Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dua Survei, Beda Rasa

7 Maret 2019   21:16 Diperbarui: 7 Maret 2019   21:45 338
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

BERBEDA! Rilis dua lembaga survei itu, ada dalam tafsir yang tidak sama. Tentu sah-sah saja. Pekan ini ekspose hasil riset PolMark dan LSI Denny JA muncul hampir bersamaan. Metode yang diambil hampir tipikal, tapi dalam interpretasi yang berbeda.

PolMark dalam keterangan rilisnya, membuka bahwa kegiatan survei yang dilakukan adalah hasil kerjasama dengan PAN untuk memotret situasi yang berkembang ditengah publik saat ini, terkait dengan Pilpres dan agenda politik nasional yang mendapatkan perhatian luas dari masyarakat.

Konklusi yang dibentuk, melalui hasil penelitian PolMark sekurangnya ada beberapa poin, termasuk diantaranya terdapat dua tema yang paling krusial dicermati berkaitan dengan kontestasi Pilpres, yakni (a) kompetitifnya pilpres meski Jokowi masih unggul, tapi angka elektabilitasnya hanya 40,4% saja, dan (b) fokus masalah yang ada benak publik adalah perbaikan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

Pada kedua persoalan itu, hasil yang diperoleh membuat kedua kubu harus memperbaiki diri jelang sebulan masa pencoblosan. Bagi petahana, tingkat keterpilihan yang hanya berada dibawah 50%, jelas merupakan sebuah warning, sebagai sebuah sinyalemen yang membahayakan. 

Pengelolaan janji kampanye perlu diperbaiki, terutama untuk memastikan ketertarikan dari pemilih yang belum menentukan pilihan, maupun para pemilih yang masih mungkin akan berubah. Hal ini mungkin sekaligus menjelaskan situasi saat ini, dimana secara tidak mengherankan kemudian program kartu sakti kembali diwacanakan.

Sementara itu itu bagi oposisi yang baru 25.8% nilai elektabilitasnya, terang perlu kerja keras di sisa waktu yang mendekati tenggat. Momentum debat akan menjadi kerangka pembuka, menghindari potensi blunder adalah bentuk strategi lain yang juga harus dipikirkan. Beruntungnya, isu yang menjadi perhatian publik selaras dengan suara yang selama ini diaspirasikan pasangan calon ini, utamanya soal perbaikan ekonomi dan lapangan pekerjaan. Bekalan itu harus dimaksimalkan dalam upaya mempersuasi sekitar 33.8% undecided voters.

Pilpres dalam Balut Identitas

Berbeda dengan PolMark, hasil survei LSI Denny JA mencoba menyoroti tentang korelasi pemilih muslim dan minoritas terkait dengan elektabilitas Pilpres. Temuan yang dihasilkan, sangat meyakinkan. Kemenangan mutlak Jokowi dinyatakan dengan tingkat elektabilitas yang mencapai 58.7%. Selisih jarak dengan penandingnya sangat jauh terpaut 28%.

Populasi yang belum menentukan pilihan hanya 9.9% dan lebih jauh lagi fluktuasi dinamika elektabilitas Jokowi sebagai petahana semakin terkonsolidasi dan menguat mendekati hari-H Pilpres. Sementara itu, pada sisi yang berbeda, lompatan elektabilitas oposisi relatif stagnan dari waktu ke waktu. 

Temuan LSI Denny JA setidaknya menjadi menarik dalam beberapa kesimpulan besar, diantaranya; (a) pemilih terepresentasi sebagai pemilih muslim 87.8%, (b) sebanyak 71% dari pemilih muslim menilai kondisi ekonomi baik, dan (c) sekitar 55.7% dari memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf. Situasinya lebih telak untuk kemenangan Jokowi, pada kelompok pemilih minoritas.

Titik menarik yang kemudian muncul dalam bagian akhir survei LSI Denny JA dalam temuan butir ke (5) Prabowo-Sandi menang pada pemilih muslim konservatif, berorientasi Timur Tengah dan umumnya dari FPI. Sekali lagi, temuan survei tentu normal sebagai hasil kalkulasi statistik. Tetapi ada interpretasi yang bisa multitafsir, terutama dari kesimpulan diboboti oleh kepentingan atas hasil survei yang dirilis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun