pilihan headline

Melihat Penyebab Kekalahan Ahok dari TPS 16

20 April 2017   09:09 Diperbarui: 20 April 2017   12:26 4925 28 27
Melihat Penyebab Kekalahan Ahok dari TPS 16
Warga Petojo ikut menyaksikan penghitungan suara di TPS 16. Foto : dokpri

Hampir semua lembaga survei menempatkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan – Sandiaga Salahuddin Uno unggul dalam perolehan suara versi hitung cepat (quick count), menumbangkan pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat. Hasil ini tidak terlalu mengejutkan karena seminggu sebelumnya, sejumlah lembaga survei juga sudah memprediksi kemenangan tersebut.

Hanya saja, selisih perolehan suara kedua paslon cukup mencengangkan. JIka mengacu pada hasil quick count Litbang Kompas, Ahok-Djarot bukan saja gagal mendapatkan dukungan dari pemilih Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni yang terpental pada putaran pertama, tetapi juga tidak mampu mempertahankan perolehan suaranya sendiri. Seperti diketahui pada putaran pertama, Ahok-Djarot tampil menjadi jawara dengan perolehan 2.364.577 suara atau 42,99 persen, diikuti Anies-Sandiaga dengan  2.197.333 suara atau 39,95 persen dan terakhir Agus -Sylviana yang mendapat dukungan 937.955 suara atau 17.07 persen.

Sementara pada putaran kedua, berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, Ahok-Djarot hanya memperoleh 42 persen, sedangkan  paslon Anies-Sandiaga mendapat 58 persen  Hasil ini cukup mencengangkan karena selisihnya mencapai 18 persen. Artinya, perolehan suara Ahok-Djarot mengalami penurunan sebesar 0,99 persen, sedang Anies-Sandiaga mendapat penambahan sebesar 18,05  persen.

Perolehan suara di TPS 16, Petojo Enclek I, Gambir, Jakarta Pusat mungkin bisa dijadikan gambaran  terjadinya pergeseran tersebut. Sebab peta suara di TPS 16 ternyata mencerminkan hasil perolehan suara secara umum, setidaknya versi quick count Litbang Kompas di mana Jakarta Pusat dan Jakarta Barat yang sebelumnya dimenangkan Ahok-Djarot, beralih ke Anies-Sandiaga. Terlebih tingkat kepuasan warga Petojo terhadap kinerja Ahok sangat tinggi mengingat sejak tiga tahun terakhir, wilayah Petojo tidak pernah kebanjiran. Padahal tahun-tahun sebelumnya, jika terjadi hujan selama dua jam saja, genangan air di dalam Pasar Petojo Enclek dan sejumlah rumah warga, bisa mencapai 30 cm.  

Pada putaran pertama paslon Agus-Sylvi memperoleh 52 suara, Ahok-Djarot 203 suara dan Anies-Sandiaga 197  suara. 5 surat suara dinyatakan tidak sah sehingga total ada 457 pemilih yang memberikan hak suaranya di TPS 16.

Formulir model C1 pada putaran pertama di TPS 16. Foto : dokpri
Formulir model C1 pada putaran pertama di TPS 16. Foto : dokpri

Sedangkan di putaran kedua, perolehan Ahok-Djarot turun menjadi 173 suara dan Anies-Sandiaga mendapat tambahan 70 suara menjadi 267 suara. 4 surat suara dinyatakan tidak sah. Dengan demikian total ada 444 pemilih, atau berkurang 13 pemilih dibanding putaran pertama. Andai 13 pemilih yang “hilang” dikonversi ke paslon Ahok-Djarot, tetap saja masih ada 17 pemilih yang mengubah dukungan dari Ahok ke Anies.

Formulir model C1 putaran kedua di TPS 16. Foto : dokpri
Formulir model C1 putaran kedua di TPS 16. Foto : dokpri

Pertanyaan menariknya, mengapa 17 pemilih Ahok-Djarot mengalihkan dukungan kepada Anies-Sandiaga? Dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan ada pemilih baru dan pemilih putaran pertama yang tidak ikut berpartisipasi pada putaran kedua, ada beberapa kemungkinan yang bisa dijadikan “alat ukur” utnuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama,  kurangnya geliat pendukung Ahok-Djarot. Meski jumlah warga Tionghoa yang tinggal di Petojo, khususnya Petojo Enclek, cukup banyak- bahkan ketua RT-nya beretnis Tionghoa, namun gaung Ahok-Djarot nyaris tidak terdengar. Posko relawan Badja yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan pendukungnya, hilang entah ke mana. Sebaliknya, ‘kegiatan’ di masjid yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari posko Badja, semakin intensif. Polarisasi dukungan terhadap kedua paslon yang awalnya cukup berimbang, pun mulai timpang. Mereka yang semula sering terlihat di posko Badja, mulai datang ke masjid.

Kesenyapan pendukung Badja di Petojo bisa dipahami mengingat kampanye Ahok-Djarot difokuskan di Jakarta Timur dan Selatan yang pada putaran pertama dimenangkan Anies-Sandiaga. Tersendatnya distribusi amunisi kampanye di wilayah Petojo terlihat dari hilangnya posko Badja. Tidak ada lagi acara bagi-bagi baju kotak-kotak, selebaran berisi visi-misi maupun show of force pendukungnya yang pada putaran pertama cukup mendominasi ruang-ruang publik.

