Cerpen highlight

Orang Gila

14 Agustus 2017   08:47 Diperbarui: 14 Agustus 2017   08:53 80 0 0
Orang Gila
cerpen ini pernah dimuat Tribun Jabar|Dokumentasi pribadi

Ketika seperti biasanya ia bangun pukul empat subuh ia merasa menjadi orang gila. Orang gila yang tersenyum sendiri, tertawa sendiri, menangis sendiri, tanpa perduli dengan orang-orang yang memandangnya aneh, tanpa perduli dengan terik matahari atau guyuran hujan.

Orang gila seperti itu pernah ia lihat suatu sore. Waktu itu ia sangat lelah setelah seharian bekerja. Di kantor tempatnya bekerja sedang ada proyek pengadaan buku. Sudah seminggu buku-buku berdatangan dari pagi sampai sore. Sebagai karyawan bagian gudang ia harus membuka kardus, menghitung buku sesuai pesanan, mengepaknya lagi dalam kardus, dan menyusunnya di gudang yang sangat luas. Siangnya, setelah lelah bekerja, ia hanya makan semangkuk bakso. Bukan karena sedang tidak napsu makan. Tapi keuangannya memang hanya sampai pada semangkuk bakso.

Sore yang melelahkan itu ia takjub melihat seorang gila yang tertawa-tawa sendirian, tertawa yang terdengar sangat menyenangkan. Orang gila itu tidak perduli kepada orang-orang yang melihatnya getir. Dia ingat, orang gila itu sebenarnya sudah berkali-kali ia lihat. Di waktu lain orang gila itu menangis sendirian. Menangis yang terdengar sangat menyayat, sangat menyedihkan. Dia merasa, seperti itulah tertawa dan menangis dari hati. Tertawa dan menangis yang membahagiakan.

Waktu itu ia sempat berpikir, betapa bahagianya jadi orang gila. Tentu orang gila tidak mesti berpikir, tidak mesti tertekan, tidak mesti lelah bekerja, dan malaikat pun tidak akan mencatat dosa-dosanya. Dia rasa, orang gila adalah orang yang disayang Tuhan.

Dan kalau lapar? Rasa lapar tentunya akan menuntun tubuhnya mencari makanan. Matanya akan clingak-clinguk melihat sesuatu yang bisa dimakan, tangannya akan mengais-ais tong sampah, atau menadahkan tangan dan menunjuk perutnya di depan warung nasi kecil. Dia rasa akan banyak orang memberinya makanan alakadarnya. Banyak orang kecil, pemilik warung-warung kecil, yang yakin dengan memberi sodaqoh akan memperlancar rejekinya.

Bila rasa lapar sudah hilang orang gila akan kembali ke kebahagiaannya. Dia bisa tersenyum sendiri, tertawa sendiri, menangis sendiri, atau bercerita tentang apa saja sendirian. Sungguh hidup yang aneh tapi membahagiakan.

Perhatian ia kepada orang gila itu berawal ketika ia melihat orang gila lainnya suatu pagi. Orang gila yang tersungkur di pinggir jalan, telungkup, tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. Waktu itu ia sedang duduk melamun di dalam bis kota yang melaju pelan. Begitu melihat orang gila itu ia melonjak dari tempat duduknya. Seperti terkena aliran listrik ia kaget. Tanpa berpikir ia berdiri, berteriak meminta bis kota berhenti, dan tergesa meminta jalan kepada penumpang yang penuh sesak.

Dia berjalan seperti berlari mendekati orang gila yang telungkup telanjang bulat itu. Tapi belum juga sampai kepada orang gila yang telungkup di tempat sampah dadakan itu, dia menghentikan langkahnya. Mau diapakan orang gila itu? Mungkin orang gila itu sedang sekarat. Tidak kuat menahan lapar dan haus. Setelah mengais-ais makanan orang gila itu roboh. Kalau seperti itu, mau diapakan orang gila itu? Diberi makanan dan minuman? Dia merogoh sakunya, uangnya tinggal untuk semangkok bakso dan ongkos bis kota. Atau dibawa saja ke rumah sakit? Pengendara mana yang mau mengantarnya dengan gratis, rumah sakit mana yang sukarela memberi pengobatan tanpa surat-surat?

Akhirnya dia duduk di pinggir jalan, hanya memandang orang gila yang telungkup di antara sampah yang dibuang oleh orang-orang berjiwa kerdil. Ya, karena tempat itu memang bukan tempat sampah. Tapi bagi yang berjiwa kerdil, apa bedanya tempat sampah dan bukan? Asal sampah yang dibawanya itu keluar dari rumahnya. Bisa jadi sampah itu dilempar dari mobil, dari motor, atau sengaja datang ke tempat itu untuk membuang sampah karena sudah ada orang yang terlebih dahulu membuang sampah ke sana.

Orang gila yang telungkup itu tidak pernah menggerakkan badannya satu gerakan pun. Beberapa ekor lalat hinggap di punggungnya. Mungkin orang gila itu sudah tidak bernafas. Kalau sudah mati, apa yang mesti dilakukannya? Menggendongnya berkeliling kota mencari pemakaman gratis? Apakah ada kompleks pemakaman yang gratis? Dia ingat sebuah berita: seorang bapak menggendong mayat anaknya berjalan kaki dari Jakarta sampai ke Jawa Tengah karena tidak punya uang, jangankan untuk pemakaman untuk ongkos pun tidak ada.

Puluhan mobil dan motor sebenarnya lalu lalang di jalanan ini setiap detiknya. Tapi tidak ada satu kendaraan pun yang berhenti, penumpangnya turun atau sekedar melongok melihat orang gila yang telungkup itu. Mereka terlalu sibuk. Sibuk bekerja. Sibuk mengejar materi. Tapi melupakan hati mereka, hati yang tertinggal di orang gila yang telungkup di pinggir jalan. Siapa pun yang melihat orang gila itu hatinya akan tersedot, tapi siapa yang perduli dengan hatinya?

Mungkin juga di jalanan ini lewat mobil mewah seharga milyaran rupiah seperti yang dipunyai para pejabat pemerintah dan wakil rakyat. Baru tahu dia ada mobil semahal itu. Aneh juga ada orang yang mau membeli mobil seharga 7 milyar rupiah. Apalagi orang itu adalah wakil rakyat dan pejabat pemerintah. Mereka seperti yang mencari matahari di gelap malam. Mencari hati rakyat kok di mobil mewah. Aneh. Benar-benar kota yang aneh. Negara yang aneh.

Dia sendiri merasa aneh. Setelah berjam-jam memandangi orang gila yang telungkup di pinggir jalan itu, dia terpaksa harus meninggalkannya. Dia berjalan kaki ke kantornya. Tentu saja dia kesiangan. Kepala gudang menegurnya dan dia hanya menunduk dan meminta maaf. Tapi kepala gudang itu tidak benar-benar menegur sebenarnya, karena hari itu tidak ada pekerjaan sama sekali. Siangnya seorang teman membawa beberapa lembar kertas berisi laporan pengiriman buku dan selembar amplop.

"Tanda tangan di sini. Ini bagian Bapak Direktur," kata teman itu sambil bercanda.

Dia tertegun. Amplop itu berisi lima lembar uang ratusan ribu rupiah.

"Pengiriman buku kan belum semuanya?" tanya dia tidak mengerti.

"Itu urusan boss-boss. Kalau kita jangan banyak berpikir. Cukup tandatangan lalu makan-makan. Kemon, cepat, kita ke kantin...."

Tapi dia tidak bergerak. Karena dia tidak juga menandatangan, temannya membimbing dia memegang pulpen dan mencoretkan namanya di kertas itu. Amplop itu diselipkan di saku bajunya. Teman itu lalu pergi dengan tidak mengerti.

Ketika teman-temannya sedang makan-makan di kantin, dia membuang amplop bagiannya ke tong sampah. Lalu pergi berjalan kaki. Temannya yang penasaran menghampiri tong sampah, membuka amplop, masih ada lima lembar uang kertas seratus ribu rupiah. Dia mengangkat bahunya ketika teman-temannya memandang ingin tahu apa yang terjadi.

"Orang aneh!" kata sang teman.

Tapi dia tidak perduli dibilang aneh atau apa pun. Dia terus berjalan. Karena menurutnya, kota ini sudah aneh. Orang-orang yang aneh. Kelakuan yang aneh. Sampai di sebuah taman dia berhenti. Matanya memandang takjub seorang gadis yang duduk di bangku taman di sebelah bunga mawar yang mekar begitu indah. Gadis itu tersenyum kepadanya. Sepertinya gadis itu sudah menunggunya. Taman yang indah, udara yang sejuk, dan gadis yang cantik. Sungguh kelelahan jiwanya tiba-tiba menjadi segar. Seperti tanah gersang yang mendapat siraman hujan. Tetumbuhan segera tumbuh, bebungaan segera mekar.

"Sudah lama saya menunggu," kata gadis itu.

"Menunggu saya?"

"Ya. Apakah Tuan lupa dengan saya?" tanya gadis itu.   

Dia tersenyum. Ya, gadis itu memang sudah lama hadir dalam pikirannya, dalam perasaannya. Kadang menghilang tapi kemudian hadir kembali. Dia tidak menyangka akan bertemu gadis itu di sini. Di sebuah taman dengan bebungaan yang berwarna-warni. Kupu-kupu beterbangan, seekor hinggap di rambut gadis itu. Sungguh hari yang menakjubkan.

"Apakah Tuan tidak merasakan?" tanya gadis itu.    

"Merasakan apa?"

"Cinta."

Dia tersenyum.

Dia tidak tahu orang-orang di sekelilingnya memandang aneh.

"Apa kata saya juga, dia sudah jadi gila," kata teman sepekerjaannya. "Masa dia senyam-senyum sendiri. Bicara sendiri kepada pohon."

"Stress mungkin bertahun-tahun hanya sebagai honorer," kata teman yang lainnya. ****