Perilaku Menyimpang pada Remaja: Kriminal atau (Hanya) Kenakalan Remaja?

19 Februari 2012 11:49:55 Dibaca :
Perilaku Menyimpang pada Remaja: Kriminal atau (Hanya) Kenakalan Remaja?
Kenakalan pada remaja (sumber: duniaremaja99.blogspot.com)

Kasus-kasus kenakalan anak dan remaja sering menimbulkan pro dan kontra di antara pihak penegak hukum dan pemerhati dunia anak. Lihat saja kasus penusukan teman sebaya yang dilakukan oleh seorang siswa SD berinisal Amn. Kasus ini mendapat perhatian dari banyak pihak karena termasuk “sadis” untuk dikategorikan sebagai kenakalan remaja (usia biologis Amn adalah 13 tahun). Berdasarkan keterangan yang dihimpun Kepolisian dari pihak-pihak yang terkait dengan kasus ini, Amn sebelumnya ternyata mencuri ponsel milik korban. Hasil penjualan ponsel tersebut dibagi-bagi kepada dua orang teman Amn berinisial Gb dan Kf. Kf yang mendapatkan “uang jatah” paling kecil dan merasa pembagian itu tidak adil, akhirnya melaporkan pencurian tersebut kepada korban. Korban meminta agar Amn mengembalikan ponsel miliknya, namun Amn menolak. Penusukan itu terjadi ketika Amn dan korban berangkat sekolah bersama-sama (KOMPAS, 19 Februari 2012). Dalam kacamata hukum, bukti-bukti dan keterangan dari saksi yang memberatkan Amn adalah pintu menuju hukuman. Tapi Amn masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur yang seharusnya mendapatkan pembinaan, bukan hukuman penjara. Pertanyaannya adalah: Bagaimana Amn yang baru berusia 13 tahun bisa melakukan tindakan yang keji bahkan untuk ukuran orang dewasa sekalipun?

Jika dilihat dari perspektif psikologi perkembangan, penyimpangan perilaku yang terjadi pada anak-anak di bawah umur dan remaja seharusnya dikategorikan pada kenakalan remaja (juvenile delinquency). Kenakalan remaja ini adalah perilaku-perilaku yang secara umum tidak dibenarkan oleh normal sosial, seperti tindak pelanggaran di rumah ataupun sekolah hingga ke ranah kriminal. Lalu apa bedanya jika tindakan yang melanggar norma sosial (termasuk tindak kriminal) tersebut dilakukan oleh orang dewasa? Orang dewasa dianggap sadar sepenuhnya terhadap setiap tindakan yang ia lakukan (meskipun tidak semuanya seperti ini). Sementara Amn adalah siswa SD berusia 13 tahun, yang artinya ia masih dikategorikan sebagai remaja (lebih spesifik lagi fase remaja awal). Secara umum, indikator perkembangan pada fase usia tersebut adalah kebingungan terhadap identitas. Remaja membentuk identitas dari apa yang ia lihat (imitasi). Amn tinggal bersama kakaknya di sebuah rumah petak. Tidak ada lahan bermain disana. Sementara kakaknya bekerja dari pagi hingga sore. Kemungkinan besar, Amn tidak mendapatkan perhatian dari keluarga yang seharusnya melindunginya. Lingkungan berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang, apalagi jika ia masih remaja.

Pada masa-masa usia remaja awal, apapun situasi tidak menyenangkan yang dihadapi oleh si remaja, pasti akan ditanggapi dengan berlebihan (bahasa gaulnya: lebay). Misalnya ketika ada remaja yang diejek oleh temannya gara-gara warna pakaiannya dianggap norak. Yakinlah, hari itu pasti akan menjadi bad day bagi si remaja. Dia bisa saja ia menjadi malas keluar kamar dan malas makan. Oleh karena itu, figur orang dewasa (terutama orangtua dan keluarga) sangat diperlukan oleh remaja agar ia dapat berkeluh kesah tentang kegalauannya. Tekanan sekecil apa pun, bagi remaja akan dianggap sebagai sebuah petaka besar.

Kasus Amn ini bermula dari pencurian ponsel. Mengapa Amn berani mencuri ponsel kemudian menjualnya? Kemungkinan besar, Amn pernah melakukan perilaku mencuri “kecil-kecilan” sebelum akhirnya berani mencuri ponsel. Apakah Amn memang membutuhkan uang sehingga harus menjual ponsel? Kita tidak tahu. Satu hal yang pasti, ada kerancuan identitas sehingga Amn akhirnya melakukan perilaku mencuri. Bisa jadi ia kurang mendapatkan perhatian dari keluarga dan lingkungannya. Perilaku ini berlanjut ke penusukan dengan menggunakan senjata tajam. Bagaimana Amn bisa setega itu dan mencampakkan korban ke dalam got (korban ditemukan bersimbah darah di dalam got)? Menurut saya, Amn melakukan imitasi perilaku dari media massa (koran ataupun televisi). Jika kita perhatikan, nyaris semua korban pembunuhan yang diberitakan oleh media massa ditemukan di selokan, semak-semak, atau tempat tersembunyi lainnya. Amn merasa tertekan karena pencuriannya diketahui oleh korban. Ia kemudian menusuk korban dengan senjata tajam dan mencampakkan korban ke got sebagai cara untuk menghilangkan jejak perbuatannya.

Korban sudah ada, lalu bagaimana hukuman yang pantas untuk kenakalan remaja (bahkan yang masuk kategori sadis seperti kasus Amn ini)? Penjara bukanlah tempat pembinaan yang tepat karena seringkali dari penjaralah anak-anak belajar tentang kejahatan yang lain. Amn seharusnya diberikan pembinaan dari profesional seperti psikolog atau konselor. Berani menyakiti orang lain dengan senjata tajam menunjukkan bahwa Amn banyak belajar tentang norma sosial yang dilanggar. Misalnya, norma sosial mengatakan bahwa berbohong adalah perilaku yang salah. Tapi ketika pada realitanya kita melihat semua orang pernah berbohong, masihkah kita teguh untuk tidak melakukan kebohongan? Kasus ini adalah refleksi dari gagalnya lingkungan dan orangtua membentuk karakter positif dari seorang anak. Amn kemungkinan pernah menyaksikan begitu banyak normal sosial yang dilanggar (mulai dari yang sepele hingga yang berat seperti pencurian misalnya). Anak hanyalah korban dari kegagalan pendidikan tersebut.

Kegalauan yang terlihat berlebihan pada remaja saat ini sebenarnya merupakan refleksi dari kebutuhan yang besar agar mereka diperhatikan. Artinya, remaja-remaja di perkotaan banyak yang kurang mendapatkan perhatian dari lingkungan terdekat mereka. Jika remaja bisa menemukan saluran positif bagi energinya yang begitu besar, yakinlah mereka akan menjadi manusia kreatif. Mari kita selamatkan generasi muda bangsa ini dari kenakalan-kenakalan yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Generasi muda yang hancur adalah kerugian besar bagi sebuah negara.

Semarang, 19 Februari 2012.

Yudi Kurniawan

/yudikurniawan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Psikolog Klinis | Penikmat buku dan semesta | Yogyakarta | Contact at kurniawan.yudika@gmail.com | Berkicau di @yudikurniawan27 |
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?