HEADLINE HIGHLIGHT

Cuaca Ekstrim dan Epidemiologi Bencana

27 Januari 2011 05:59:08 Dibaca :
Cuaca Ekstrim dan Epidemiologi Bencana
Illustrasi

Pada awal tahun 2011, sejumlah bencana terjadi disebabkan oleh cuaca ekstrim. Cuaca ekstrim terjadi karena suhu permukaan air laut meningkat sehingga mempercepat terjadinya penguapan yang membentuk awan hujan. Akibatnya hujan terus menerus terjadi sepanjang tahun 2010 hingga awal tahun 2011. Penyebab utama cuaca ekstrim adalah adanya ekspansi vertikal awan, curah hujan yang meningkat dan berpeluang menyebabkan puting beliung. Cuaca ekstrim terjadi karena siklus basah dan kering yang terlalu cepat akibat La Nina dan pemanasan global. Curah hujan yang tinggi dan terus menerus terjadi disebabkan oleh fenomena La Nina di Asia-Pasifik. Menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia, Dr Widada Sulistya, fenomena La Nina muncul karena suhu air laut di Pasifik bagian Timur lebih dingin dari biasa. Ketika La Nina muncul, bagian sebelah barat pasifik mengalami peningkatan curah hujan sementara bagian sebelah timur pasifik mengalami pengurangan curah hujan. Di sebelah barat Pasifik terjadi peningkatan curah hujan adalah di Cina, Indo Cina, Indonesia dan Australia (BBC-Indonesia). Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia serta badan meteorologi dunia menunjukkan bahwa fenomena La Nina akan berlangsung hingga awal tahun 2011, sekitar bulan Januari-Februari 2011. Fenomena La Nina sedikit dipengaruhi oleh perubahan iklim yang terjadi. Setidaknya frekuensi La Nina menjadi lebih sering dari sebelumnya. La Nina muncul pada kisaran antara 2-7 tahun, jadi La Nina tidak rutin muncul setiap tahun, tetapi kadang-kadang tiga tahun, dua tahun dan paling lama tujuh tahun sekali. Untuk Indonesia situasinya akan memburuk karena wilayah Indonesia bagian barat memasuki musim hujan setiap bulan Oktober hingga Maret. Sekarang sudah masuk periode basah yang membawa kumpulan awan, tapi suhu muka laut tinggi. Bukan hanya di Indonesia mengalami cuaca ekstrim, tetapi hampir dialami semua wilayah di seluruh dunia. Bencana banjir bandang di Queensland dan Brisbane, Australia serta longsor di Brazil adalah salah satu bencana akibat cuaca ekstrim. Tahun 2010 lalu, banjir besar di Pakistan karena curah hujan tinggi mengakibatkan 1.600 jiwa menjadi korban meninggal dan jutaan orang lainnya mengungsi. Lain halnya di Rusia, terjadi gelombang panas diatas batas normal dengan suhu 38 derajat celcius telah menewaskan 700 orang per hari. Gelombang panas ini dikatakan yang terburuk selama 1.000 tahun terakhir. Sementara suhu panas paling ekstrim di Indonesia berada pada kisaran 36 hingga 37 derajat celcius. Pada bulan Maret 2010, suhu rata-rata di Indonesia sempat mencapai 35 derajat celcius. Kondisi suhu paling ekstrim hingga 37 derajat sangat jarang, terakhir kali terjadi sekira tiga tahun lalu (tahun 2007). Peningkatan suhu sebesar 0,7 derajat saja memerlukan jangka waktu 100 tahun. KejadianĀ  anomali yakni suhu muka laut yang tinggi terjadi lebih banyak di Indonesia bagian Timur, yaitu di Selat Makassar, Laut Banda, dan Laut Arafura. Sekarang mencapai 30 derajat Celcius, sementara suhu normalnya adalah 26-27 derajat Celcius. Selain kejadian anomali cuaca di laut Indonesia bagian Timur, anomali juga terjadi di laut bagian Selatan Sumatera dan laut bagian Selatan Jawa. Suhu laut di wilayah ini juga mencapai 30 derajat Celcius, di atas suhu normal sebesar 28-29 derajat Celcius. Cuaca ekstrim ini menyebabkan gelombang laut tinggi hingga di atas tiga meter. Cuaca ekstrimĀ  akan merata di seluruh wilayah Indonesia, kecuali Selat Karimata dan Laut Cina Selatan yang relatif aman (tempointeraktif.com). Bencana Angin Kencang Setidaknya ada tiga macam bencana alam yang sering terjadi akibat langsung dari cuaca ekstrim yakni angin kencang serta banjir. Angin kencang yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tornado dan angin puting beliung. Bencana lainnya adalah tanah longsor akibat curah hujan yang tinggi pada daerah yang rawan tanah longsor seperti perbukitan atau gunung yang gundul. Angin kencang adalah salah satu kejadian alam diantara kejadian alam lainnya akibat cuaca ekstrim yang paling berbahaya dan mematikan. Angin tornado terjadi disebabkan oleh perubahan lapisan udara yakni ketika lapisan udara dingin berada diatas lapisan udara panas. Pada saat bersamaan udara panas naik dengan kecepatan 300-an km/jam. Udara yang menyusup dari sisi inilah yang mengakibatkan angin berputar