Zulfakriza Zulhan
Zulfakriza Zulhan Ayah

Belajar Berbagi Dalam Tulisan | email : zulfakriza@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

featured

Mungkinkah Gempa Bumi Diprediksi?

9 Desember 2013   06:22 Diperbarui: 8 Desember 2016   09:00 903 5 6
Mungkinkah Gempa Bumi Diprediksi?
Suasana foto dari udara kerusakan bangunan akibat gempa di Pidie Jaya, Rabu (2016/12/07). || SERAMBI / HARI MAHARDHIKA

Dalam satu bulan terakhir masyarakat Aceh dikejutkan dengan dua kejadian gempabumi dengan magnituda lebih dari 7. Kejadian dua gempa tersebut bersumber pada zona tumbukan lempeng benua Eurasia dan lempeng samudera indoaustralia. Gempabumi yang terjadi pada hari Minggu tanggal 9 Mei 2010 dengan magnitude 7.2 yang kedalaman sumbernya sekitar 30 km tergolong gempa yang dangkal(shallow earthquake)sehingga menurut BMKG berpotensi tsunami.

Setiap kejadian gempabumi pasti menimbulkan kepanikan dan bahkan mandatangkan korban jiwa, kerugian secara materi dan dampak psikologi bagi para korban. Yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah gempabumi dapat diprediksi? Sehingga masyarakat bisa melakukan persiapan terlebih dahulu jika mengetahui kapan akan terjadi gempabumi, dan dimana lokasi tepatnya terjadinya serta berapa kekuatan goncangan yang dihasilkan.

Gempabumi secara ilmiah dapat dijelaskan sebagai gerakan tiba-tiba dibagian kerak bumi atau lapisan mantel bumi bagian atas. Gerakan tiba-tiba tersebut bisa diartikan sebagai salah satu cara bumi berelaksasi menuju keadaan normalnya setelah mengalami dorongan, geseran, ataupun gesekan antar lempeng. Selama proses relaksasi inilah energi akan disebar dalam bentuk gelombang yang merambat ke sejumlah bagian dan dirasakan sebagai gempa. Kejadian goncangan bumi akibat adanya pertemuan lempeng tersebut telah terjadi sejak bumi ini terbentuk. Untuk memahami kejadian tersebut para ilmuan mengembangkan kajian seismologi yang merupakan salah satu cabang dalam kajian geofisika.

Fenomena gempabumi, dalam hal ini gempabumi yang dikarenakan aktivitas tektonik merupakan kejadian alami akibat adanya pergerakan pada lapisan-lapisan kulit bumi yang tidak menyatu. Yang menjadi pertanyaan kita adalah kenapa lapisan-lapisan kulit bumi itu bergerak, alasan sederhana dari pertanyaan ini adalah karena lapisan tersebut mencari keseimbangan seperti halnya air yang mengalir mencari posisi yang lebih rendah. Kemudian yang menjadi pertanyaan berikutnya kenapa ada lapisan-lapisan kulit bumi yang tidak menyatu, hal ini terjadi karena adanya tekanan yang sangat besar dari dalam perut bumi yang dihasilkan dari energi panas pada lapisan inti bumi sehingga mengakibatkan kulit bumi retak, seperti halnya retaknya kulit telur ayam saat direbus.

Sebaran kejadian gempa bumi di wilayah Indonesia (sumber data USGS). Peta dibuat menggunakan Generic Mapping Tools (GMT)
Sebaran kejadian gempa bumi di wilayah Indonesia (sumber data USGS). Peta dibuat menggunakan Generic Mapping Tools (GMT)

Selanjutnya yang menjadi pemikiran kita adalah dimana hubungan antara pergerakan lapisan-lapisan kulit bumi dengan kejadian gempabumi. Ini sesuatu hal yang menarik, sehingga para ahli ilmu kebumian sampai sekarang masih terus membahas tentang hubungan ini tentunya dengan sudut pandang masing-masing. 

Sebagian diantara para ahli itu mencoba menyimpulkan bahwa gempabumi terjadi akibat adanya dorongan dari lapisan kulit bumi yang saling berlawanan sehingga membuatnya saling bertumbukan dan bergesekan. Pergerakan lapisankulit bumi ini berhubungan denganpergerakan lempeng-lempeng bumi yang terus menerus terjadi akibat adanya gaya-gaya tektonik global, sehingga sumber gempabumi adalah terjadi pada sebuah bidang bukan sebuah titik.

Kejadian gempa bumi bukanlah proses yang sederhana, karena gempa tektonik terjadi pada kedalaman 10 km dan bahkan sampai 100 km di bawah permukaan bumi. Tentunya untuk mengamatinya harus menggunakan bantuan alat dan teknologi agar bisa mengetahui kondisi yang ada di dalam perut bumi. Salah satunya adalah teknologiseismic tomographyyang dapat mengamati isi perut bumi seperti halnya seorang dokter ahli kandungan memeriksa perkembangan janin dalam kandungan seorang ibu. Selain itu ada juga teknologi GPS (Global Positioning System) dengan ketelitian tinggi yang dapat mengamati pola dan mekanisme pergerakan lempeng bumi dipermukaan akibat pengaruh subduksi dan aktivitas patahan aktif. 

Akan tetapi, teknologi tersebut di atas baru hanya bisa memprediksi kejadian gempa bumi dalam skala waktu yang panjang yaitu 10 atau 50 tahun dan daerah mana saja yang berpotensi terjadinya gempabumi. Akan tetapi untuk ketepatan perkiraan waktu kejadian gempa dalam bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik sampai sekarang belum bisa dilakukan, dan juga lokasi kejadian gempa belum bisa diperkirakan secara tepat.

Sejauh ini, ilmu kebumian yang dikuasai manusia baru sebatas merekam gempa yang terjadi baik waktu, lokasi kejadian, besar kekuatan dan intensitasnya. Sampai sekarang belum ada metoda dan teknik prediksi gempa yang tepat dan teruji secara ilmiah. Memang ini bukan sesuatu yang mudah, dari beberapa jurnal ilmiah yang membahas tentang kejadian gempabumi belum menyimpulkan secara pasti kapan dan dimana gempa berikutnya pasti akan terjadi. Namun sebagian besar para ahli kegempaan masih terus melakukan penelitian untuk mengungkapkan rahasia dibalik kejadian gempabumi.

Sehingga penulis mencoba menyimpulkan bahwa kejadian gempabumi merupakan sebuah proses dinamika bumi yang masih sangat rumit dan akan terus dipelajari. Akan tetapi kita harus yakin bahwa hal ini sangat mudah bagi Allah swt Dzat yang menguasai alam semesta ini. Untuk itu menjadi penting bagi masyarakat Aceh untuk selalu siap saiga dalam menghadapi bahaya gempabumi karena Aceh berada pada lokasi yang rawan gempabumi.Terakhir, penulis mengutip Firman Allah swt dalam Al-Quran surah Al-Mu’minun ayat 84 yang artinya kira-kira “Katakanlah, Milik siapakah bumi ini, dan semua yang ada didalamnya, jika kamu mengetahui?”Kita harus yakin bahwa semua itu sudah pasti milik Allah swt dan Dia yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu yang ada di bumi, kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa sebagai bukti kelemahan kita sebagai makhluk.

Dimuat di Rubrik Opini Serambi Indonesia 10 Mei 2010