FEATURED

Negeri “Bersih Tersenyum” Menuju Poros Maritim Dunia

08 Oktober 2016 09:35:21 Diperbarui: 05 Mei 2017 07:54:57 Dibaca : 648 Komentar : 2 Nilai : 3 Durasi Baca :
Negeri “Bersih Tersenyum” Menuju Poros Maritim Dunia
Sumber Foto : insinyurperkotaan.blogspot.com

Dalam kesejarahannya, Indonesia merupakan salah satu pusat perdagangan dunia. Letak wilayah di posisi silang atau diantara dua Benua (Asia dan Australia) serta dua Samudera (Hindia dan Pasifik) memberikan keuntungan geografis. Dahulu kala, Bangsa Eropa (terutama Belanda, Portugis dan Inggris), Cina, India dan Arab datang ke Indonesia untuk berdagang. Masyarakat Indonesia dikenal sangat terbuka dengan pendatang karena keramahtamahannya. Kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama rempah-rempah dan kayu tropis menjadi daya tarik utama sehingga menyebabkan bangsa asing ingin menjajah Indonesia.

Di masa sekarang, kemerdekaan yang telah diraih jangan kita disia-siakan. Keunggulan komparatif yaitu letak geografis dan kekayaan sumberdaya alam harus dimaksimalkan untuk kemajuan bangsa. Kepribadian luhur yaitu sikap ramah tamah dan gotong royong yang merupakan warisan nenek moyang selayaknya diperkuat sebagai identitas bangsa. Keunggulan komparatif dan kepribadian luhur tersebut dapat mendukung Indonesia sebagai "Poros Maritim Dunia", baik di bidang perdagangan maupun pariwisata.  

Peluang ini sangat besar mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang strategis. Perdagangan dunia sangat bergantung dengan perairan Indonesia. Sebut saja Cina yang ingin mewujudkan kembali “Jalur Sutra Maritim” di Abad 21 sehingga mereka dapat berdagang atau mengirim barang sampai India, Afrika, Eropa dan Amerika. 

Begitu pun sebaliknya jika terjadi pertukaran perdagangan antar negara tersebut. Mereka membutuhkan Indonesia sebagai pelabuhan-pelabuhan transit. Australia dan Bangsa Eropa juga harus melewati Indonesia jika ingin mengekspor produknya ke negara-negara ASEAN atau Asia Timur. Belum lagi, industri pengolahan bahan baku dan investasi asing berorientasi ekspor-impor di Indonesia yang mengandalkan transportasi laut.

Di bidang Pariwisata Maritim, Indonesia memiliki daya tarik obyek wisata bahari yang menakjubkan. Sebut saja, Belitung, Bunaken, Taka Bonerate, Wakatobi, Togean, Labuan Bajo (Komodo), Bali, Lombok dan Raja Ampat yang memiliki keindahan pantai pasir putih, gugusan karang, ombak cantik dan keanekaragaman terumbu karang. Banyak wisatawan mancanegara berlibur untuk menikmati keindahan panorama alam dan berwisata air, misal : surfing, diving, snorkeling, jet ski, dll. Belum lagi, pulau-pulau kecil nan eksotis yang menawarkan petualangan unik.

Menggalakkan Budaya "Bersih dan Senyum"

Untuk mencapai tujuan besar di atas, Indonesia perlu menggalakkan Budaya “Bersih dan Senyum”. Kebersihan merupakan salah satu faktor penentu agar warga negara asing betah tinggal di Indonesia. Sedangkan, senyum merupakan cermin keramahtamahan dan sinyal keterbukaan yang menjadi daya tarik mereka untuk datang ke Indonesia. Senyum akan membuat mereka merasa diterima di negeri kita serta menghadirkan rasa nyaman dan aman.   

Namun ironisnya, Budaya “Bersih dan Senyum” masih menjadi tantangan di Indonesia. Masih banyak ditemui perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan, misal di jalan, taman, selokan atau sungai. Acara-acara publik yang diadakan, misalnya acara keagamaan, acara sosial, acara olahraga, acara budaya atau konser musik masih menyisakan masalah sampah. Tak heran jika terjadi banjir dimana-mana karena budaya tidak bersih, pengelolaan sampah yang belum baik, sedimentasi sungai dan tersumbatnya drainase. Pantai-pantai di Indonesia juga tidak luput dari persoalan sampah, apalagi pelabuhan kapal penyeberangan, pelabuhan kapal ikan atau pelabuhan kapal angkut barang.

