Liem Poo Hien, Penjaga Tradisi Batik Encim di Kedungwuni

01 Mei 2012 14:34:51 Dibaca :
Liem Poo Hien, Penjaga Tradisi Batik Encim di Kedungwuni
Aku dan Mbak Hien (Liem Poo Hien)

1335882847663827777 Awalnya niat kami mengunjungi Kota Pekalongan adalah untuk kulakan batik. Namun sewaktu ngobrol dengan pengusaha batik di Kampung Kauman, tempat kami kulakan, dia berkata "Kalau Anda pencinta batik tulis, mumpung di sini, harus ke tempat Liem Ping Wie di Kedungwuni. Sudah terkenal sejak zaman Belanda. Banyak desainer top Jakarta memesan batik tulis di situ."  Tanpa pikir panjang, kami pun meluncur ke Kedungwuni, yang cuma 30 menit dari pusat kota Pekalongan. Setelah bertanya beberapa kali sepanjang jalan, sampailah kami di rumah batik legendaris itu. Sebuah bangunan sederhana di antara jejeran toko. Hanya ada plang nama kecil, Tradisional Batik Art. 1335877545536458428Di sinilah tempat lahirnya cikal bakal batik china peranakan (atau populer dengan batik encim ) di Pekalongan, yang fenomenal sejak zaman Belanda. Salah satu pembatiknya bernama Oey Kiem Boen. Secara turun temurun mewariskan usaha batik encim sebagai tradisi sekaligus menjadi penopang ekonomi keluarganya. (Baca Sejarah Batik Encim). Batik encim atau china peranakan ini masih bertahan hingga sekarang, membuktikan bahwa keluarga ini bertekad untuk terus melestarikan batik encim. Pusat pembuatan batiknya menggunakan nama Liem Ping Wie, yang merupakan keturunannya yang ketiga. Kini, Rumah Batik Liem Ping Wie dikelola oleh putri keenamnya, atau keturunan keempat Oey Kiem Boen, yaitu Liem Poo Hien. Liem Poo Hien yang akrab dipanggil Mbak Hien, menerima kami dengan sangat ramah dan terbuka. Di rumah warisan kakeknya ini, setiap hari Mbak Hien dibantu pekerjanya memproduksi batik motif china peranakan dengan teknik tulis dan juga cap. Salah satu pekerjaanya adalah seorang nenek yang telah berusia 90 tahun, yang tetap setia sejak ayahnya, Liem Ping Wie, masih hidup. Mbak Hien mempersilakan kami melihat workshop yang berada di belakang rumahnya. Sekitar 15 pekerja tampak asyik bekerja dalam ruang tanpa penerangan dan pendingin udara, sambil bercengkerama. Seorang gadis menggambar pola di atas kain mori. Di ruang lain, ibu-ibu asyik mencanting. Beberapa lelaki mencap, yang lainnya mencelup kain dengan pewarna. Uniknya, saat istirahat pukul 12, setelah makan siang, para pekerja sempat tidur di bawah meja sebelum pukul 1 kembali bekerja. 13358785721014026988

