HIGHLIGHT

Beku

27 Mei 2013 08:52:07 Dibaca :
Beku

Gemetar Lea menggenggam buku harian Eric. Satu dua tetes air mata mendarat pada sebuah halaman. Halaman yang tak pernah selesai dan terungkap makna di balik sebuah kata di dalamnya. "Eric ingin kamu menyimpan buku itu..." ucap Sophie, adik sepupu Eric. Tangis Lea sebenarnya sudah membuncah kemarin saat pemakaman Eric. Dan Sophie telah menceritakan segalanya yang perlu diketahui oleh Lea. Eric selama setahun ini memang dengan sengaja mengindari Lea. Jika mereka bertemu suatu saat di suatu tempat, Eric segera menghindar, enggan bertegur sapa, bahkan seakan tak mengenali Lea. Lea sangat marah dengan sikap Eric setahun ke belakang itu. Apalagi sebelumnya mereka sering sekali bertengkar hebat. Apartemen Eric menjadi saksi kebersamaan mereka selama tiga tahun ke belakang. "Jangan lagi meninggalkanku seperti itu.. I don't like it..!" Lea marah saat suatu hari Eric meninggalkan Lea begitu saja di sebuah toko buku. Sophie berkisah Eric melakukan itu semua karena ia perlu menyendiri dalam melakukan kemoterapi akibat kanker otak yang dideritanya. Eric selama itu berjuang dua kali lipat, selain untuk melawan penyakitnya juga harus melawan rasa cintanya yang dalam pada Lea. Saking dalam cintanya pada Lea, Eric tak ingin Lea terbebani pikiran tentang kondisinya dan mengalami luka saat ajal harus menjemputnya. Dan buku harian yang dipegang Lea saat ini menjadi saksi atas semua rahasia di antara mereka. Buku harian tersebut yang mengiringi langkah Lea sebenarnya dalam mencapai mimpi-mimpinya untuk menjadi seorang novelis. Dalam buku harian itulah Eric kerap menuliskan berbagai masukan bagi Lea dalam menulis novelnya hingga novel pertamanya bisa terpampang di toko-toko buku. Meski hanya diterbitkan oleh penerbit kecil dan dijual di toko-toko buku kecil, namun itu merupakan langkah penting bagi kematangan Lea selanjutnya. Karena setelah itu ia pun diminta kembali untuk menerbitkan buku keduanya. Berbagai puisi dan tulisan Lea bertebaran di dalam buku tersebut dan penuh coretan-coretan koreksi. Dan hasil koreksinya itu yang Eric sampaikan kepada Lea untuk lalu Lea menyunting kembali tulisan-tulisannya. Novel itu memang jelas tertulis Lea sebagai author, namun ruh dari tulisan-tulisan Lea ada pada diri Eric. Dan kini... bagai asap putih yang menghilang... entah ada di mana sosok yang selama ini menjadi 'nyawa' atas karya-karya Lea... pandangan mata Lea semakin mengabur... terbaca olehnya halaman terakhir yang ditulis Eric dalam buku hariannya. Eric nampak ingin menuliskan puisi terakhirnya.... Dalam kata terakhir  yang ditulis Eric, Lea bisa merasakan dengan jelas kesakitan yang amat dalam. Sebuah kesakitan yang tak jelas lagi rasanya... melebihi perih di permukaan kulit, melebihi pedih pada daging dan tulang sumsum.. hingga tak bisa terdefinisikan rasa itu. Hanya sebuah kata... Hanya sebuah judul... ..................................

"Beku"

...........

Beku...

___________

Hanya itu... hanya itu...

***

(ES)

Erri Subakti

/www.treecon.wordpress.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Menulis untuk Menulis."
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?