Sebuah Lukisan Alam Pedesaan

31 Maret 2013 00:50:44 Dibaca :

berarak awan

gumpal hitam perlahan

pada hembusan bebayang hiilang

lembab alam meremang

membatas pandang

-

turunlah hujan

deras guyur daratan

tak tertahankan lepas kerinduan

pada hijau daunan

pada reranting

dan akar-akar tetumbuhan

-

dendang riangan

bekatak pinggir sawangan

jua pada dedaun teratai rata bentangan

bersama kecipak ikan

sigap menyambar umpan

jatuh di air permukaan genang hamparan

-

lenguh sahutan

ternak pada lindapan

berkumpul merapat badan

cari hangatan di udara dingin desakan

merasuk masuk di persendian

harap bertahan

-

hening kicauan

beburung di pokok-pokok dahan

sembunyi dari terpaan

di balik sayap-sayap halus selimut dekapan

jua pada sarang

yang berjalin rapi dari ranting dan rumputan

-

masih berarak awan

tetes masih bertahan

seakan enggan tunjukkan tanda kesudahan

hingga tak dirasakan

tabir-tabir hitam malam mulai dibentangkan

sebagai wujud akhir perjalanan

-

ya, sebuah lukisan alam pedesaan

pada petang berguyur hujan

yang kini aku akui semakin jarang kudapatkan

di sela-sela pergeseran peradaban

tiada terbantahkan

mesti jalani pun kadang menyesakkan

-

Bengkulu, 31 Maret 2013

Jansori Andesta

/www.jansmiauw.com

TERVERIFIKASI (BIRU)

aku anak ketiga dari pasangan hazairin dan sawati. dari tahun 2005 aku mulai menyukai puisi (baca n tulis puisi). dan saat ini menulis adalah pilihanku.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?