Ashwin Pulungan
Ashwin Pulungan wiraswasta

Semoga negara Indonesia tetap dalam format NKRI menjadi negara makmur, adil dan rakyatnya sejahtera selaras dengan misi dan visi UUD 1945. \r\nPendidikan dasar sampai tinggi yang berkualitas bagi semua warga negara menjadi tanggungan negara. Tidak ada dikhotomi antara anak miskin dan anak orang kaya semua warga negara Indonesia berkesempatan yang sama untuk berbakti kepada Bangsa dan Negara. Janganlah dijadikan alasan atas ketidakmampuan memberantas korupsi sektor pendidikan dikorbankan menjadi tak terjangkau oleh mayoritas rakyat, kedepan perlu se-banyak2nya tenaga ahli setingkat sarjana dan para sarjana ini bisa dan mampu mendapat peluang sebesarnya untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang produktif dan bisa eksport. Email : ashwinplgnbd@gmail.com \r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Tentang Walisongo Yang Sebenarnya

19 Mei 2017   23:35 Diperbarui: 20 Mei 2017   00:02 1451 7 6

Kehadiran serta kedatangan agama Islam di bumi Nusantara Indonesia ini, nyata berlangsung dan berproses secara sangat sistematis, gradual, ekstensif, terencana, kasih sayang dan tanpa kekerasan dan permusuhan, Islam datang ke Indonesia adalah didalam jalan damai serta simpatik. Para Da’i pembawa Islam melakukan perubahan sangat besar-besaran secara mendasar selama bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun. Mereka mampu memotivasi dan membangun pola pikir serta pola tindak masyarakat Indonesia dari awalnya pola kepercayaan dan kebudayaan Animisme-Dinamisme, Hindu, dan Budha, Kejawen menjadi wilayah Nusantara-Indonesia yang bertradisikan Islami secara mayoritas hingga saat ini. Perubahan ini merupakan proses revolusi besar agama Islam dan kebudayaan Islami di bumi Nusantara-Indonesia yang pernah terjadi secara nyata.

Para sejarawan yang berpikir dan berbuat benar berpendapat, bahwa para orientalis Belanda sengaja melakukan pelencengan ‘politik kesejarahan’ dengan cara memisahkan antara Arab dengan segala identitasnya dengan penduduk Muslim Nusantara, sehingga teori-teori sejarahnya dibuat sedemikian untuk membuktikan bahwa tidak ada peran bangsa Arab di dalamnya. Yang tujuannya adalah menjauhkan ummat Islam Indonesia dengan keterkaitan alur dengan Keturunan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu dipolitisasilah oleh Belanda dan Chinaisme bahwa para Walisongo berketurunan dari China dan India dalam berbagai video dan buku yang telah diterbitkan.

Keberadaan keturunan Arab cukup ditakuti oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles pernah mengaku bahwa tiap orang Arab dan orang-orang pribumi yang kembali dari ibadah haji di Makkah dianggap ‘keramat’. Mereka sangat mudah menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda dan menjadi komponen masyarakat yang sudah dianggap bisa membahayakan kepentingan Belanda disaat itu.

Dari sekilas penjelasan di atas, dapat dimengerti jika ada yang menyatakan bahwa teori-teori yang dikemukakan oleh Hurgronje dan orientalis penjajah lainnya memang memiliki misi politis 3G “Gold-Glory-Gospel”. Di sinilah teori-teori para orientalis menjadi sangat meragukan. Kajian ilmiah tercampur dengan ambisi politik kotor. Hasilnya adalah statemen-statemen politis yang dibungkus dengan kajian ilmiah layaknya dan ditulis oleh penulis terkenal bayaran untuk kepentingan penjajahan Belanda.

Baik teori Walisongo yang katanya berasal dari India maupun teori Cina, semestinya tidak mengesampingkan fakta adanya raja-raja atau sultan keturunan Arab di wilayah Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Sebagai contoh, keluarga Kesultanan Pontianak memakai marga al-Qadri, yang tidak lain marga keturunan Arab dari kalangan Habaib. Di Riau terdapat kesultanan Siak yang keluarga kesultanannya bermarga Bin Shahab. Mereka semua yang memakai marga tersebut dan merupakan keluarga dari kalangan Habaib.

