Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Pelajaran dari Negara Raksasa Sepak Bola Asia

18 Juli 2017   00:41 Diperbarui: 18 Juli 2017   00:48 51 1 0

Jika bicara soal negara raksasa sepak bola benua Asia (AFC) masa kini, yang biasanya rutin disebut adalah Korea Selatan, Jepang, Australia (menjadi anggota AFC pasca Piala Dunia 2006), Arab Saudi, dan Iran. Kelimanya memang sama-sama pernah juara Piala Asia, dan kerap tampil di Piala Dunia. Prestasi ini, jelas tak lepas dari bagusnya kualitas kompetisi domestik, dan sistem pembinaan pemain mereka, yang sudah mampu mengekspor bintang lokal mereka ke Eropa. Misalnya, Shinji Kagawa (Jepang, Borussia Dortmund), dan Son Heung Min (Tottenham Hotspur, Inggris)

Jika melihat bagaimana performa negara-negara ini di tingkat benua, mereka tampak sangat superior. Saking hebatnya, bisa menahan imbang, atau bahkan kalah tipis saja sudah terasa membanggakan. Situasi ini pernah dirasakan timnas Indonesia, saat kalah dari Arab Saudi (1-2), dan Korea Selstan (0-1), di ajang Piala Asia 2007. Kala itu, meski kalah tipis, Tim Garuda tetap banjir pujian.

Superioritas para raksasa Asia di level benua ini, membuat ajang Piala Asia terasa membosankan, minim kejutan. Kalaupun ada kejutan, jumlahnya tidak banyak. Misalnya, kejutan timnas Irak, saat menjuarai Piala Asia 2007. Untuk level Piala Dunia pun, mayoritas masih berkutat pada para raksasa Asia. Diluar mereka, hanya ada Tiongkok (2002), Kuwait (1982), Irak (1986), Uni Emirat Arab (1990), Israel (1970, kini anggota UEFA). Menariknya, sejarah mencatat, dari Asia-lah ada satu-satunya negara peserta yang ikut tampil di Piala Dunia, dengan status masih belum merdeka. Negara itu adalah Hindia Belanda (kini Indonesia), yang tampil pada Piala Dunia edisi 1938 di Prancis, sebagai wakil Asia pertama di Piala Dunia. Wakil Asia pertama ini langsung tersingkir di babak awal, setelah kalah 0-6 dari Hongaria.

Tapi, di ajang Piala Dunia, superioritas para raksasa ini seolah lenyap. Mereka kerap kesulitan lolos dari babak awal Piala Dunia. Kalaupun ada yang lolos ke babak lanjutan (16 besar), jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Mereka adalah: Jepang (2002 dan 2010), Korea Selatan (2010), dan Arab Saudi (1994). Untuk perempat final, ada Korea Utara (1966). Di tingkat semifinal, ada Korea Selatan (2002).

Hanya saja, tanpa bermaksud mendiskreditkan, capaian Tim Ginseng tahun 2002 tergolong kontroversial. Karena, pada fase gugur (16 besar vs Italia, dan 8 besar vs Spanyol), mereka banyak diuntungkan oleh keputusan kontroversial wasit. Belakangan, dalam kasus megakorupsi FIFA, yang beberapa waktu lalu sukses melengserkan Sepp Blatter, muncul dugaan bahwa prestasi ini sudah diskenariokan sebelumnya. 

Motivasinya jelas; Korea Selatan ingin melampaui prestasi tertinggi Korea Utara tahun 1966. Menariknya, 3 negara yang dihadapi Korea Selatan di fase gugur Piala Dunia 2002, yakni Italia, Spanyol, dan Jerman, secara kebetulan menjadi juara di 3 edisi Piala Dunia berikutnya. Italia menjuarai edisi 2006, Spanyol juara edisi 2010, dan Jerman juara edisi 2014. Sebuah kebetulan yang aneh.

Jebloknya performa para raksasa Asia di Piala Dunia, dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, mereka terbiasa bermain dengan terlalu mengandalkan keunggulan fisik yang dimiliki (misal postur tubuh, dan kecepatan), dan kurang mengoptimalkan aspek teknik. Di tingkat Asia, pola permainan ini memang ampuh. Tapi, di tingkat dunia, ini adalah bunuh diri. Karena, lawan-lawan dari benua lain (Afrika, Eropa, dan Amerika) lebih unggul secara fisik, dan teknik.

Kedua, ego individu yang masih kuat untuk bersinar sendirian dalam tim. Secara kultural, ini memang mejadi sisi paradoksal karakter masyarakat Asia; bersifat kolektif, tapi ego individunya cukup tinggi. Akibatnya, kerja sama tim cenderung lemah, dan rawan dieksploitasi lawan. Tak heran, jika para raksasa Asia malah jadi kerdil di tingkat dunia.

Ketiga, adanya rasa mudah puas, dan terlalu menghormati lawan. Akibat rasa mudah puas inilah, wakil-wakil Asia tak bisa konsisten mencetak prestasi bagus di Piala Dunia. Selain itu, mereka juga terlalu menghormati tim lawan, terutama lawan dengan nama besar. Akibatnya, performa tim tidak maksimal, lawan pun tak akan segan membantai. Padahal, sepak bola adalah olahraga kompetitif, dimana posisi tiap tim yang bertanding setara saat laga berlangsung.

Memang, selain Asia, ada regional lain yang prestasinya lebih jeblok di tingkat dunia, yakni Oseania. Tapi, jebloknya prestasi tim-tim dari negara Oseania bisa dimaklumi. Karena, mereka sama sekali belum mempunyai kompetisi profesional, tak seperti di Asia.

Jebloknya prestasi tim-tim raksasa Asia di tingkat dunia, seharusnya dapat menjadi pelajaran kita bersama. Selain membangun sistem pembinaan, dan kompetisi yang baik, menyeimbangkan aspek fisik dengan teknik, membangun sifat kompetitif, dan memupuk budaya kerjasama tim juga tak kalah penting. Karena, sepak bola adalah olahraga kompetitif, yang memadukan aspek fisik, teknik, dan kerja sama tim secara seimbang, lewat latihan secara terus menerus, demi mencapai hasil terbaik secara konsisten.