Sementara, budaya senyum mulai pudar di tengah-tengah masyarakat. Kita seakan melupakan sikap ramah tamah nenek moyang. Apakah kita sudah murah senyum kepada teman, tetangga atau orang lain? Terkadang masih banyak ditemui kasus perkelahian antar kampung, perkelahian antar pelajar hingga perkelahian antar suku. Bahkan hanya karena senggolan, orang Indonesia bisa berantem. Gesekan sosial tersebut merupakan bibit-bibit permusuhan yang harus kita hindari.

Oleh karena itu, gerakan “Revolusi Mental” harus menjadi prioritas utama. Bagaimana membudayakan hidup bersih dan mengembalikan keramahan senyum bangsa Indonesia yang sudah terkikis. Perubahan mental yang mendasar harus digalakkan untuk menciptakan kesadaran-kesadaran individu menuju kesadaran kolektif. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar hingga komunitas masyarakat yang lebih luas.

Pembelajaran Masyarakat Sekitar Candi Borobudur

Sumber Foto : dolanotomotif.com
Sumber Foto : dolanotomotif.com
Sebagai contoh di kampung halaman saya, masyarakat Magelang di sekitar Candi Borobudur. Kemegahan Candi Borobudur tidak serta-merta membuat wisatawan betah berkunjung. Jika area candi tidak bersih dan masyarakat sekitar tidak ramah, maka wisatawan terutama mancanegara juga enggan berlama-lama.

Persoalan sampah masih terjadi di Candi Borobudur. Volume sampah mencapai 3-5 kontainer per hari, bahkan pada libur Lebaran rata-rata 9,6 kontainer per hari dimana satu kontainer berisi 4,5-5 meter kubik sampah. Wisatawan masih ada yang membawa botol minuman, permen atau kue kecil hingga ke atas candi. Sampahnya masih terlihat berceceran di tangga dan lorong candi. Belum semua wisatawan tertib membuang di tempat sampah yang sudah tersedia.

Padahal, pengelola Candi Borobudur telah menempatkan tempat sampah di setiap jarak 10-20 meter, dimana jumlah tempat sampah kecil ada lebih dari 200 buah dan 14 kontainer penampung sampah di kawasan Candi Borobudur. Tempat sampah di Candi Borobudur juga didesain unik yang berbentuk pot persegi empat mirip bebatuan candi. Ada juga tempat sampah yang terbuat dari bahan karet ban.   

Peran serta masyarakat lokal dalam menjaga kebersihan, keindahan dan pelestarian Candi Borobudur yaitu sebagai tenaga lokal di Balai Konservasi Borobudur (Pengelola). Mereka berperan sebagai tenaga konservasi, tenaga kebersihan candi, dan tenaga ketertiban wisatawan. Sebagai contoh, petugas kebersihan yang hanya diberi upah sebesar 60 ribu per hari untuk bekerja dari jam 8 pagi hingga 4 sore, namun mereka tetap bekerja dengan semangat.

Tenaga konservasi bertugas untuk memelihara bangunan dan batuan candi dari kerusakan, misal : membersihkan lumut, kotoran atau debu yang menempel. Tenaga kebersihan bertugas untuk mengurus sampah dan mengingatkan wisatawan untuk tidak membuang sampah sembarangan atau melakukan corat-coret (vandalism). Sedangkan, tenaga ketertiban wisatawan bertugas untuk mengawasi dan mengingatkan wisatawan untuk mematuhi peraturan yang berlaku. Terkadang mereka harus menegur wisatawan yang memanjat stupa candi.   

Kepedulian masyarakat sekitar terhadap pelestarian Candi Borobudur di antaranya diwujudkan dengan keterlibatan mereka sebagai pemandu wisata lokal yang dikoordinir oleh organisasi HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia). Selain bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, pemandu wisata lokal juga berkewajiban untuk memberikan edukasi lingkungan kepada wisatawan agar menjaga kebersihan dan keindahan candi. Ini merupakan bentuk kampanye penyadaran sosial.   

Saya teringat ketika dulu bersekolah di SMA Negeri 1 Magelang. Kami diajak guru sejarah untuk belajar Candi Borobudur secara langsung di lapangan. Kami pun ikut memungut sampah wisatawan yang dibuang sembarang. Ini merupakan bentuk wisata edukasi yang bermanfaat untuk mendorong kepedulian para pelajar di sekitar Candi Borobudur. Bahkan, terdapat juga program KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari para mahasiswa di kampus sekitar untuk berpartisipasi aktif dalam perlindungan dan pelestarian warisan dunia tersebut. 

