Kasus Pembunuhan Eno Farinah

21 Maret 2017 07:40:37 Diperbarui: 21 Maret 2017 08:14:59 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

dalam kasus ini pelaku atas nama RAL (15 thn) selanjutnya akan disebut RAL. Sedangkan pelaku atas nama Rahmat Arifin (24 thn) selanjutnya akan disebut RAR sedangkan pelaku atas nama imam hapriadi (24 thn) salanjutnya kan disebut IH. Lalu korban yang bernama Eno Farinah akan disebut EF (19 thn).

Berikut adalah kronologis kejadian pembunuhan Eno Farinah oleh RAL, RAR dan IH

Pembunuhan terhadap EF (19 tahun) bermula saat salah satu tersangka, RAL (15 tahun), yang adalah pacar EF berkunjung ke tempat tinggal EF di mes karyawan PT Polyta Global Mandiri, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/5/2016) lalu. RAL datang ke sana sekitar pukul 23.30 WIB. Sebelumnya RAL dan korban (EF) bersepakat untuk bertemu di kamar korban di mes. RAL yang sudah berpacaran dengan EF baru berjalan sekitar satu bulan. RAL baru pertama kali berkunjung ke mess dan belum tahu posisi kamar sang pacar (EF). Kemudian EF memberi kode yaitu pintu kamar yang sedikit terbuka, itulah kamarnya. RAL akhirnya mengetahui kamar EF dan langsung masuk ke kamar pada Kamis malam itu.

Di dalam kamar, keduanya sempat berbincang-bincang dan bercumbu lebih kurang sekitar 30 menit dan Tidak lama kemudian, RAL pun meminta lebih yakni ingin berhubungan badan dengan EF, namun EF menolaknya dengan alasan takut hamil. Ketika EF menolak untuk berhubungan intim di kamar mesnya, Perselisihanpun terjadi dan semenjak itupun RAL beranjak dari tempat itu. RAL menyendiri diluar dan ditemani sebatang rokok, namun secara kebetulan RAL bertemu dengan Rahmat Arifin dan Imam Harpiadi yang belum ia kenal, dalam pertemuan tersebut, Rahmat Arifin sempat bertanya ; RAL ini siapa dan habis ketemu dengan siapa di dalam?, kemudian RAL menjawab; saya habis bertemu pacar saya yang bernama indah (Eno Farinah). Rahmat Arifin yang sebenarnya sudah kenal dengan EF bingung dengan nama Indah yang dimaksud. Karena bingung Rahmat Arifin meminta RAL menemaninya ke dalam kamar mes tersebut untuk melihat gadis bernama Indah yang dimaksud.

Saat mereka tiba di kamar, EF ditemui sedang terlelap. Melihat korban tengah terlelap, seketika itu mereka berniat melakukan pemerkosaan lantaran kesal dengan korban. Kemudian pada saat itu Imam Harpiadi langsung membekap wajah korban menggunakan kain dan bantal hingga lemas kemudian memerkosanya secara bergantian. Setelah memerkosa, mereka memutuskan untuk membunuh EF, niat untuk membunuh EF didasari rasa sakit hati RAL yang ditolak saat mengajak EF berhubungan badan, Sedangkan tersangka lainnya yaitu Rahmat Arifin dan Imam Harpiadi pernah ditolak saat mau mendekati EF, sebelum RAL kenal dengan EF. Kesamaan itulah yang membuat mereka bisa sama-sama sepakat untuk membunuh walaupun para pelaku mengaku baru saling kenal sesaat sebelum pembunuhan.

Dalam peristiwa pembunuhan itu ada sejumlah adegan sadis kemudian yang direkonstruksikan. Ketika para tersangka berusaha membunuh dengan menancapkan pacul ke bagian tubuh korban, saat itu EF masih dalam kondisi hidup. Awalnya, ketiga tersangka tersebut ingin membunuh korban dengan pisau, Namun, karena yang didapati hanyalah pacul, maka benda itu yang akhirnya digunakan untuk membunuh EF.

Setelah melakukan pembunuhan, mereka berupaya menghilangkan jejak pembunuhan dengan membersihkan bekas darah EF. RAL adalah orang yang pertama kali membersihkan diri, kemudian Arifin dan diikuti Imam secara bergiliran. Ketika EF dipastikan tewas di dalam kamarnya dengan pacul tertancap di bagian tubuhnya, kemudian RAR menutupi wajah, dada, perut, dan kemaluan korban menggunakan kain baju. Para tersangka satu persatu keluar dari kamar mess tersebut dengan terlebih dahulu menutup engsel kamar mes dari luar. Hal itu dilakukan agar penghuni mes lainnya tidak mengetahui pembunuhan ini oleh warga sekitar.

Jenazah EF baru ditemukan teman-temannya pada Jumat pagi keesokan harinya dalam kondisi tanpa busana dan bersimbah darah dengan gagang pacul tertancap di bagian tubuhnya. Teman-teman EF mendatangi messnya karena EF tidak muncul di tempat kerja.

Berdasarkan pandangan ini, kasus pembunuhan Eno Farinah dapat dipahami dari awal peristiwa pembunuhan dari proses interaksi dan komunikasi. RAL sang pacar korban merasa kecewa karena ditolak EF melakukan hubungan intim, kemudian RAR dan IH pernah ditolak saat mencoba mendekati EF. Tersangka itu sama-sama memiliki rasa kecewa atau dendam terhadap EF, yang mana ada sesuatu yang tidak mereka terima dalam hatinya, ada harga diri yang dirasa dilecehkan, sehingga memicu munculnya reaksi yang sangat kuat dalam diri mereka untuk melakukan tindakan menyimpang yang berupa kekerasan dan pembunuhan.

Dalam kasus pembunuhan Eno Farinah terdapat tiga orang pelaku pembunuhan yang diantaranya anak umur 15 tahun (RAL) yang ikut terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut. Anak tersebut adalah RAL yang masih duduk di bangku SMP. Moral develoment theori dalam hal ini menjelaskan perkembangan anak pada level convensional terkait dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan RALterhadap Eno Farinah.

dalam hal ini Ada beberapa tipe perubahan yang terjadi pada anak, perubahan tersebut membawa pengaruh pada sikap dan tindakan kearah lebih agresif sehingga pada priode ini banyak anak-anak dalam bertindak dapat digolongkan ke dalam tindakan yang menunjukan ke arah gejala kenakalan anak.

Berdasarkan pendapat ini, tindakan pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh IH, RAL, RAR terhadap EF telah mencedrai nilai-nilai luhur yang hidup dalam keseharian bangsa Indonesia, tindaka IH, RAL, RAR telah mencedrai nilai kesusilaan, kesopanan, dan kepatutan.

Oleh sebab itu maka sepatutnya pemerintah dan masyarakat untuk memberikan perhatian khusus terhadap kasus yang serupa dengan yang dialamai eno farinah, seperti halnya melakukan upaya pencegahan dan pemberantasaan, dalam hal ini yaitu seperti pencegahan yang sifatnya prefentif dan represif

Prefentif : yang mengarah pada perbaikan individu, masyarakat,dan pemerintah (dalam bentuk melakukan penyuluhan hukum, mengadakan penyuluhan keagamaan)

Represif : yang mengarah pada upaya yang dilakukan oleh aparat penegak hukum, berupa penjatuhan atau pemberian sanksi pidana kepada pelaku kejahatan, dalam hal ini dilakukan oleh kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan Lembaga permasyarakatan

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana