HIGHLIGHT

Bayar Joki Ujian Universitas Gajah Mada (UGM)

14 Juli 2012 02:52:27 Dibaca :

Sangat memprihatinkan dan membuat hati miris, hampir semua lini kehidupan masyarakat tidak lepas dari pada kecurangan. Hal ini menimpa dunia Pendidikan yang nota bene tempat orang belajar untuk menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat nantinya. Perjokian bukan hanya dilakukan di jalan raya di tempat dunia Pendidikan juga berlaku. Memang segala cara harus ditempuh untuk menuju kesuksesan, namun bukan semua hal bisa di halalkan.

Sebanyak 52 peserta ujian di duga melakukan kecurangan menngunakan jasa Joki untuk ujian masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) kelas International di Fakultas Kedokteran. Sebelum mengikuti ujian, pengawas sudah meminta semua peserta meninggalkan alat komunikasi di luar ruangan. Namun saat ujian telah berlangsung, pengawas menemukan kecurigaan dan penggeledahan pun dilakukan. Ternyata benar, dari 400 peserta yang mengikuti ujian,52 orang di antaranya menggunakan alat komunikasi dan terdapat rangkaian kabel di tubuh mereka,” ujar Direktur Administrasi Akademik UGM Budi Prasetyo.

Praktek perjokian ini sudah melibatkan sindikat yang besar terbukti dalam pelaksanaannya menggunakan cara-cara modern. Mereka menggunakan alat komunikasi untuk operasional dengan cara lewat pesan singkat (SMS) yang terhubung dengan operator. Untuk berkomunkasi Joki dengan peserta ada yang berdehem. . ”Setelah mendapatkan barang bukti yang cukup, kami pun memanggil polisi,” katanya.

Apabila semua dugaan perjokian ini terbukti bagi yang melakukan kecurangan akan dinyatakan tidak lulus. Sebelum melaksanakan ujian dari phak UGM sudah membuat perjanjian untuk mengantisipasi bilamana ada kecurangan. ”Bagi peserta ujian yang terbukti melakukan praktik perjokian, pihak kampus memastikan mereka tidak akan diterima masuk UGM. Sejak awal, mahasiswa UGM sudah harus menandatangani surat pernyataan tidak terlibat kasus criminal “ tandasnya.

Hal ini juga di ungkapkan oleh Kepala Humas UGM Wiwit Wijayanti, para Joki dalam melaksanakan aksinya berbaai cara di tempuh salah satunya dengan memodifikasi Ponsel menjadi jam tangan. Upaya ini untuk mengelabui petugas agar tidak kelihatan kecuranggannya. ”Ada yang dibuat berupa jam tangan dengan layar besar, ada yang bahkan ditaruh di balik kemeja dan pakaian dalam,” jelasnya.

Modus operandi seperti ini di sinyalir baru-baru ini di ketahui ada yang menggunakan kecurangan dengan melibatkan banyak orang ”Setahu saya, ini yang paling banyak dan sangat tidak terduga,” tegasnya.

Alat bukti yang di temukan berdasarkan pemeriksaan sementara di jelaskan Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Widi Saputra. Satu pelaku yang ditangkap, modus operandinya pelaku adalah menggunakan ponsel yang diberikan kepada 43 peserta. Ponsel tersebut dimodifikasi dengan ditempelkan di pinggang peserta. Antara peserta laki-laki dengan perempuan pun dibedakan cara pemakaian dan alat tambahannya. Untuk laki-laki memakai ponsel yang dipasang di pinggang dengan dihubungkan ke layar menyerupai jam tangan.

Peristiwa ini sangat mencoreng dunia Pendidikan di tanah air, belum menjadi seorang Mahasiswa saja sudah melakukan kecurangan. Apa yang dapat dibanggakan jika lulus nantinya masuk melalui kecurangan setelah lulus dan bekerja pastinya tidak jauh dengan perilakunya yang terdahulu. Apakah salah kalau dikatakan negeri ini banyak Korupsi.

Wasalam,

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/510959/

Yan To

/yantoaja

Tidak ada yang bisa menjatuhkan anda selain anda sendiri
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?