Sumber Foto : www.kemenkopmk.go.id
Sumber Foto : www.kemenkopmk.go.id

Baru-baru ini, Gerakan Budaya Bersih Senyum (GBBS) dilaksanakan pada Sabtu, 24 September 2016 di Candi Borobudur yang diprakarsai Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kemenko Kemaritiman serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan ini melibatkan sekitar 200 pelajar yang melaksanakan gerakan dengan cara menyingkirkan dan memungut sampah di sektiar Candi Borobudur, antara lain dari SMA Negeri 1 Mungkid, SMA Muhammadiyah Borobudur, SMP Negeri 1 Borobudur, SMP Negeri 1 Mungkid, dan SMP Muhammadiyah Borobudur, Magelang.

Bagi masyarakat Jawa, khususnya yang tinggal di sekitar Candi Borobudur, budaya “senyum, salam dan sapa” merupakan tata karma (unggah-ungguh) yang diajarkan secara turun-temurun. Adat Jawa mengajarkan bahwa senyum, salam dan sapa bukan hanya kepada saudara atau teman, namun juga orang lain yang belum kita kenal. Hal ini merupakan penghormatan kepada orang lain dan orang yang lebih tua sebagai bentuk keramahtamahan, kerendahan hati, sopan santun dan keterbukaan. Kami terbiasa untuk bilang “permisi” (Dalam Bahasa Jawa : monggo, nderek langkung atau nuwun sewu) ketika bertemu, berpapasan, melewati atau mengawali pembicaraan dengan orang lain.

Sumber Foto : www.hanyatauaja.com
Sumber Foto : www.hanyatauaja.com

Sikap dan kepribadian tersebut pada kenyataannya sangat berguna bagi masyarakat sekitar Candi Borobudur ketika bertemu wisatawan, terutama mancanegara. Mereka akan sangat senang dan respek kepada kita sehingga tidak sungkan untuk berbincang. Harapannya, mereka betah berkunjung ke Candi Borobudur. Selain itu, mereka mau membeli makanan, minuman, oleh-oleh dan souvenir yang dijajakan atau membeli topi dan kacamata untuk mengurangi terik matahari. Mereka pun diharapkan mau menyewa pemandu wisata lokal untuk belajar sejarah candi, menyewa fotografer kilat untuk mengabadikan momen spesial, menyewa payung jika turun hujan atau menginap di homestay lokal sekaligus menikmati alam pedesaan.

Bersih Tersenyum : Dunia Pun Akan Datang

Belajar dari pengalaman masyarakat sekitar Candi Borobudur, kita memiliki potensi obyek dan potensi karakter lokal yang mendukung untuk memajukan Bangsa Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Selain Candi Borobudur, Indonesia memiliki banyak sekali objek wisata berupa bangunan atau situs bersejarah, wisata alam tropis dan wisata bahari yang dapat menjadi unggulan pariwisata dunia. 

Sementara, potensi bibit-bibit “bersih dan senyum” yang sudah dipraktekkan secara lokal di berbagai daerah dapat ditumbuhkembangkan sebagai karakter bangsa, salah satunya melalui Gerakan Budaya Bersih Senyum (GBBS). Apalagi, sekarang ini pemerintah berkonsentrasi untuk membangun infrastruktur-infrastruktur pendukung, misal : jalan, rel kereta api, stasiun, bandara dan pelabuhan-pelabuhan baru.

Negeri kita harus “Bersih Tersenyum”. Jika bersih dan senyum sudah menjadi budaya masyarakat, maka Indonesia akan menjadi "magnet dunia". Warga negara asing akan tertarik untuk datang, tinggal, bahkan menetap di Indonesia, baik dalam rangka berdagang, berinvestasi, bekerja, belajar atau berwisata. 

Dampak positifnya adalah menumbuhkan perekonomian lokal, memajukan perekonomian nasional dan meningkatkan penerimaan devisa negara. Dalam kontek geostrategis, Budaya “Bersih dan Senyum” merupakan landasan kuat untuk mencapai Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Ini bukan hal yang mustahil, namun sebuah keniscayaan kedepan.*

Bahan Rujukan : 1 dan 2


Facebook Penulis

Twitter Penulis       

Zaid Makruf

/zaidmakruf83

TERVERIFIKASI

Kelahiran Magelang. Pernah kuliah di Fisipol UGM Jogja. Merantau ke Jakarta. Bekerja sebagai marketer. Ayah dari Zidan dan Danis. Sekarang tinggal di Tangerang. The meaning of life is to give life meaning.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana