Sebuah Lukisan Alam Pedesaan

31 Maret 2013 00:50:44 Diperbarui: 24 Juni 2015 15:58:20 Dibaca : Komentar : Nilai :

berarak awan

gumpal hitam perlahan

pada hembusan bebayang hiilang

lembab alam meremang

membatas pandang

-

turunlah hujan

deras guyur daratan

tak tertahankan lepas kerinduan

pada hijau daunan

pada reranting

dan akar-akar tetumbuhan

-

dendang riangan

bekatak pinggir sawangan

jua pada dedaun teratai rata bentangan

bersama kecipak ikan

sigap menyambar umpan

jatuh di air permukaan genang hamparan

-

lenguh sahutan

ternak pada lindapan

berkumpul merapat badan

cari hangatan di udara dingin desakan

merasuk masuk di persendian

harap bertahan

-

hening kicauan

beburung di pokok-pokok dahan

sembunyi dari terpaan

di balik sayap-sayap halus selimut dekapan

jua pada sarang

yang berjalin rapi dari ranting dan rumputan

-

masih berarak awan

tetes masih bertahan

seakan enggan tunjukkan tanda kesudahan

hingga tak dirasakan

tabir-tabir hitam malam mulai dibentangkan

sebagai wujud akhir perjalanan

-

ya, sebuah lukisan alam pedesaan

pada petang berguyur hujan

yang kini aku akui semakin jarang kudapatkan

di sela-sela pergeseran peradaban

tiada terbantahkan

mesti jalani pun kadang menyesakkan

-

Bengkulu, 31 Maret 2013

Jansori Andesta

/www.jansmiauw.com

TERVERIFIKASI

aku anak ketiga dari pasangan hazairin dan sawati. dari tahun 2005 aku mulai menyukai puisi (baca n tulis puisi). dan saat ini menulis adalah pilihanku.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL puisi fiksi
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article