Yudha Bantono
Yudha Bantono Dokter Hewan

Veterinarian, Art and architecture writer yubantono@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan headline

Sanur Mostly Jazz Festival, Panggung Jazz Gaya Pantai yang Aduhai

15 Juli 2017   21:46 Diperbarui: 16 Juli 2017   13:21 200 0 0
Sanur Mostly Jazz Festival, Panggung Jazz Gaya Pantai yang Aduhai
Panggung SMJF Foto Gusde

SUASANA Pantai Sanur yang remang-remang tiba-tiba berubah meriah. Dua panggung jazz yang disediakan bagi para musisi dan pelantum tembang jazz benar-benar berhasil menyulapnya, pantulan lampu-lampu hotel dan restaurant seakan redup karena kalah cahaya.

Penonton yang setia menunggu dari jam 5 sore telah menempati tempat duduknya. Lalu lalang orang-orang, baik warga Sanur maupun wisatawan terhenti sejenak melihat panggung yang hidup dengan alunan musik berikut penonton yang larut ikut bernyanyi atau bertepuk tangan.

Dewa Budjana Zentuary, Foto Djaja Tjandra Kirana
Dewa Budjana Zentuary, Foto Djaja Tjandra Kirana

Ida Bagus Gede Sidharta Putra atau yang akrab dipanggil Gusde sebagai penggagas festival, mengatakan panggung jazz yang digelar selama tiga hari 14-16 Juli memang ingin mendekatkan musik jazz kepada penggemarnya di Bali. Bukan tanpa alasan panggung jazz ini dihelat di Sanur sekaligus sebagai pembuka Sanur Village Festival yang ke 12 pada 9-13 Agustus mendatang. "Yang jelas saya merasa bangga atas respon penggemar musik jazz sejak hari pertama hingga malam ini hari kedua (14/7) yang terlihat penuh mengisi tempat-tempat di depan panggung, serta responnya yang sanggat luar biasa", tuturnya.

Hal senada dikatakan Indra Lesmana yang juga sebagai penggagas SMJF, Indra yang menggawangi Santrian Mostly Jazz sejak dua tahun lalu hingga kini 52 episode merasa festival ini bukan sekedar selebrasi, namun bagaimana musik jazz dapat memberikan ruang bagi kreativitas seni lintas dimensi serta hadirnya bakat-bakat muda. Besok pagi ketika matahari baru terbit Indra dengan garapan Surya Suwana akan menutup rangkaian festival yang diikuti dengan penampilan Mostly Jazz Brunch dan Jam Session.

Balawan, Foto Djaja Tjandra Kirana
Balawan, Foto Djaja Tjandra Kirana

Memaknai kehadirannya di Pantai Sanur, spirit seperti yang pernah disampaikan mendiang Perdana Menteri India Nehru Bali Morning of the World serasa akan dihadirkan esok pagi. SMJF juga akan menggelar serangkaian aksi lingkungan hidup berupa beach clean up dan pelepasan tukik ke lepas pantai. Kegiatan ini menurut Gusde sebagai bagian penghormatan kepada alam, khususnya Pantai Sanur yang telah memberikan limpahan berkah bagi denyut nadi kehidupan pariwisata dan masyarakat.

Tohpati, Foto Gusde
Tohpati, Foto Gusde

Seperti yang telah manggung di SMJF hari pertama (14/7) Koko Harsoe Trio, Balawan, Yuri Mahatma Quarted feat Nancy Ponto, Dewa Budjana Zentuary dan Idang Rasjidinfeat Nesia Ardi.

Pergelaran pada hari kedua (15/7) dimulai pada pukul 16.30 wita menampilkan Sandy Winarta Trio. Embusan angin pantai seolah berkejaran dengan irama drum yang dipukul ritmik oleh Sandy, musisi kelahiran Denpasar, alumnus Australian Institute of Music, Sydney, Australia dan New School for Jazz and Contemporary Music di Manhattan, New York, AS.

Berikutnya penampilan gitaris Tohpati yang membawakan beberapa komposisi dari album solonya. Sajian musik Tohpati dan band pun membuat romantis senja di Pantai Sanur. Sebagai gitaris andal, Tohpati pernah merilis sejumlah album besama grup seperti Simak Dialog, Halmahera, dan Trisum. Ia juga dikenal melambungkan sederet penyanyi pop Indonesia selama dekade ini.

Musisi Ito Kurdhi yang tampil berikutnya merasa bahagia karena tiga hari sebelumnya meluncurkan album 'Terbang Melayang'. "Ya, saya bersyukur bisa tampil di ajang ini sekalian untuk memperkenalkan dan promosi album baru," kata pembetot bass yang pernah tampil di sejumlah festival ini.

Yang membuat suasana festival kian panas adalah kehadiran Sandhy Sondoro. Kelincahan gerak dan kekhasan vokalnya serta lirik yang cocok di kala hati galau, membuat sebagian penonton tak tahan untuk bergoyang. Maka meluncurkan beberapa lagu dari sederet albumnya Why Don't We (2008), Jazz In The City with Sandhy Sondoro (kompilasi) (2009), Sandhy Sondoro (2010), Find The Way (2012), Vulnerability (2014), Berlin! Berlin! Lck Lieb Dir So Sehr (2016), dan Love Songs (2016).

Gongnya adalah performa gitaris senior Oele Pattiselanno yang menggandeng vokalis jazz Margie Segers. Keduanya kerap tampil bersama mendiang Jack Lesmana pada 1970-an baik di panggung jazz maupun di dapur rekaman. Waktu tampil sejam rasanya masih kurang untuk menyaksikan musikalitas Oele.

SMJF, Foto Dewandra
SMJF, Foto Dewandra

Dewa Budjana yang kemarin hadir membawakan album Zentuary yang merupakan album kesepuluhnya, mengatakan sebuah penghargaan dapat menghadirkan album zentuary di Bali di panggung SMJF karena memang album ini memang berakar kuat dari Bali. Lebih lanjut Budjana sangat berharap festival jazz di pinggir pantai ini bisa terus berlanjut setiap tahun, dan kian mengukuhkan Sanur sebagai destinasi musik jazz karena memiliki perjalanan historis seperti halnya seni rupa yang berkembang di daerah ini. "Sanur adalah oase kreatif bagi seniman apa saja, lebih-lebih di dukung posisi tempat yang strategis di tengah-tengah antara Nusa Dua, Kuta dan Ubud", katanya.