Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan highlight headline

Beginilah Posisi Perawat Indonesia di Pentas Dunia

18 April 2017   10:12 Diperbarui: 20 April 2017   19:54 334 4 1
Beginilah Posisi Perawat Indonesia di Pentas Dunia
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Tidak kalah berkualitas! Demikian yang menjadi kesimpulan saya ketika menghadiri acara 7th APETNA 2017, (Asia Pasific Entrostomal Therapy Nursing Association) yang diselenggarakan di Bogor pada akhir pekan lalu. Kegiatan ini sendiri merupakan sebuah konferensi tigkat dunia dengan format scientific meeting yang dilangsungkan oleh perkumpulan perawat internasional yang memiliki fokus yang sama dalam hal penanganan kasus-kasus luka.

Bagaimana tidak, sekitar 600 perawat berkumpul dari sekitar 18 penjuru negara di dunia. Tentu terbayang bagaimana kendala komunikasi terjadi di antara mereka. Tetapi setidaknya satu hal yang sama adalah mereka memiliki kecintaan yang akan akan profesi keperawatan, serta termotivasi untuk melakukan ranah penelitian keperawatan.

Hal ini dengan mudah terlihat dari tebalnya bundel buku kumpulan prosiding, dari berbagai makalah yang terkumpul dari hasil observasi dan pengamatan. Hasil penelitian yang didapat melalui aplikasi praktikal keperawatan penanganan luka di seluruh dunia itu, dibahas dan terjadi proses pertukaran informasi serta ilmu pengetahuan, dengan begitu aspek keilmuan berkembang.

Sesungguhnya profesi perawat memiliki peluang untuk dapat diakui pada dunia internasional, prasyaratnya adalah kompetensi. Ya, kombinasi pengetahuan dalam body of knowledge ilmu kesehatan dan keperawatan, ditambah dengan skill atas keterampilan pelayanan, plus dengan attitute atas sikap dan perilaku yang ramah dan menghargai adalah kekuatan bersaing utamanya.

Jadi, dengan melihat perkembangan dalam 7th APETNA Confrence, sekali lagi perawat Indonesia telah dapat memosisikan kelasnya setara dengan derajat dan kualitas kemampuan profesi keperawatan di mancanegara lainnya. Tampil percaya diri akan kompetensi yang dimilikinya. Salut dan bravo!

Diabetes Semakin Mengancam!

Bagian ini adalah sisi lain yang dapat disimpulkan pada pertemuan itu. Dari berbagai makalah yang ada dalam kegiatan tersebut, khusus untuk Indonesia, Diabetes Mellitus adalah sebuah ancaman yang semakin terbuka. Betapa tidak, Indonesia merupakan urutan ke-4 di dunia dalam prevalensi diabetes.

Bahkan, diperkirakan dari 240 juta penduduk, akan terdapat 21.3 juta penderita diabetes pada tahun 2030. Sesuai apa yang telah terjadi saat ini, maka penderita Diabetes, hampir 15% di antaranya menderita Ulkus (luka terbuka pada permukaan kulit). Lebih jauh lagi, diabetes memiliki potensi komplikasi dengan berbagai fungsi berbagai organ lain, termasuk mata, kulit, jantung, dan ginjal.

Karena itu, upaya untuk melakukan pengelolaan pasien Diabetes, khususnya pada periode pra dan pasca perlukaan harus menjadi concernĀ yang serius. Jelas, bahwa kondisi Ulkus bagi pasien Diabetes akan secara langsung mengganggu kualitas kehidupannya. Hasil penelitian dari perawat Indonesia yang menarik dalam hal tersebut adalah mengombinasikan terapi medik penanganan luka dengan menggunakan terobosan aplikatif balutan luka herbal.

Meski masih membutuhkan studi lebih mendalam akan konsistensinya, herbal dalam hal ini serat kunyit dapat membantu mengatasi terjadinya inflamasi (peradangan luka). Kunyit alias Curcuma Domestika memiliki kandungan Kurkumin yang dapat dijadikan sebagai antiinflamasi sekaligus antibiotika pada permukaan kulit disekitar luka.

Nah, kalau sudah demikian, perlu peran pemerintah untuk melihat hasil studi awal penelitian tersebut, untuk dapat dikembangkan sebagai terjemahan atas keseriusan komitmen pemerintah dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Hal ini sekaligus, mendorong terbentuknya perawat berkualitas tidak hanya dalam aspek keperawatan, namun juga penelitian keperawatan.