lebih banyak diselesaikan secara diplomatik di negeri asal mereka di Eropa sana. Merekalah yang membagi, batas Indonesia ini dengan Malaysia, Pilipina, Timor timur dan sebagainya.


Simpulnya, penjajahan adalah sebuah proses alamiah, bukan sepenuhnya proses eksploitasi atau keculasan. Kedua bahwa penjajahan bukanlah sepenuhnya inisiatip penjajah, melainkan ada pula akibat inisiatp si bangsa terjajah. Mengenai monopoli perdagangan juga bukanlah sesuatu yang sangat merugikan, tapi disitu ada unsur penagturan pemasaran, dan regulasi pasar lainnya, ada pula unsur alih teknologi dan management bisnis, pergaulan internasional yang membuka wawasan penduduk dan lain sebagainya. Dan ketiga mau tak mau sedikit banyak kita harus mengakui bahwa yang mempersatukan nusantara bukan hanya jasa Ptih Majapahit Gajah Mada, tapi ada juga jasa Belanda. Bagaimana ahli sejarah, setuju?


Beberapa catatan sejarah mendoktrinkan kejahatan penjajah lainnya : devide et impera, pecah belah dan kuasai. Sebenarnya pernyataan ini sedikit diragukan kebenarannya. Apakah ini kebijakan penjajah atau sekali lagi karana ‘undangan’ pribumi. Mengingat bangsa kita ini memang gemar kelahi, bahkan masih terwariskan hingga kini, ratusan tahun setelahitu. Lihat saja. Kelahi antar suku, antar agama, antar kampong, antar kampus, antar fakultas, antar korps bersenjata dan sebagainya dan sepertinya masih dianggap hal yang wajar tanpa adanya upaya represip mencegah atu menghentikannya. Mungkin dan sekali lagi mungkin kejadiannya devide et impera itu adalah bahwa sang pribumi mengundang dan penjajah melanggengkannya, jadi kalaupun itu dosa, ya separoh separohlah bukan sepenuhnya dosa Belanda.


Kenyataan ini harus dapat diterima dan sebagai sarana introspelsi diri dan kalau boleh, ada sedikit koreksi pada pemahaman sejarah kita. Kasian generasi kita kelak yang terus terbodohi doktrin sejarah, lalu mejadi narsis dan lupa berterima kasih lupa pula memperbaiki diri.


Lalu bagaimana dengan kebijakan ‘jahat’ Belanda lainnya, politik tanam paksa, cultuur stelsel. Kebijakan memaksa rakyat menanam satu tanaman dan hasilnya dipaksa jual kepada pemerintah dengan harga yang telah ditentukan, yang tentu saja sangat murah. Rakyat menderita. Ini memang kejam dan eksploitatip sekali. Tapi ada beberapa hal positip, pengaturan pola tanam dan kedisiplinan rakyat. Harga yang terlalu murah juga bias dipertanyakan, sebab kalau terlalu murah sampai sang rakyat tak mampu menanam lagi periode berikutnya, atau sampai sakit karena tidak makan, atau lalu mati, bukankah sang penjajah juga tak menginginkannya, siapa yang bakal menanam lagi?


Perlu pula dalam hal ini diteliti bagaimana perbandingan tanam paksa ini dengan teknik pola tanam seperti yang dilakukan sekarang, yang ditujukan untuk langkah membasmi hama wereng dan kesediaan pangan. Atau dengan pola tanam, guna pengaturan stabilisasi harga. Hal ini sampai sekarang masih terjadi, petani latah. Waktu komoditi jeruk harganya membaik, lalu semua latah menanam jeruk. Tentu saja akan terjadi over produksi. Kalau sudah begini harga pasti turun, yang akan merugikan si petani sendiri. Sementara komoditi lain karena produknya berkurang harganya naik. Ramai ramailah kemudian komoditi yang sama, lalu harga jatuh dan merugi lagi. Sepertinya perlu ada sedikit pemaksaan agar sang rakyat mau mengatur pola tanamnya. Tanam paksa juga kah namanya?


Lalu bagaimana kita melihat jasa Belanda mendirikan Stovia, sekolah tinggi dokter pertama di Asia Tenggara (bahkan Asia ?) di Jakarta dan sekolah perawat kesehatan di Surabaya pada waktu yang hampir bersamaan (pertengahan abad ke 19)dengan mendatangkan dokter pengajar dari Belanda. Walau tujuan awalnya untuk mengatasi penyakit cacar menular tapi kemudian benar benar dikembangkan untuk mendidik orang Indonesia jadi dokter benaran, bukan sekadar perawat.


Atau waktu Belanda mendirikan sekolah tinggi teknik di bandung ( sekarang jadi ITB), dengan mendatangkan tenaga insinyur dari Belanda, sampai ada yang berhasil membuat pesawat terbang, sesuatu yang di eropa aja masih jarang. Masih ingat Nurtanio? Dia jebolan zaman colonial itu.


Atau bagaimana pula kita menimbang jasa penjajah Belanda waktu mereka mendirikan pabrik dan perkebunan modern di sumatera, lengkap dengan pusat penelitian dan pembibitannya, sehingga dapat untung besar . masih ingat bagaimana terkenalnya tembakau deli sampai ke eropa sana? Hanya sayangnya setelah perkebunan itu di- nasioanlisasi entah salah dimana, laporannya tiap kali rugi terus. Pusat penelitian dan rekayasanya pun hilang.


Jasa itu belum lengkap tanpa memperhitungkan proyek infra struktur binaan mereka seperti jaringan jalan kereta api, pembuatan jalan dari Anyer ke Panarukan, drainase termasuk pengendalian banjir, pembuatan gorong gorong dsb yang sampai hari ini masih dirasakan manfaatnya dan teruji ketahanannya. Di bidang penelitian ruang angkasa pun sudah mereka perkenalkan dengan didirikannya planetarium Bosscha di Lembang. Ada pula penelitian hutan, dengan didirikannya Tahura Bogor. Dan masih banyak lagi lainnya.


Adapun kekejaman yang mereka perlihatkan, seperti kasus kuli kontrak, yang tidak berprikemanusiaan itu, atau perlakuan kejam terhadap pemberontakan, dalam beberapa hal bisa jadi positip, yakni dengan alas an pembinaan kedisiplinan dan stabilitas keamanan dan ketertiban. Tergantung keadaan, bukan? Dan bukankah hal semacam itu masih juga terjadi di zaman Republik?


Cukuplah itu dulu kenyataan yang dipaparkan disini, dengan harapan kita dapat menjadi berbudaya lebih maju, dengan cirri cirri sebagai berikut: menghargai orang lain, tidak narsis lalu melupakan introspeksi diri, tidak ada doktrinasi dan berfikir ilmiah dan kritis.**


zulkifli zulkifli

/zulkiflizal

seseorang yang bangga akan Indonesianya, dan akan melakukan apapun demi kebaikan kebanggaannya tsb. tinggal di medan, wiraswasta, usia tidak muda lagi 42. hobby baca tulis, politik-sosial-budaya-ekonomi-agama dan filsafat. salam kenal buat semua
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?