Menjejak 3 Warisan Kuliner Kota "Gudang Garam"

28 Februari 2013 15:06:43 Dibaca :

Lokasinya yang masuk dalam daerah administrasi Jawa Timur, diapit 2 gunung. Adalah, Gunung Klotok dan Gunung Maskumambang.

Luas wilayahnya mencapai 63,4 kilometer persegi. Wilayah itu sempat dikuasai oleh seorang raja bernama Sri Samarawijaya pada abad ke 11. Kekuasaanya bertahan cukup lama. Namun, pada akhirnya kerajaan itu tumbang oleh invasi VOC (Perusahaan dagang asal Belanda yang diberi hak monopoli di Indonesia oleh parlemen-nya).

Sebelumnya, atau pada abad ke 12, sebagian wilayahnya pernah dirampas oleh Ken Arok. Di wilayah rampasan itu, kemudian Ken Arok mendirikan sebuah kerajaan. Di kemudian masa, oleh cucunya yang bernama Jaya Wisnuwardhana, kerjaan Ken Arok dinamai Singhasari atau Singasari atawa Singosari.

Ya (bagi yang benar tebakannya), wilayah yang diapit Gunung Klotok dan Gunung Maskumambang seluas 63,4 kilometer persegi, itu adalah Kota Kediri. Kota ini digolongkan sebagai kota yang paling menggiurkan untuk berbisnis dan investasi. Itu ditandai dengan keberhasilan Kediri mendudukkan diri pada peringkat teratas pada ajang Indonesia Most Recommended City for Investment pada tahun 2010 versi SWA dan Business Digest.

Sebuah kota yang juga terkenal kepelosok nusantara lantaran bertengger sebuah perusahaan rokok besar. Perusahaan yang mengolah tembakau itu adalah salah satu raksasa perusahaan rokok di Indonesia. Perusahaan itu menamai diri Gudang Garam.

Tak sedikit pula masyarakat nusantara yang mengidentifikasikan Kota Kediri dengan Kota "Gudang Garam". Sayangnya, julukan kota kretek kadung melekat pada Kabupaten Kudus, asal perusahaan rokok Djarum. Jika tidak, mungkin Kediri juga layak mendapat julukan itu.

Perekonomian bertumbuh. Simbol-simbol kapital bertengger kokoh di sekitaran pusat kota. Restoran cepat saji hingga mall berderet genit menawarkan gaya glamor. Burger, pizza, bukan sajian kuliner yang langka. Di abad ke 20 sajian kuliner khas eropa itu sudah menginvasi wilayah Sri Samarawijaya.

Pun demikian, sepertinya masyarakat di wilayah yang terbelah Sungai Brantas ini tak lantas lupa dengan jati diri kulinernya. Itu dapat dibuktikan oleh masih banyaknya sejumlah toko yang menjajakan menu khas Kediri, yang konon warisan nenek moyang mereka.

Jika bertandang ke Kota Kediri dan punya jadwal wisata kuliner, jejakan kaki ke Jalan Yos Sudarso. Bukan hanya satu, di sepanjang jalan itu berderet toko yang mengkhususkan diri menjual bebagai panganan yang diklaim khas Kota Kediri.

Dari sederet warisan kuliner yang dijajakan, ada tiga di antaranya yang paling berkilau. Yaitu, tahu takwa, stik tahu dan getuk pisang.

Entah kenapa komoditas yang diolah dari kedelai yang dilumatkan ini disebut tahu takwa. Konon, disebut demikian lantaran banyak santri yang menimba ilmu agama Islam di kota "Gudang Garam" itu.

Memang santri yang menimba ilmu agama identik dengan ketakwaan kepada Tuhan. Tapi, apa korelasinya dengan tahu?

Tak usah ambil pusing. Biar saja tetap menjadi misteri. Toh, nama itu membuat orang jadi penasaran, kemudian membeli dan akhirnya mencicipi.

Tapi, yang jelas tahu ini punya tekstur yang beda dengan tahu pada umumnya. Bagian kulitnya berwarna kuning. Asal warna itu konon kabarnya dari kunyit. Teksturnya kenyal dan lembut.

Sebab kekenyalan itu, tahu ini tak mudah hancur. Maka dari itu, tahu ini sangat cocok digunakan sebagai bahan tambahan pada masakan yang ditumis.

Digoreng saja, pun rasanya sudah enak. Gurih sudah pasti, lantaran berbahan kedelai. Gurihnya semakin kuat kalau digoreng memakai minyak kelapa sawit. Tekstur kulitnya bakal terasa renyah bila digoreng hingga kering. Tapi, tetap saja bagian dalam tahu ini tetap kenyal dan sedikit berair.

Stik tahu baru populer belakangan. Sajian kuliner bergenre camilan ini adalah salah satu invonasi dari tahu takwa. Tekturnya renyah, serupa dengan keripik.

Pengolahannya pun mudah. Iris saja tahu takwa dengan ukuran tipis. Beri bumbu yang cenderung asin dan gurih, lalu goreng menggunakan minyak yang benar-benar panas.

Tapi, sepertinya hanya tahu takwa yang dapat diolah menjadi stik tahu. Kenapa? Sebab, syarat tahu agar bisa dibuat stik tahu harus punya tekstur kenyal.

Dicelup di dalam kuah sup, mi atau bakso, dijamin, Anda bakal mendapatkan sensasi rasa tersendiri. Sensasi kriuknya tak kalah dengan pangsit goreng atau kerupuk sekalipun.

Beralih ke getuk pisang.

Dari namanya saja sudah dapat ditebak. Pasti, jajanan pasar ini berbahan dasar buah pisang.

Tapi, tetap saja tak umum. Di ranah Jawa, umumnya getuk diolah dari ketela pohon atau singkong. Mayoritas berasa manis. Agar rasanya juga girih, biasanya ditambah dengan kelapa parut.

Getuk pisang umumnya tidak menggunakan kelapa parut. Agar tekturnya kenyal, biasanya ditambah sedikit tepung sagu atau beras. Rasanya sama dengan rasa getuk pada umumnya, yakni manis.

Tentu saja getuk pisang menawarkan sensasi rasa tersendiri. Rasanya pun tak mengecewakan. Jika Anda adalah penggemar pisang, sepertinya camilan ini harus masuk dalam daftar oleh-oleh yang wajib dibeli ketika bertandang ke kota "Gudang Garam".

Yudha Putra Kusuma

/yudhaputrakusuma

Selalu ingin menulis tentang hal-hal yang menurutku menarik untuk ditulis. Harapannya dapat memberikan inspirasi atau paling tidak informasi buat semua orang. Mengenal orang dari tulisannya. Salam kenal buat semuanya. http://countyfood.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?