Pengakuan Seorang Pramugari - Grace Story 1

10 Desember 2011 14:09:07 Dibaca :

Pengakuan SANG Pramugari Opening Judul ini bukan judul untuk mencari sensasi, tapi saya gunakan untuk menghargai seseorang yang sudah menghadiahi saya sebuah cerita nyata yang begitu indah dan mengahrukan. Yang telah mengetuk hati saya untuk membaca, merenungi, membayangkan secara lebih dalam lagi profesi sebagai Pramugari. Sebuah profesi yang selalu keliatan “wah” .Bahkan waktu kecil, pertama kali naik pesawat, saya pernah berangan-angan untuk menjadi pramugari. Saat kita di bandara, melihat serombongan pramugari yang rapih, cantik cantik dan berwibawa. Berjalan seiring dengan para pilot dan co pilot yang juga gagah, ganteng berwibawa. Apalagi saat di dalam pesawat, dilayani dengan begitu rendah hati oleh wanita-wanita berparas molek dan ramah ini. Hebat, ada orang cantik yang sebenarnya bisa jado model atau artis, malah memilih untuk “menjadi pelayan di udara” Bayangan saya tentang Pramugari bukan Cuma cantik berhati mulia, tapi juga tabah dan serba bisa. Walau tubuh mereka langsing-langsing, tenaga mereka cukup luar biasa untuk ukuran badan seperti itu. Bisa membantu mengangkat koper ke lemari cabin, menutup pintu lemari cabin yang kadang macet karena kepenuhan isinya. Bisa menuangkan kopi panas saat pesawat berguncang-guncang menembus awan tebal. Bisa membersihkan (maaf) muntahan penumpang yang kena “mabuk udara”. Belum lagi kalau meladeni penumpang cerewet yang banyak maunya dan selalu tidak puas. Waktu kecil, saya ingin jadi pramugari karena membayangkan bisa keliling dunia dengan Cuma-Cuma. Saya yakin banyak orang yang juga mengkhayalkan hal yang sama. Tapi kenyataannya, setelah saya sering travelling jauh (dan rutin) menempuh 25 jam lebih di udara antara Jakarta – Toronto (Canada), saya mulai sadar bahwa pekerjaan itu bukan hal yang menyenangkan. Jet Lag yang dialami pasti luar biasa! Saya biasanya butuh 4-5 hari untuk mengembalikan jam normal tiap kali pergi ke tempat-tempat yang memiliki perbedaan waktu dengan Jakarta. Sedangkan para pramugari kadang hanya punya waktu recovery satu-dua hari saja sebelum harus kembali bertugas. Dan mereka bukan jadi penumpang. Penumpang sih enak, tinggal naik, duduk dilayani dan bisa tidur sepanjang perjalanan. Penumpang saja jet lag dan stress saat bepergian apalagi para pramugari! Mereka bukan plesiran tapi justru harus kerja dalam keadaan mungkin masih jet lag! Singkat kata, saya sangat menghargai profesi itu dan juga masih tetap menganggap rata-rata pramugari itu “cantik jelita” dan “cerdas”. Minimal kan menguasai dua bahasa. Luwes pula. Sampai muncul sebuah email dari salah satu pembaca novel terakhir saya Loe Gue End!. Bagi yang belum tahu, singkatnya, novel itu bercerita tentang buruk busuk boobrok kelam nistanya kehidupan remaja socialite ibukota. Dan merupakan karya saya yang ter “gamblang” dari segi cara penuturannya. Bahasanya blak blakan apa adanya bahkan terkadang sadis dan kasar. Cerita itu juga berasal dari email-emaill fans yang awalnya marah marah. Marah pada kehidupannya, marah juga pada saya yang tidak sempat membalas sampai sati setengah tahun lebih. Anyway, si pembaca Loe Gue End! ini menuliskan komentarnya mengenai novel itu. Berikut kutipannya: “saya menikmati sekali Loe Gue End! walau tebalnya 350 halaman, saya selesaikan dalam satu hari. Emang sih mbak hari hari saya suka membosankan kalau sedang transit stay over di negri orang. Biasanya saya suka jalan-jalan cari hiburan, tapi berhubung saya baru menikah, saya jadi males jalan jalan. Untung ada bacaan Loe Gue End!. Saya nggak beli mba, dikasih sama teman saya. Dia wartawa yang datang ke acara launching novel Mbak. Saya salut sama Alana yang menceritakan semua kebusukan dari kehidupan nyatanya. Dan saya jadi terpanggil untuk mengeluarkan juga uneg uneg yang saya rasakan dalam kehidupan saya selama ini sebagai seorang pramugari. Kalau orang tahu, kayak apa sebenarnya kehidupan seorang pramugari, pasti cerita novel Loe Gue End! itu dianggap biasa saja mbak. Maaf, bukan berarti novel mbak itu jelek. Tapi kehidupan kami jauh lebih menyedihkan dan hitam dibanding kehidupan Alana di novel itu. Memang tidak semuanya mbak. Sekarang saya termasuk salah satu yang berusaha untuk memperbaiki hidup saya setelah menikah… Mbak, saya juga membaca tweetingan mbak tentang “writing for healing”. Mungkin nggak mbak, kalau saya keluarkan semua uneg-uneg dari bathin saya ini, saya bisa tenang dan lepas dari rasa bersalah? Selama ini saya banyak merahasiakan segala sesuatunya pada orang tua dan suami saya. Mereka nggak tahu masa lalu saya sehubungan dengan profesi saya sebagai pramugari. Mereka juga seperti orang kebanyakan yang menganggap pramugari itu profesi yang keren dan patut dibanggakan. Apalagi saya