Zayd Hussain
Zayd Hussain

Senantiasa berusaha menikmati kopi seduhan istri. Bekerja untuk melunasi hutang. Mencari jalan pulang.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Belajar Menjadi Manusia

21 Maret 2017   09:13 Diperbarui: 21 Maret 2017   09:27 19 0 0

Mengayuh Gazelle tua pemberian Bapak. Menyusuri lika-liku jalanan Mantan Ibu Kota berbekal sisa-sisa tenaga yang ada. Demi satu tujuan yang tak pasti, mencari penjual nasi yang masih buka di tengah rintik hujan malam hari. Aduhai kiranya istri menyetok mie instan, saya pasti sedang menikmati hangatnya kuah kari di rumah saat ini.

Begitulah manusia, sering mengeluh, senantiasa merasa kurang. Ah, ada apa dengan manusia?

Sifat dan sikap baik selalu dilekatkan dengan istilah manusiawi. Segala perhatian kita terhadap sesama disebut dengan istilah kemanusiaan. Lantas bagaimana dengan segala kekurangan yang ada pada manusia?

Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ

“Setiap manusia itu banyak berbuat salah.”

Kekurangan tersebut menuntut kita untuk banyak-banyak bertobat kepada Allah. Makanya, dalam lanjutan hadits di atas, Rasulullah bersabda,

وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang banyak bertobat.” (HR. at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Abu Musa, Abdullah bin Qais Al Asy ’ari radhiyallahu 'anhu menyampaikan sabda beliau shallallahu 'alaih wasalam yang artinya,“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat seseorang yang berbuat kesalahan kala siang hari. Allah pun membentangkan tangan-Nya pada waktu siang hari untuk menerima taubat seseorang yang berbuat kesalahan kala malam hari, hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya (arah barat).” (HR. Muslim).

Maka di sini kita perlu untuk kembali belajar, berusaha memahami, apa tujuan penciptaan manusia. Harapannya, seteleah mengetahui, memahami, dan menyadarinya kita dapat menjadi seorang manusia seutuhnya.

Belajar Menjadi Manusia

Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda:

فَوَاللهِ لاَ الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan akan menimpa kalian –maksudnya aku tidak mengkhawatirkan kefakiran akan menimpa kalian karena dunia akan dibukakan– tetapi aku mengkhawatirkan dunia akan dibukakan untuk kalian lalu akan menyebabkan kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba-lomba meraihnya, sehingga dunia pun akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” ( Adz-Dzariyaat : 56)

dan juga:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

”Apakah kalian mengira bahwa kami menciptakan kalian begitu saja, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada kami.” (Al-Mu’minun : 115)

Maka demikianlah, judul artikel JendelaInfo.com ini pun mengusik saya. Benarkah anda sudah bahagia? dan judul yang lain lagi secara telak mencubit saya Jangan Hanya Jadi Islam KTP.

Mengarahkan kembali Gazelle tua ke jalan pulang. Pelan tapi pasti, belajar menjadi manusia.