Binoto Hutabalian
Binoto Hutabalian pegawai negeri

Penulis di www.sastragorga.org

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Adik Kelasku, Kita Bukan Penghianat

16 Februari 2017   15:22 Diperbarui: 17 Februari 2017   14:12 1019 1 2

[caption caption="senja"][/caption]"Bagiku, takdir adalah getir yang paling keji. Getir yang tak seorangpun bisa menepisnya. Pahit-getirnya jauh melebihi petir yang selalu menghantui di telinga.

Takdir telah menghantarkanku ke sebuah masa yang dinamakan jodoh atau kehendak tuhan. Teman hidup terakhir yang oleh sebuah ritual pernikahan telah disepakati untuk menjalani hidup seatap dan kemudian beranak-cucu dalam segala kisah-kisahnya. Mencicipi siang dan malam, menikmati senja dan subuh dalam serangkaian warna-warni suka-duka menghitung matahari terbit dan terbenam.

Bagi setiap yang tak berjodoh, bukankah takdir ialah hantu? Ya. Takdir bahkan terlalu sering dipertopeng dan diperalat banyak orang untuk sengaja mencipta berbagai perpisahan antara pasangan kekasih di muka bumi ini. Baik oleh kaum lelaki, pun kaum hawa yang silih berganti pernah tampil menjadi dalang untuk saling melupa dan saling meninggalkan. 

Mungkin banyak orang yang menyalahgunakan takdir menjadi jurus ampuh mereka untuk pergi menterlantarkan sebuah hubungan hati yang pernah ada dikala suatu saat sepihak itu telah mulai merasa jenuh dan bosan bersama pasangannya. Kata orang, takdir memang kejam. Apa kabarmu, hei adik kelasku. Untuk apa kau usik lagi ingatanku yang telah belasan tahun kujadikan jadi tugu di ingatanku?" Serentetan balasan inbox kulayangkan juga lewat tombol di Messanger.

"Jangan tanya kabarku. Aku sedang sakit. Rindu. Aku cuma ingin bertemu. Ingin jumpa, meski itu cuma sekali. Belasan tahun aku kehilanganmu. Izinkan kita bertemu. Ya, abang kelasku. Boleh, ya." Beberapa menit aku tertegun. Bolak-balik membaca. Kupastikan berulang-kali. Huruf-demi huruf, kata demi kata. Dia adik kelasku. Yang belasan tahun lalu pernah kujadikan kekasih. Kala itu masih di bangku SMA di kampung halaman. Hampir dua tahun itu kami jalani. Hingga oleh jarak, akhirnya kami mesti terpisah saat aku harus melanjutkan study di sebuah kota luar provinsi. Dia tetap di kampung. Masih SMA, aku berada jauh di rantau. 

Berhari-hari inboxnya belum kubalas. Aku bingung. Bingung atas ungkapan rindunya. Katanya dia sakit. Rindu, dan ingin sekali bertemu. Aku bingung, karena aku tau disini aku malah bahkan jauh lebih sakit dari rindu yang dia rasakan. Mungkin dia tak pernah tau itu. Tak pernah. 

Karena belum kubalas, berkali-kali desakan ketemuan darinya terus hadir menghiasi di layar messanger. Maaf jika cuma dibaca. Gumamku dalam hati.

"Maaf jika baru kubalas. Sumpah, aku masih bingung. Sangat. Aku takut. Sepertinya aku tidak bisa. Tapi, ternyata sepertinya akulah yang ternyata lebih perlu ingin bertemu denganmu. Aku juga sakit. Sama, serangan rindu. Apa mungkin kita bisa bertemu lagi?" Tanyaku memberanikan diri memecahkan kebekuan komunikasi beberapa hari terakhir. 

"Adik kelasku, maafkan. Aku tak punya sayap. Bagaiapa kita akan bisa berjumpa, sementara kita kan berada di hujung dua pulau yang sangat jauh?" Susulku mencoba menenangkan jiwa yang semakin kebingungan.

"Sudah. Aku sudah atur pertemuannya. Dengar, minggu depan di antara Tanggal 13 sampi 15 Pebruari pertengahan bulan depan, aku akan ada kunjungan kerja di pulaumu. Kumohon, luangkan waktumu sehari saja. Atau satu jam saja. Atau semenit saja atau sedetikpun andailah cuma itukah sanggupmu mengobati rinduku. Aku cuma perlu kita bertemu. Bagiku itu akan melebihi segalanya. Semoga abang kelasku setuju. Tunggu aku di pulaumu." Kata-katanya telak memudarkan kebingunganku berganti menjadi degup kencang yang tak terterjemahkan dengan kamus apapun. Bulan depan, sebuah pertemuan akan terjadi. Setelah belasan tahun tanpa kabar. Setelah belasan tahun saling menguburkan rindu dalam hati yang kalah pada takdir dan jarak.

"Sampai jumpa bulan depan di pulauku, adik kelasku. Jangan lupa bawa oleh-oleh." Balasku di papan messanger mengakhiri percakapan siang itu.

