Mohon tunggu...
Yudha P Sunandar
Yudha P Sunandar Mohon Tunggu... Wiraswasta - Peminat Jurnalisme dan Teknologi

Lahir, besar, dan tinggal di Bandung. Senang mendengarkan cerita dan menuliskannya. Ngeblog di yudhaps.home.blog.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Ubol Alung, Permata di Keruh Sungai Sembakung

16 Maret 2017   14:16 Diperbarui: 19 Maret 2017   10:00 1126
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rombongan menuju Ubol Alung, Lumbis Ogong, Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: Yudha PS)

Kabut baru saja menyingkir dari barisan pepohonan hutan di pedalaman Kalimantan Utara. Di kejauhan sana, monyet Wahwah (Hylobates muelleri) melantunkan nyanyiannya mengiringi matahari yang beranjak meninggi. Saya, yah saya, yang tengah tinggal di Desa Ubol Alung, baru saja membuka mata dan beranjak ke beranda kantor desa. Tujuannya sederhana saja: menggeliat sembari menguap dan menghirup udara pagi di tengah hutan Kalimantan Utara.

Berada di tengah-tengah hutan Kalimantan merupakan sensasi tersendiri bagi saya. Pasalnya, untuk mencapai lokasi ini membutuhkan usaha yang luar biasa. Setelah melalui penerbangan Jakarta-Tarakan, saya harus melanjutkan perjalanan menuju Malinau Kota dengan menggunakan pesawat baling-baling berkapasitas 40 orang.

Sebenarnya, Malinau Kota sendiri sudah berada di tengah-tengah hutan Kalimantan. Hanya saja, suasana kota membuat sensasi berada di tengah hutan Kalimantan kurang terasa. Tidak heran bila saya begitu bersemangat ketika mengarahkan diri menuju Ubol Alung, di Lumbis Ogong, Nunukan, Kalimantan Utara.

Dari Malinau, saya melanjutkan perjalanan ke Mansalong di Nunukan. Malinau ke Mansalong membutuhkan waktu hanya sekitar satu jam perjalanan darat. Jalanan yang beraspal mulus membuat mata saya terserang kantuk berat dan akhirnya tertidur. Satu hal yang membuat saya akhirnya bisa kembali membuka mata: tepukan supir di pundak saya. “Mas… Mas… Sudah sampai Mansalong,” tuturnya.

Untuk menuju Ubol Alung, saya harus melanjutkan perjalanan menelusuri Sungai Sembakung dengan menggunakan perahu kecil. Beruntung, kawan Jusip Bakulit bersedia menjemput saya di Mansalong, sehingga saya tidak perlu berenang menuju hulu untuk sampai Desa Ubol Alung.

Sembakung sendiri merupakan sungai yang lebarnya sama seperti lebar lapangan bola. Hulu sungai ini terdapat di pegunungan di wilayah Malaysia, sedangkan hilirnya mencapai lautan di dermaga Nunukan. Laju arus sungai ini begitu variatif. Rumusnya, semakin ke hilir, arus semakin deras. Bahkan, mendekati hulu, perahu harus melaju di atas sungai dengan jeram yang begitu deras.

Dahulu, air sungai ini begitu bersih dengan arus yang lebih tenang dibandingkan hari ini. Namun, semua berubah sejak gundulnya hutan di pegunungan Malaysia. Sejak saat itu, air sungai ini berwarna cokelat keruh dengan arus yang lebih deras pada musim hujan. Bahkan, bila hujan sangat deras di daerah hulu, tidak jarang air sungai Sembakung meluap dan merendam pemukiman sepanjang aliran sungai.

Desa Ubol Alung sendiri merupakan satu dari puluhan desa yang membangun peradabannya di sepanjang aliran Sungai Sembakung. Desa-desa ini termasuk dalam kategori desa pedalaman. Pasalnya, mereka benar-benar hidup di tengah-tengah hutan hujan tropis Kalimantan yang lebat dan kaya akan satwa liar, termasuk satwa endemik dan terancam punah.

Satu-satunya transportasi untuk mencapai desa-desa ini adalah perahu. Beruntung, kini sudah ada perahu dengan mesin motor di belakangnya yang membuat perjalanan dari hilir ke hulu menjadi semakin mudah dan cepat. Dahulu, masyarakat harus mendayung untuk sampai ke tujuan. Tidak heran bila perjalanan yang kini bisa ditempuh dalam waktu satu jam, dahulu hanya bisa ditempuh dalam waktu enam hingga delapan jam.

Belum lagi bila masyarakat harus berhadapan dengan jeram. Mereka harus “mempersenjatai” perahunya minimal dengan dua mesin motor yang masing-masing berkekuatan 40 PK. Itu pun harus dikendarai oleh juru mudi yang berpengalaman. Bila tidak, bisa-bisa perahu karam dan menghanyutkan apa pun yang ada di atasnya.

Saya sendiri termasuk yang beruntung ketika menyusuri Sungai Sembakung. Pasalnya, Desa Ubol Alung terletak di bagian sungai yang berarus sedang. Selain itu, perahu yang dibawa kawan Jusip pun sudah dilengkapi dengan mesin motor di belakangnya. Hal ini membuat saya tidak perlu mendayung dan hanya perlu duduk manis di perahu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun