HIGHLIGHT

Sarjana Psikologi, Bisa Apa?

22 April 2012 08:37:12 Dibaca :

Sekitar lima atau enam tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA, dunia Psikologi adalah dunia asing dan baru bagi saya. Tapi anehnya, saya begitu tertarik dengan ilmu tentang perilaku manusia tersebut. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di bidang psikologi. Sebuah pilihan yang anomali, mengingat tradisi alumni di SMA saya nyaris semuanya masuk di bidang teknik atau kedokteran. Saat itu pun saya sama sekali tidak mempertimbangkan prospek pekerjaan untuk bidang psikologi. Saya hanya berbekal rasa penasaran dan ketertarikan yang begitu besar pada bidang psikologi.


Pada masa itu, saya masih sering menjumpai orang-orang yang melihat dunia psikologi berkelindan dengan dunia Rumah Sakit Jiwa dan segala penyakit kejiwaan lainnya. Anggapan yang tidak salah karena sejarah ilmu psikologi memang berawal dari ranah psikologi klinis. Setelah masuk ke dunia perkuliahan, barulah saya sadar bahwa cakupan ilmu psikologi teramat luas. Saking luasnya, bisa dikatakan selagi masih ada manusia, maka ilmu psikologi akan tetap berkembang. Umumnya ilmu psikologi di Indonesia dibagi menjadi beberapa konsentrasi, seperti psikologi pendidikan, psikologi klinis, psikologi industri dan organisasi, psikologi perkembangan, dan psikologi sosial.


Saya sendiri ketika masih kuliah sebenarnya lebih berkonsentrasi pada materi psikologi klinis dan perkembangan. Tugas akhir saya pun berupa studi kualitatif dengan subjek penderita thalassemia. Tapi nyatanya, sejak lulus hingga saat ini saya berkarier di bidang pengelolaan sumber daya manusia, dalam dunia industri. Biasanya, posisi sarjana psikologi dalam sebuah perusahaan berada di bagian Human Resources Development. Nah, menariknya, tidak semua posisi Human Resources terpaku pada latar belakang ilmu psikologi. Barangkali jika syaratnya adalah ilmu manajemen atau pun ilmu hukum memang masih berada dalam ranah pengembangan sumber daya manusia. Tapi beberapa perusahaan, ada yang membuka posisi Human Resources dengan persyaratan sarjana teknik informatika dan teknik sipil. Kalau begitu, apa spesialnya seorang sarjana psikologi?


Seperti yang telah saya katakan di awal artikel ini, ilmu psikologi cakupannya amat luas. Sehingga tidak menutup kemungkinan ia bersinggungan, bahkan bergabung dengan disiplin ilmu yang lain. Apalagi ditambah dengan menjamurnya buku-buku psikologi populer yang umumnya menjadi best seller di toko buku besar. Untuk profesi-profesi yang kelihatannya “dekat” dengan ilmu psikologi, seperti motivator, trainer, ataupun konselor, toh banyak diisi oleh orang yang tidak bergelar sarjana psikologi. Beberapa rekan saya sempat berseloroh bahwa para motivator atau para trainer itu telah “memakan” lahannya orang psikologi. Bagi saya pribadi, kenyataan seperti itu sebenarnya adalah tantangan nyata bagi para sarjana psikologi agar senantiasa meningkatkan dan memperbarui kompetensi keilmuannya.


Seorang sarjana psikologi idealnya mengetahui hukum-hukum dasar dalam pola perilaku manusia, baik di dunia pendidikan, klinis, atau pun dunia industri. Penguasaan terhadap alat tes adalah salah satu kompetensi penting bagi sarjana psikologi, tapi bukan yang terpenting. Sejatinya alat tes hanyalah media untuk melakukan penilaian terhadap kondisi psikologis seseorang, baik sisi kecerdasan atau sisi kepribadian. Psikotes menjadi semacam salah satu sumber untuk melakukan penilaian . Selain itu, sarjana psikologi harus mampu menjadi seorang pengamat perilaku yang ulung sekaligus pendengar yang aktif. Menjadi pendengar aktif bukan hal mudah, karena kita harus bisa fokus terhadap apa yang dikatakan oleh orang lain, sekaligus bisa memberikan tanggapan yang tepat terhadap apa yang telah ia utarakan.


Kode etik psikologi memang mengatur masalah pengetesan psikologi (psikotes) yang hanya boleh dilakukan oleh kalangan dari dunia psikologi. Namun untuk penilaian sikap yang lain, seperti wawancara misalnya, bisa saja dilakukan oleh orang yang tidak memiliki dasar ilmu psikologi. Berdasarkan pengalaman saya di dunia kerja, terlihat perbedaan cara melakukan wawancara antara seorang sarjana psikologi dengan yang bukan sarjana psikologi. Pewawancara yang bukan sarjana psikologi, cenderung mendominasi sesi wawancara dan hanya menyediakan ruang yang sedikit bagi pelamar kerja untuk menggambarkan kondisi dirinya. Padahal wawancara adalah salah satu media untuk menilai dan membiarkan pelamar kerja terbuka terhadap kondisi dirinya. Maka idealnya, dalam sesi wawancara, pewawancara bicara lebih sedikit daripada yang diwawancarai. Tapi itu biasanya tergantung pada jam terbang seorang pewawancara. Semakin sering ia mewawancarai orang, biasanya kompetensi mendengarkan aktif akan semakin terasah.


Maka, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Daripada para sarjana psikologi berkeluh kesah karena merasa bidangnya diisi oleh orang-orang non psikologi (bidang Human Resources, motivator, atau trainer), lebih baik kembangkan terus ilmu psikologi dalam diri anda. Bagaimanapun juga, saya yakin para sarjana psikologi tetap memiliki ruh dan DNA psikologi yang tidak dimiliki oleh orang-orang dari luar bidang psikologi. Hanya masalahnya, bagaimana cara anda menjaga agar ruh tersebut tetap hidup atau membiarkannya mati tak berbekas.


Salam dari dunia psikologi!

Yudi Kurniawan

/yudikurniawan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Psikolog Klinis | Penikmat buku dan semesta | Yogyakarta | Contact at kurniawan.yudika@gmail.com | Berkicau di @yudikurniawan27 |
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?