Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

"De Ja Vu" Frank De Boer

12 September 2017   16:36 Diperbarui: 12 September 2017   16:43 710 4 1

Dalam sepak bola, pecahnya sebuah rekor, adalah sebuah prestasi tersendiri. Karena, hal itu tak selalu bisa terjadi tiap pekan. Hanya saja, menurut sifatnya, sebuah rekor baru, dibedakan menjadi rekor positif, dan rekor negatif. Sifat inilah, yang membuat sebuah rekor selalu memunculkan beragam opini, termasuk pro dan kontra.

Jika rekor yang dihasilkan adalah rekor positif, misalnya rekor kemenangan beruntun, atau rekor pencetak gol terbanyak, maka pujian akan mengalir. Kadang, pujian ini akan diikuti munculnya perbandingan, dengan tim/pemain terbaik di masa lalu. Tapi, jika rekor buruk yang didapat, kritik akan datang. Kadang, jika situasi dianggap sudah sangat buruk, pemecatan pun akan didapat sang pelatih.

Situasi inilah, yang baru saja terjadi di Crystal Palace, klub kontestan EPL asal kota London. Akibat mencatat rekor start terburuknya, setelah selalu kalah di 4 laga awal EPL, tanpa pernah mencetak gol, pada Senin (11/9) lalu, The Eagles resmi memecat pelatih Frank De Boer. Pelatih asal Belanda ini dipecat, sehari setelah Palace takluk 0-1 dari Burnley. Dengan ini, De Boer menjadi pelatih klub EPL pertama yang mengalami PHK di musim ini. Palace lalu bergerak mendekati Roy Hodgson (eks pelatih timnas Inggris), untuk menggantikan De Boer.

Bagi De Boer, pemecatannya ini adalah "de ja vu", dari apa yang dialaminya tahun lalu di Inter Milan. Kala itu, ia dipecat hanya 12 pekan setelah ditunjuk sebagai pelatih, jelang bergulirnya musim baru, akibat jebloknya performa Si Ular. Kali ini, ia dipecat Palace, hanya 11 pekan setelah mulai bertugas, dengan penyebab yang sama; performa buruk tim.

Mirisnya, pemecatan ini meninggalkan dua rekor buruk. Bagi De Boer sendiri, ini adalah rekor karir tersingkatnya sebagai pelatih. Rekor ini memecahkan rekor sebelumnya, saat menukangi Inter Milan musim lalu. Sementara  bagi Palace, kalah 4 kali beruntun tanpa mampu mencetak gol, adalah rekor start terburuk mereka di EPL. Sejak kompetisi Liga Inggris memakai format Premier League, inilah rekor start terburuk yang pernah terjadi. Meski angka kebobolan Palace (7), lebih unggul dari Liverpool (8), dan Arsenal (8), masalah kemandulan lini depan mereka sudah terlanjur kronis.

Dipecatnya De Boer oleh Palace, menciptakan sebuah anomali bagi karir kepelatihannya. Karena, awal karir eks pemain timnas Belanda ini tampak menjanjikan. Saat menjadi asisten Bert Van Marwijk di timnas Belanda bersama Phillip Cocu (kini pelatih PSV), ia turut berkontribusi mengantar tim Oranye, ke final Piala Dunia 2010. Catatan bagus ini berlanjut, saat menangani Ajax (2010-2016), klub tempat ia memulai karir bermainnya. Di Ajax, ia sukses meraih 4 gelar juara liga dalam 4 musim beruntun (2010/2011, 2011/2012, 2012/2013, 2013/2014). Prestasinya saat masih bermain, gaya main menyerang, plus kemampuannya dalam mengasah bakat pemain muda, membuatnya dianggap sebagai salah satu pelatih berbakat di Eropa.

Awalan mentereng inilah, yang membuat Inter Milan lalu merekrutnya. Tapi, sebagai pelatih, De Boer terlalu idealis. Ia terlalu kukuh berpegang pada filosofi sepak bola menyerang, dengan dominasi atas penguasaan bola. Padahal, di Serie A, gaya main semacam ini adalah bunuh diri. Akibatnya, karirnya di Inter gagal total. Meski begitu, De Boer terselamatkan dengan fakta (sekaligus alibi); ia mulai bertugas, dengan waktu persiapan pramusim yang mepet.

Meski gagal di Inter, saudara kembar Ronald De Boer ini tetap mampu menarik minat Palace untuk merekrutnya. Sayang, ia masih terlalu kukuh berpegang pada filosofi sepak bola menyerang, dengan dominasi atas penguasaan bola. Padahal, Palace terbiasa bermain dengan gaya "kick and rush" khas Inggris. Apalagi, kualitas materi pemain Palace tak sebagus Ajax atau Inter. Akibat sikap terlalu idealis inilah, performa Palace jeblok, dan ia pun dipecat.

"De ja vu", yang dialami De Boer di Palace, menjadi sebuah contoh aktual; dalam olah raga (termasuk sepak bola) yang mengedepankan sikap pragmatis dan realistis, dengan hasil akhir sebagai acuan, terlalu bersikap idealis adalah kecerobohan. Karena, untuk mencapai hasil akhir terbaik, seseorang harus melihat keadaan, dan bersikap realistis. Jika terlalu idealis, idealisme itu hanya akan menjadi senjata makan tuan.