Dua minggu lagi. Dan hampir tiap malam pikiranku selalu terganggu oleh jadwal pertemuan itu. Bercampur aduk, antara tak sabar dan berdebar. Hanya getar rindu yang pasti kurasakan. ***

"Puji Tuhan, rombongan kami sudah tiba di bandara. Dengan Bis Pariwisata, Pukul 11.00 WIB. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju pulaumu dan kemungkinan tiba disana sekitar pukul 18.00 WIB. Aku merindukanmu. Tunggulah aku." Pesan massanger tiba-tiba berbintik merah menghantarkan pesan dari seseorang diseberang sana. Namanya Dita. Dita Manda si adik kelas yang pernah hilang ditelan jarak, masa dan takdir. 

Belasan tahun terpisah, kami telah hidup dalam pernikahan dan rumah tangga masing-masing. Ternyata kami masih saling merindukan. Masih menyimpan penasaran dengan wajah masing-masing.  Juga sepertinya butuh ingin berbagi cerita tentang kisah hidup yang telah kami pilih sendiri bersama sesosok takdir yang telah memiliki jiwa-raga sepenuhnya. Kami hanya ingin bertemu. Itu saja.

Matahari mulai turun di ufuk Barat. Menggendari motor gede merk Fixion warna merah, aku berangkat menuju lokasi tempat kedatangan Dita di senja itu. Di tengah perjalanan, gerimis menemaniku melaju sampai di tempat tujuan. Pakaianku sedikit agak lembab. Di sebuah warung dekat Hotel sekitaran objek wisata itu, aku duduk menunggu. Bersama secangkir kopi panas di hadapan. 

"Aku sudah menunggumu. Disini, di warung kopi dekat lokasi acara yang kau ceritakan." Infoku, masih berkirim pesan lewat messanger. 

"Dari seberang, kami akan tiba dari kapal. Karena pihak travel menentukan rutenya demikian. Sepertinya, sekitaran satu jam lagi baru akan berlabuh di sana. Nanti aku kabari." Jawab Dita singkat karena katanya signal diseberang agak sering hilang.

"Ya. Datanglah, akan kutunggu." Sahutku sembari memesan segelas kopi panas yang ke dua. Sebab, bagiku menunggu dua jam taklah sesakit telah kehilangan belasan tahun itu. Tak apalah. Kami pasti bertemu. 

Jam telah menunjuk Pukul 20.00 WIB. Gerimis belum juga reda. Para pengunjung hotel lalu-lalang di jalanan. Kopi dalam gelas keduapun sudah hampir habis. Aku mulai kedinginan. Lalu, kuputuskan menunggu di Lobby hotel tempat pertemuan di dekat warung kopi. Dengan uang Sepuluh Ribu Rupiah akupun beranjak pamit ke pemilik warung. Setengah berlari menerobos gerimis. 

Sayup-sayup terdengar lagu-lagu khas daerah Batak yang dinyanyikan Marsada Band yang sedang tampil live di lobby hotel. Sendu dan terkesan romantic. Aku duduk di sofa pojok pintu masuk lobby. Telah agak sedikit hangat dan nyaman ketimbang rasa dingin di warkop barusan.

"Nang pe naung muli ho ito hasian. Nang pe dao ho sian au. Anggo rohangku sai hot doi tu ho. Sahat rodi nalao mate au." (Meskipun dirimu telah menikah, sayang. Walaupun kau tlah jauh dariku. Tapi hatiku selalu untukmu selamanya. Sampai ajal datang menjemputku) Saat sebait lagu Marsada Band mengalun syahdu di tengah lobby, tanpa kusadari puluhan tamu dari arah dermaga hotel berbondong-bondong memasuki area lobby tempatku menunggu. Masih dengan barang bawaan masing-masing. 

Dengan mataku, satu persatu sosok mereka kuikuti. Tiba-tiba kutemukan paras wajah adik kelasku juga telah ada diantara mereka. Berbaju sweater putih dengan syal warna biru muda melilit di leher. Aduh. Dadaku bergetar. Sesuatu meledak di sekujur tubuhku. Rinduku muncrat. Rasa aneh menggerayangi darahku. Aku tak tahan. 

Sebelum sempat mataku bertemu matanya. Dengan cepat aku bangkit dari sofa menuju arah parkiran di lantai bawah lobby. Aku seperti ingin pulang saja. Tak kuat rasanya. Dan sesampai di parkiran, kukirimkan pesan singkat. Namun kali ini langsung ke nomor ponsel Dita. 

"Kau pakai sweater putih dan syal biru muda. Kamu sudah letih ya?" Dalam kebingungan aku masih tertegun duduk lemas diatas motor. 

"Ya, tuhan. Tolong aku. Aku merindukannya." Tubuhku semakin bergetar hebat. Seperti serangan malaria. 

"Loh. Kok tau. Kamu sudah lihat aku ya? Kamu dimana? Ini, aku telah sampai. Aku tunggu di dekat kamar nomor 46 lantai 3 di samping lobby. Sebelum kamar, ada sebuah kursi panjang. Tunggu aku disitu. Aku dan teman sekamar akan ke kamar dulu. Sekalian menyimpan barang bawaan. Datanglah." Balasnya kaget dan rada heran. 