sehingga membentuk tornado. Rata-rata kecepatan angin tornado mencapai hingga 400 km/jam serta lebar cerobong antara 15 - 365 meter. Angin tornado memiliki potensi daya rusak yang sangat dahsyat dan dapat menyebabkan kerusakan segala benda yang dilaluinya. Sementara gejala awal angin puting beliung adalah udara terasa panas dan gerah (sumuk), di langit tampak ada pertumbuhan awan Cumulus (awan putih bergerombol yang berlapis-lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan mempunyai batas tepinya sangat jelas bewarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual seperti bunga kol, awan tiba-tiba berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat (awan Cumulonimbus), ranting pohon dan daun bergoyang cepat karena tertiup angin disertai angin kencang, durasi fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam. Karena itulah, masyarakat agar tetap waspada selama periode ini (http://geo.ugm.ac.id). Bagi kalangan awam, gejala alam sebelum terjadinya angin puting beliung dapat dideteksi melalui cuaca sekeliling yang dapat dirasakan. Apabila pada saat siang hari dirasakan cuaca panas yang tidak normal, namun tiba-tiba turun hujan lebat maka biasanya terjadi angin puting beliung. Kejadian angin puting beliung bisa dilihat melalui benda-benda yang ringan yang beterbangan berputar - putar tidak beraturan dan terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga. Sebuah sumber menyebutkan badai tornado cepat berkembang disertai hujan, guntur dan kilat. Ketika suhu tanah meningkat, udara panas dan lembab mulai naik. Ketika hangat, udara lembab dan dingin memenuhi udara kering, itu terangkat ke atas, masuk lapisan udara atas. sebuah awan petir mulai tercipta pada fase ini. Pergerakan udara keatas sangat cepat. Angin dari sisi samping menyebabkan arah yang berbeda dan membentuk sebuah pusaran. Sebuah kerucut hasil putaran udara yang berpilin terlihat mulai terbentuk dan dapat dilihat dari awan ke permukaan tanah (http://haxims.blogspot.com). Menurut Urip Slamet Riyadi (2009), Puting Beliung (tornado) adalah Dampak Fenomena Iklim (DFI) berupa angin kencang yang datang secara tiba-tiba, bergerak melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi dan berakhir dalam waktu singkat (3 s/d 10 menit). Kecepatan angin berkisar antara 30 - 50 knots. Angin ini juga berasal dari awan jenis Cumulonimbus yaitu awan yang bergumpal berwarna abu-abu gelap dan menjulang tinggi. Namun tidak semua awan Cumulonimbus menimbulkan puting beliung. Puting Beliung dapat terjadi di darat maupun di laut. Jika terjadi dilaut durasinya lebih lama daripada di darat umumnya lebih sering terjadi di dataran rendah. Epidemiologi Bencana Angin puting beliung atau angin kencang atau angin tornado (hurricane, typhoon, cyclone) merupakan salah satu dari beberapa bencana alam akibat cuaca ekstrim. Angin puting beliung berpotensi mendatangkan risiko bencana disebabkan ciri khususnya yang cepat berpindah dan sasaran yang meluas. Kejadiannyapun selalu datang secara tiba-tiba sehingga sulit dihindari. Beberapa upaya pencegahan dari risiko bencana angin kencang adalah (1) menghindari berada didekat pepohonan yang tinggi, rimbun dan rapuh. Bila mendapati pepohonan dengan ciri seperti itu disekitar tempat tinggal, maka sebaiknya ditebang untuk menghindari risiko; (2) menghindari bepergian ketika cuaca di angkasa terlihat gelap; (3) apabila cuaca gelap terjadi ketika dalam perjalanan, maka sebaiknya memilih berlindung ditempat yang aman dari risiko tertimpa benda keras dan padat seperti tidak berada dibawah jaringan kabel listrik, pohon, menara telekomunikasi, billboard, dan lainnya; (4) memperhatikan atap rumah yang mudah terhempas angin kencang agar diperbaiki bagian yang rapuh dan bagian-bagian rumah lainnya yang labil seperti pintu dan jendela; (5) menanam pepohonan yang tahan angin seperti pohon cemara, beringin atau pohon asam (Diolah dari berbagai sumber pustaka).

Fatmah Afrianty Gobel

/yantigobel

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang pendidik, peneliti, pengajar dan sekaligus ibu dari tiga anak. Mahasiswa Program Pascasarjana Program Studi S3 Ilmu Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Staf Pengajar FKM Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar. Diluar kampus, tercatat sebagai Pengurus Nahdatul Ulama, Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Sul-Sel dan pendiri Center for Policy Analysis (CEPSIS) Makassar.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?