Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Kala Si Merah Kembali ke Eropa

24 Agustus 2017   10:53 Diperbarui: 26 Agustus 2017   10:06 487 2 1

Jika melihat performa Liverpool, dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah berakhirnya era Rafa Benitez tahun 2010, ada satu hal yang hilang dari Si Merah; mental bertarung di tingkat Eropa. Hal ini tak lepas, dari performa tim yang tak konsisten di tingkat domestik, dan sering absen di turnamen antarklub Eropa, khususnya Liga Champions. Tercatat, sejak tahun 2010 hingga dimulainya era kepelatihan Jurgen Klopp tahun 2015, Si Merah hanya sekali tampil di Liga Champions Eropa, yakni pada musim 2014/2015, saat diasuh Brendan Rodgers. Kala itu, Si Merah tersingkir di fase grup, setelah kalah bersaing dengan Real Madrid (Spanyol) dan FC Basel (Swiss).

Selebihnya, Liverpool lebih rajin tampil di Europa League. Tapi, performanya kurang bagus. Karena mereka jarang lolos ke putaran lanjut fase gugur, yakni babak 8 besar atau lebih. Di sini, aura Si Merah di Eropa tak ubahnya ponsel yang sedang lowbat.

Padahal, sebelumnya mereka cukup tangguh, jika tampil di Eropa. Terbukti, pada era kepelatihan Rafa Benitez, Liverpool mampu juara Liga Champions tahun 2005, menjadi finalis tahun 2007, dan lolos ke semifinal edisi 2008. Dalam kondisi amburadul, yakni pada musim 2009/2010 pun, Si Merah masih mampu lolos ke semifinal Liga Europa. Pada era Gerard Houllier pun, mereka sempat juara Piala UEFA (kini Liga Europa) tahun 2001.

Setelah era Rafa Benitez berakhir, sebagai fans Si Merah, Saya memang tetap merasa sangat senang, jika berkesempatan menonton aksi Si Merah di Eropa lewat layar kaca. Tapi, rasa senang itu bercampur dengan rasa dag dig dug, alias khawatir, bukan rasa "excited" seperti sebelumnya. Karena, performa mereka di Eropa mirip jet coaster, naik turun tak karuan. Di sini, Saya justru melihat, Liverpool, sebagai tim juara Eropa lima kali, terbebani simbol kehormatan "Badge of Honor" dari UEFA yang mereka sandang, seperti yang dialami Ajax Amsterdam (Belanda). Ironis memang.

Tapi, optimisme itu kembali muncul, seiring datangnya Jurgen Klopp di musim 2015/2016. Kedatangan pelatih nyentrik asal Jerman ini, seolah ikut mengembalikan aura Liverpool di Eropa. Terbukti, mereka mampu lolos ke final Liga Europa 2016, yang pada prosesnya diisi dengan kemenangan dramatis atas Borussia Dortmund di Anfield, pada babak 8 besar. Kala itu, Liverpool mampu menang 4-3, setelah sebelumnya tertinggal 1-3 di babak pertama.

Memasuki awal musim 2017/2018, optimisme sedikit terlihat, dari performa Liverpool di babak play-off Liga Champions menghadapi Hoffenheim (Jerman). Pada leg pertama, yang berlangsung Rabu (16/8, dinihari WIB) lalu, Liverpool mampu menang 2-1 di Jerman. Di sini, mereka terlihat percaya diri, meski bermain tandang. Performa ini lalu mereka tingkatkan di leg kedua, yang berlangsung Kamis (24/8) di Anfield. Terbukti, Si Merah mampu menang 4-2, berkat gol Mohammed Salah, Emre Can (2), dan Roberto Firmino. Dengan hasil ini, Liverpool lolos ke fase grup, dengan keunggulan agregat 6-3 atas Hoffenheim, sekaligus menjadi klub wakil Inggris kelima, di fase grup UCL musim ini.

Jika melihat performa Liverpool di laga itu, sebagai fans, saya sungguh merasa senang. Meski kebobolan dua gol, "aura Eropa" mereka telah kembali. Mereka tak terlihat seperti tim yang sering absen di Eropa. Atmosfer di Anfield pun terasa sangat hidup. Kali ini, Saya benar-benar bisa menikmati aksi Liverpool di Eropa, dengan rasa senang plus "excited", bukan dag dig dug seperti sebelumnya.

Memang, ini baru awal musim, perjalanan masih panjang, kekurangan yang masih harus dibenahi pun masih banyak, terutama di sektor pertahanan. Tapi, setidaknya, Liverpool sudah menandai "comeback"-nya di Liga Champions Eropa, dengan meyakinkan. Semoga, ini masih akan berlanjut, dalam laga-laga berikut mereka di Liga Champions Eropa musim ini.

YNWA