Kemungkinan kedua, ketakutan pada isu jika Ahok menang, Jakarta akan rusuh. Sebagian besar warga Tionghoa di Petojo adalah pedagang. Umumnya, mereka memiliki toko di Glodok dan Mangga Dua. Ketika terjadi kerusuhan 1998, dua wilayah itu yang cukup parah terkena dampaknya. Wajar jika trauma itu kembali membayang, apalagi sempat diungkit dalam video kampanye Ahok-Djarot.

Namun asumsi ini masih lemah jika melihat perolehan suara di sejumlah TPS di wilayah Jakarta Utara, khususnya Pluit. Di wilayah yang mayoritas penghuninya beretnis Tionghoa tersebut, perolehan suara Ahok-Djarot sangat dominan. Artinya, warga Tionghoa di wilayah tersebut- yang tentunya juga banyak berprofesi sebagai pengusaha dan pedagang, sama sekali tidak terpengaruh dengan isu kerusuhan.

Ketiga,  militansi. Pendukung Ahok-Djarot cendrung pragmatis dalam arti hanya bergerak manakala ada ‘perintah’. Berbeda dengan  relawan Anies-Sandiaga yang dikenal militan karena sebagian besar berasal dari kader PKS. Mereka terus bergerak, meski tanpa supply “nasi bungkus”.

Keempat, runtuhnya klaim yang menjadi kekuatan kampanye Ahok. Dalam sebulan terakhir, sejumlah titik di Jakarta teredam banjir, sementara kemacetan semakin parah sebagai dampak penutupan dan penyempitan sejumlah ruas jalan karena sedang ada proyek bangunan infrastruktur transportasi baik MRT, flyover maupun underpass.

Relawan Ahok-Djarot tidak bisa lagi “jualan” keberhasilan di sisi itu. Meski warga Petojo tidak lagi kebanjiran, tetapi ikut merasakan “horor” kemacetan parah tersebut.  sebagian menyayangkan keputusan Ahok melakukan pembangunan infrastruktur secara bersamaan di satu titik tanpa mempertimbangkan dampaknya  secara luas. Bayangkan saja, ketika belum ada pembangunan MRT, Jalan MH Thamrin dan Jenderal Sudirman, sudah langganan macet. Pemberlakuan ganjil-genap hanya sedikit mengurangi kemacetan di kedua ruas jalan tersebut, tetapi menambah kemacetan di jalan-jalan penyangga di sekitarnya. Kemacetan di daerah Pejompongan dan Pasar Rumput, dua wilayah yang menjadi daerah limpahan kendaraan yang tidak bisa melintasi Jalan Gatot Subroto, Sudirman dan Thamrin, pada jam-jam sibuk nyaris stuck.   

Kelima, isu penggusuran. Berbeda dengan putaran pertama, isu penggusuran justru lebih mencuat. Selebaran yang memuat peta yang akan digusur jika Ahok terpilih, menjadi momok bagi warga yang berada di wilayah-wilayah tersebut. Meski wilayah yang disebutkan dalam selebaran bisa saja hoax, tetapi sikap lantang Ahok yang tidak akan menghentikan penggusuran terhadap wilayah-wilayah yang dianggap menjadi penyebab banjir, menjadi alas pembenarnya.

Tentu masih ada faktor dan isu-isu lain yang menjadi penyebab tergerusnya suara dukungan kepada Ahok-Djarot, termasuk isu agama. Tetapi isu terakhir tidak lagi signifikan karena sudah terjadi jauh sebelumnya, bahkan sebelum putaran pertama.

Apapun hasilnya, saat ini warga Jakarta sudah menentukan pilihannya. Tanpa bermaksud mendahului KPU, enam bulan mendatang bisa dipastikan pasangan Anies-Sandiaga akan dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Usai sudah hiruk-pikuk pilkada Jakarta yang menguras rasa dan air mata. Lupakan perbedaan pilihan, saatnya kembali merajut kebhinekaan sambil mengawal dan mengkritisi kinerja Anies-Sandiaga.       

Mengutip pidato Djarot, “ketenangan jiwa menghilangkan dendam”. Ya, hanya jiwa-jiwa yang tenang yang bisa menerima apa pun hasil dari sebuah kontestasi.

Selamat kepada Anies-Sandiaga. Semoga kelak bisa amanah memimpin Jakarta. Membawa semua warga Jakarta, termasuk mereka yang tidak bisa menyumbang pajak, ke arah yang lebih sejahtera, damai dalam perbedaan.

Dan terima kasih untuk Ahok-Djarot. Karya-karyanya dalam menata Jakarta, akan selalu dikenang. Warga Jakarta tahu dan puas atas kinerja Ahok-Djarot dalam menata infrastruktur. Bahwa ada kekurangan di sisi lain, benar kata pepatah, tiada gading yang tak retak. Apapun itu, hormat saya pada Anda berdua tidaklah berkurang.

Salam @yb