13358785891109503292
Proses mencanting.
13358786082007280558
Jam istirahat, pembatik tidur di bawah meja.
133587868818932216391335878727214154028013358787729954941841335878798519968831335878828313864484
13358793321884173547
Batik encim motif hokokai. Harganya seusai dengan proses kerja secara tradisional berbulan-bulan.
Proses membuat selembar batik encim mencapai 3 bulan. Tidak heran jika harganya mencapai lebih dari 10 juta rupiah. Itupun pembelinya rela inden hingga beberapa bulan. Menurut Mbak Hien, ia lebih baik menjual batik tulis yang ada dalam stok daripada menerima pesanan. Karena dengan menerima uang muka,  berarti ia harus menombok untuk membayar upah pembatik selama berbulan-bulan. Tidak heran pula, perancang mode papan atas seperti Edward Hutabarat secara khusus memesan motif rancangannya untuk dikerjakan di Kedungwuni ini. Nah, jika sudah masuk butik desainer Jakarta, harganya jangan ditanya.
1335879513509117935
Batik Hokokai pagi-sore rancangan Edward Hutabarat yang dikerjakan oleh pembatik Liem Ping Wie di Kedungwuni(Kompas.com)
Sewaktu kami bertanya kepada Mbak Hien yang hidup melajang, kelak siapa yang meneruskan roda produksi batik encim ini? Ia menjawab ringan, "Yaa adalah nanti, kan ada keluarga besar Liem Ping Wie...". Hmm semoga saja, kesetiaan dan kecintaan Mbak Hien pada batik encim menular hingga generasi ke-5, ke-6 dan seterusnya.... Sejarah Batik Encim di Pekalongan Periode tahun 1850-1860 kegiatan membatik di Pekalongan sudah ada. Motif batik Pekalongan pun mengalami metamorfosa, dipengaruhi oleh datangnya bangsa asing, yaitu China dan Belanda. Para pelaku batik tidak hanya kaum pribumi, tapi juga para pengusaha china dan para istri orang Belanda. Pada masa itu kain batikpun kian dilirik, semakin meluas peminatnya, dan menjadi usaha yang menarik untuk diandalkan dalam perekonomian. Rentang periode sepuluh tahun (1850-1860) produksi batik terus berkembang di Pekalongan. Melihat perkembangan batik pada waktu itu, membuat orang-orang China yang berjiwa wiraswata dengan cepat menangkap peluang, melakukan berbagai inovasi, dan banyak yang berkecimpung di dunia pembatikan. Memasuki periode pasca tahun 1910 produksi batik yang dihasilkan orang-orang china (china peranakan) memenuhi pasar. Kecermatan dan kehalusan dalam membuat batik, banyak diakui jauh lebih baik dari batik buatan orang-orang Belanda. Batik buatan orang china menggunakan motif dari mitos budaya china seperti, burung Phoenix (Hong), kura-kura, dewa-dewi, yang sebagian besar motif itu diambil dari ragam hias pada ornamen keramik china. Motif — motif itupun digabung dengan hiasan buket yang khas belanda. ntuk menandai kualitasnya, jika batik buatan orang Belanda kebanyakan ditandatangani oleh perempuan, batik pengusaha china tanda tangannya kaum pria.
13358766732091531604
Tanda tangan Oey Soe Tjoen, ciri khas batik encim Kedungwuni.
1335882158734224608Produksi batik yang dihasilkan China peranakan itupun cukup dikenal di kalangan luas, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar luar negeri. Dekade tahun 1920, salah seorang perajin batik Oei Soe Tjun yang tinggal di Kedungwuni, menjadi salah satu pelopor pembuatan batik halus dengan cara tradisional yang dikenal dengan Batik Encim. Batik hasil karyanya saat itu cukup kesohor sehingga ia dikenal di seantero pulau Jawa sebagai pengusaha dan perajin batik Pekalongan. Terjunnya Oei Soe Tjun tidak terlepas dari keluarga pendahulunya, Oei Kiem Boen, sebagai pengusaha batik dengan teknik cap di Kedungwuni. Oei Soe Tjoen sama sekali tidak mengikuti aliran ayahnya yang menggunakan batik dengan teknik cap, melainkan  memakai cara tradisional, yaitu batik tulis dengan canting halus. Kala itu hasil karyanya menjadi fenomenal. Kain batik yang dibuat dengan biaya 5 gulden berhasil dijual dengan harga 22 gulden. Tingginya harga jual pasaran tidak terlepas dari mutu yang dihasilkan. Di sini Oei Soe Tjoen menunjukan integritasnya, sehingga order yang diperoleh tidak hanya melayani pesanan dari kalangan keturunan China saja, namun telah meluas baik dari kalangan Belanda, maupun pribumi kelas atas. (Sumber: Museum Batik Pekalongan)

Ima Hardiman

/www.gagasulung.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

perempuan biasa. penikmat perjalanan dan pencinta keindahan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?