Di kursi sofa dekat kamar 46 itu aku duduk menyandarkan punggung. Masih berupaya menjinakkan badai yang berkecamuk di benak. Cuaca dingin memperparah keadaan. Jaket merah yang kukenakan tak ampuh mendiamkan getar tubuhku yang menjadi jadi.

Pintu kamar 46 yang berada cuma 4 meter disebelah kiri dihadapanku berderit terbuka. Dua orang wanita muncul keluar menuju ke arahku. Aduh. Dita tersenyum. Semakin dekat. Tangannya disodorkan menuju tanganku. Buru-buru kusambut. Akupun tersenyum. Puas. Telapak tangannya begitu hangat terasa. 

"Hai. Apa kabar?" Ungkapnya renyah.

"Sakit. Eh, baik." Sahutku masih kelimpungan tak menentu.

"Kenalkan. Ini Desi, temanku serombongan perjalanan." Sambungnya mencoba memperkenalkan wanita teman sekamarnya. Lalu kusalam dan kuucapkan salam kenal. Desipun lalu pamit meninggalkan kami berdua duduk di kursi sofa dekat kamar mereka menginap.

"Letih. Sepanjang perjalanan sungguh terasa sangat melelahkan. Hampir 8 jam. Abang makin hitam ya. Makin buncit lagi." Candanya melebur suasana. Aku masih terpaku memandangi wajahnya dengan teliti. Ragaku seakan melayang dan semakin bergetar hebat. 

"Istirahatlah. Kamu tampak letih dan begitu kecapekan. Kamu juga. Makin cantik, meskipun semakin gendut. Apa kamu masih sakit. Rindu? Puaskanlah. Sebelum sebentar lagi aku akan pulang ke rumahku. Ke rumah tempat anak dan istriku sekarang sedang menungguku. Ini sudah hampir tengah malam. Apakah kau bahagia? Doaku semoga tuhan selalu memberimu yang terbaik. Itu harapanku. 

"Aku sudah sembuh. Terimakasih telah mengizinkanku melihatmu walau ini akan menjadi yang terakhir kali. Terimakasih telah menungguku. Walau sesungguhnya aku masih ingin bercerita lebih lama lagi. Tapi tak apa. Aku maklum, Anak dan istrimu pasti sedang mengharapkan kehadiranmu diantara mereka malam ini. Pulanglah. Dan seperti pesanmu, ini oleh-oleh dari seberang. Cuma sebungkusan cokelat pertanda kehadiranku. Bagilah kepada anak-anak dan kalau berkenan, tolong sampaikan salamku buat mereka yang paling kau kasihi. Semoga bahagia menyertaimu. Sekali lagi, terimakasih telah sudi memuaskan rinduku.

 Sakitku telah benar-benar sembuh setelah tujuh belas tahun kehilanganmu. Satu lagi pintaku. Besok siang pada puncak acara pariwisata, hadirlah. Semoga aku masih bisa menuntaskan rinduku meski itu cuma dengan cara menatapimu dari jauh." Matanya berkaca-kaca menatap tajam ke arah tetas hujan yang menetes-netes di hadapan. 

"Maafkan aku, Dita. Bukan kehendakku membiarkan kita dengan kisah seperti ini. Aku benar-benar tak punya sayap sehingga tak pernah berhasil menemukanmu selama bertahun-tahun. Kamu sungguh-sungguh hilang. Tanpa kabar, alamat dan berita. Aku menyesal, dan telah memilih cinta setelahmu. Aku telah terbentur pada takdir. Aku dan kau. Masing-masing harus kalah kepada kenyataan. Inilah aku yang dulu. Yang pernah memilikimu dan yang masih merindukanmu, meski dengan sebentuk rindu yang terbatas ini. Maafkan aku. 

Namun, izinkan aku menyentuh pipimu untuk yang terakhir kali. Rasakanlah getar yang sedang menyerang ini." Kuusap sebulir air mata Dita yang nyaris mengkristal di sudut matanya. Kusentuh pipinya dan sedikit rambutnya yang terjuntai di wajahnya. Dengan jemariku, kutuntaskan kerinduanku padanya. Teruntuk adik kelasku yang minta izin bertemu.

Hujan semakin deras. Aku harus segera sampai di rumah. Hanya satu jam. Aku mesti mengakhiri perbincangan malam itu. 

"Dita, adik kelasku. Aku pamit. Puluhan kilo meter jarak menuju rumah. Aku takut hujan akan semakin menjadi-jadi. Jangan marah, jika hanya satu jam ini yang bisa kupenuhi bersamamu. Bahagialah. Dan mari kita terima takdir ini sebagai kenyataan terindah diatas bumi ini. Doaku bersamamu. Aku pergi. Izinkan kukecup tanganmu sebagai tanda ikhlas kita atas segalanya. Selamat malam.

***