sudah mandiri sejak usia 24 tahun mbak. Bisa punya rumah sendiri walau nyicil, mobil sendiri juga. Kalau mereka tau, sebenarnya semua itu bukan dari hasil keringat saya sebagai pramugari…. Sebelum saya meneruskan, saya ingin mbak membalas dulu. Apakah mbak bersedia jadi tong sampah? Seperti sama Alana dulu itu? Apa mbak bersedia membantu saya untuk jadi pembaca catatan sedih saya ini? Wass. Grace Saya sering diminta orang untuk menuliskan kisah hidup mereka. Dan setiap kali saya jawab : maaf bukan tidak mau tapi sekarang saja sudah banyak sekali kisah-kisah yang saya dengar dan alami tapi belum sempat saya tuangkan dalam tulisan. Lalu saya sarankan mereka untuk menulis sendiri kisahnya itu, jika sudah 200 halaman lebih baru saya akan membaca. Kenapa? Karena itu menunjukkan kadar keseriusan seeorang dalam menulis. Kalau sudah menulis sampai 200 halaman itu berarti memang sudah niat dan berusaha. Maka saya akan hargai usaha itu dengan meluangkan waktu membacanya. Email seperti email Alana atau Grace ini adalah salah satu sumber insipirasi saya. Yang secara “ajaib” bisa menarik perhatian dan saya baca. Diantara puluhan email yang masuk setiap hari, yang jujur tidak bisa langsung saya baca apalagi balas langsung satu persatu. Semua email saya pindahkan ke kategori “Fans Email” . Tidak langsung saya hapus. Jika ada waktu senggang yang banyak (misalnya saat transit ganti pesawat berjam jam di lounge) maka saya akan baca-baca. Balas-balas jika ada yang penting. Delete. Membersihkan file dari mail box hotmail saya. Saya segera membalas email Grace itu. Dengan senang hati saya akan membaca dan menanggapi kisah hidupnya dengan catatan : Grace beredia kisahnya di share ke banyak orang. Bukan untuk mencari publisitas – toh Grace akan memilih jadi anonimus. Kalau tidak bisa dimusuhin semua rekan sejawatnya dong. Juga bukan publisitas buat saya sebagai penulis. Tapi lebih pada prinsip saya sebagai penulis. Saya ingin menggunakan talenta yang diberikan Tuhan ini untuk BERBAGI. Sebuah kisah yang bisa menyentuh hati saya, pasti bisa menyentuh hati-hati pembaca yang lain. Dan seburuk apapun kisah hidup seseorang, pasti ada hikmah dibalik semuanya. Itu adalah prinsip yang saya yakini sejak lama dan saya yakini karena saya sudah membuktikannya selama 20 tahun lebih. Berbagi adalah pekerjaan mulia tanpa pamrih. Sekecil apapun pasti bisa berarti bagi sebagian orang. Mungkin tidak untuk 10 ribu orang tapi kalau bisa menyentuh 1 hati saja sudah lebih baik daripada tidak berguna sama sekali pengalaman itu, ya kan? Setelah bertukar email tiga kali dengan Grace (dalam waktu hanya satu hari) saya yakin kalau Grace serius untuk membagi ceritanya. Dan makin lama cerita-ceritanya makin menegangkan, menghanyutkan, mengharukan sekaligus juga membuat saya terkaget-kaget. Singkat cerita, persepsi saya tentang pramugari jadi berubah. Setelah mendegar kelamnya lika liku kehidupan dan pergaulan mereka, sayapun terhenyak. Bukan untuk kecewa atau menghakimi profesi itu tapi justru sebaliknya, semakin menghargai! Profesi yang sarat dengan godaan yang sangat sulit untuk di hindari. Yang sangat penuh dengan tuntutan baik tunutan moral dan materil. Sangat penuh dengan cobaan yang mengintai sejak melangkah masuk ke bandara, di udara, sampai di perhentian terakhir mereka. Mungkin juga sudah banyak yang tahu, seperti apa kisah kisah biru kehidupan seorang pramugari. Mungkin juga sudah pernah ada buku yang menulis tentang profesi ini. Tapi jalan hidup tiap manusia itu kan tidak ada yang persis sama. Apalagi cerita Grace. Buat saya saja, yang seorang penulis yang sudah banyak membaca buku dan nonton film sbagai referensi tulisan, kisah Grace masih unik dan penuh tanda tanya. Mengapa Grace masih mau melakukan pekerjaannya? Mengapa masih meneruskan profesinya? Jika dia sudah menyadari begitu banyak kesalahan, dosa dan kebohongan yang harus dia lakukan selama ini? Mengapa tidak berhenti dan memulai lembaran baru yang lebih baik setelah mengikat diri dalam bahtera perkawinan? Jawabannya ada dalam email email Grace. Beda dengan Alana, email Grace lebih runtut dan gaya bahasanya lebih teratur mudah dipahami  Mungkin karena Grace memang penyuka buku dan katanya pembaca setia tulisan-tulisan saya sejak lama. Selamat menikmati kisah pengakuan seorang pramugari bernama Grace, tinggi 168 cm berat 55 kg, usia 24 tahun, kulit kuning langsat, rambut hitam lurus, status: menikah. WARNING : dibaca dengan dewasa tanpa prasangka dan asumsi – ini sebuah kisah nyata untuk berbagi bukan untuk didebat apalagi dicaci – tidak semua Pramugari mengalami hal yang sama karena pada hakekatnya semua manusia itu berbeda.

Zara Zettira Zr

/zarazettirazr

Penulis. Ibu dua anak.
BLOG SPOT :www.zarazettirazr.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?