HIGHLIGHT

Lembar Terakhir

11 Juli 2013 10:00:53 Dibaca :

(Sebelumnya: "Surat Carla") Padamu yang menjadi kekasih hati dan teman perjalanan hidupku..., Seiring dengan berjalannya waktu, kelak aku tak akan lagi mendampingimu. Dan kau tak kan menemukan sosokku lagi sebagaimana beberapa tahun berselang. Tapi satu hal pasti yang tak pernah berubah, yaitu rasa cintaku kepadamu… Ketahuilah, tiap harinya, tiap jam dan menit hingga detik, telah ku lewati untuk selalu jatuh cinta kepadamu. Maka cintailah aku dengan apa adanya aku. Jangan pernah sedikitpun berharap kepadaku tuk menjadi perempuan sempurna…. Maafkan aku karena lebih dulu pergi meninggalkanmu… Sejak dini hari hingga menjelang fajar, aku terpaku diam sebelum menuliskan catatanku ini. Ditemani secangkir kopi hitam kesukaanmu. Aku tak pernah menyukai kopi hitam, kau tau itu. Tapi kerinduanku padamu yang membuatku ingin ada hadirmu di sisiku saat ini. Kini kopi itu telah tandas. Rasa ini hanya tertuju padamu. Mimpi kita tentang masa depan sungguh indah sayang. Aku suka itu. Memberiku semangat untuk bisa melanjutkan hidup. Namun… Ada sebuah kejujuran yang harus kuungkapkan padamu sejak dulu. Aku tak pernah berani mengatakan ini secara langsung. Karena jika kuungkap, itu bagai membunuh mimpi-mimpi yang telah kita rangkai sebelumnya. Aku tak mau itu sayang… Aku tak mau mimpi-mimpi kita terkubur. Biarkan jasadku saja yang terkubur, jangan mimpi-mimpi indah kita… Aku, perempuan yang kau pilih ini, telah divonis secara medis tak akan hidup lama. Ada penyempitan pembuluh darah di dalam otakku. Hal itu yang kerap membuatku sakit kepala tak tertahankan. Sejak vonis dokter tentang kondisi medikalku itu, aku rutin meng-konsumsi obat-obatan hanya agar aku tidak mengalami pusing yang hebat atau sekedar meredakan sakit di dalam kepalaku. Aku tak kan hidup lama di dunia ini sayang… Sekali saja jika aku terjatuh karena pusing, sangat beresiko akan pecahnya pembuluh darah dalam otakku yang mungkin mengancam keselamatan nyawaku. Aku ingin agar mimpi-mimpi kita tetap hidup jauh melebihi usiaku sendiri. Aku ingin kau bangun mimpi-mimpi kita bersama Rachel, sahabat terbaikku. Sahabat setiaku. Aku menyayangi dia… Memang banyak perbedaan yang kontras di antara aku dan Rachel. Namun di lubuk hatinya aku yakin dia orang yang tepat untuk bisa bersama denganmu. Dan sebaliknya orang sebaik dirimulah yang kelak bisa menjadi ‘imam’ untuk Rachel. Sosok sepertimulah yang mampu mengendalikan lompatan-lompatan pemikiran Rachel yang menakjubkan. Rachel membutuhkan orang sepertimu sayang… Jaga dia untukku, sebagaimana kamu yang selama ini menjagaku. Biarkan aku luruh karena takdirku. Jika kamu adalah pohon maka akulah dedaunan yang bernaung di batang dan rantingmu. Ada kalanya dedaunan itu kering dan luruh, hingga terbang tertiup angin, meninggalkan sang pohon sendiri. Namun musim semi akan segera tiba dengan tumbuhnya dedaunan baru yang kan melanjutkan cita dan cinta. Biarkan aku menjadi laut untukmu, dengan ombaknya yang senantiasa singgah ke pantai untuk bercengkrama denganmu. Biarkan aku menjadi sinar mentari untukmu, yang bahagia dengan memandang kupu-kupu menari bersama bunga dari kejauhan. Biarkan aku menjadi apapun untukmu… Bulan di atas ranjang telah beranjak pergi. Pagi mulai hadir menyapa, mengawali hari dalam kelembutan pagi. Bulir-bulir gelembung embun perlahan jatuh di ujung-ujung rerumputan. Terus bergulir menyesap ke dalam tanah. Kicau penghuni pagi suarakan cerita, mengawali hari dengan sinar mentari, yang mengecup ubun-ubun di kepala. Sisakan kehangatan dan damainya hati. Senyum dan air mata ini adalah nafas cintaku. Semua ini adalah karunia Tuhan. Bulan… bintang… embun pagi… matahari… senja… Semua itu adalah nikmat dan kejaibanNya. Ku harap, surat ini akan lebih legakan hati, 'tuk temanimu agar berbahagia. Terimakasih Tuhan telah mengizinkanku mengenal dirimu, mencintaimu, dan hidup bersama denganmu... Dariku yang mencintaimu hingga tutup usiaku, Carla. ========== *Bagaimana Carla bisa meninggal? Simak kisahnya di sini: "Malam Pertama"

Erri Subakti

/www.treecon.wordpress.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Menulis untuk Menulis."
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?