Begitu pula, kesultanan-kesultanan lainnya, misalnya Cirebon, Banten, Demak, Jepara, dan lain-lain. Jika dibaca dari sejarah berdirinya, kesultanan-kesultanan tersebut berdiri tidak dengan kekuatan senjata. Hal ini karena keturunan Arab dari kalangan Habaib tersebut memang diterima dan diangkat oleh rakyat. Rakyat pribumi menerima keturunan Arab bukan sebagai penjajah tetapi sebagai sultan pribumi yang membawa manfaat. Sebabnya adalah, keturunan Arab zaman itu telah menyatu-padu berasimilasi baik dengan penduduk pribumi dari berbagai segi budaya dan sosial sehingga dianggap juga sudah menjadi dan sebagai rakyat pribumi.

Orang-orang Arab ini bercampur gaul dengan penduduk setempat sehingga mendapatkan penerimaan yang baik dan didaulat oleh rakyat menjabat sebagai tokoh. Alwi bin Thohir al-Haddad menjelaskan bahwa rupanya pembesar-pembesar Hindu juga terpengaruh dengan sifat-sifat keahlian orang Arab, oleh karena sebagian besar mereka keturunan Nabi Muhammad SAW. Orang-orang Arab ini membawa sesuatu yang menarik bagi orang-orang Hindu, yaitu tradisi baru, pikiran baru, dan pola hidup yang baru pula. Keturunan Nabi Muhammad SAW tersebut mengajarkan akidah Sunni dan fikih Syafi’i secara fleksibel kepada para pribumi Indonesia yang dikenal masih sangat kolot dengan tradisi Animismenya disaat itu.

Meski demikian, peran sejarah kaum India dan Cina Muslim tidak bisa dianggap tidak ada samasekali namun, peran mereka tidak seperti yang dilakukan keturunan Arab. Untuk melakukan penyatuan dengan pribumi bukan perkara mudah dan tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Prosesnya bisa berabad-abad, sampai akhirnya keturunan para etnis Arab pun oleh orang Jawa dianggap sebagai ‘pribumi’ karena solidnya dan baiknya asimilasi etnis Arab. Hal ini menunjukkan, eksistensi keturunan Arab jauh lebih dahulu diterima hadir di Nusantara Indonesia.

KONSPIRASI  JAHAT Proxy China Komunis BAHWA WALISONGO BUKAN DARI ARAB TAPI CINA

Pada tahun 1968, terbit buku karya Prof. Slamet Muljana, "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara". Buku itu segera menimbulkan polemik hebat dan menguatkan kontroversi di kalangan publik dan sejarawan. Didalam buku tersebut, menyatakan bahwa semua Sembilan orang Wali yang kita sering sebut dengan WALISONGO adalah berasal usul dari etnis China lengkap dengan nama-namanya. Pihak pemerintah Orde Baru melalui Kejaksaan Agung segera bertindak. Buku itu dinyatakan resmi dilarang beredar. Hingga pada Maret 2005, penerbit LKiS memutuskan untuk menerbitkan kembali buku kontroversial itu hingga kini beredar mulus dan pihak Kepolisian RI tidak bertindak.

Akhir akhir ini, banyak para munafikun proxy China serta proxy Komunis di Indonesia memperlihatkan berbagai informasi yang sangat menyesatkan publik Indonesia hanya untuk menyampaikan informasi sangat menyesatkan bahwa hanya bangsa China adalah yang sangat berjasa atas perkembang tumbuhan Islam di tanah Jawa, dengan menyatakan bahwa semua Sembilan orang Wali yang kita sering sebut dengan WALISONGO adalah berasal usul dari etnis China (adalah sebuah KEBOHONGAN BESAR). Memang ada salah satu orang tua para Walisongo yang beribu wanita muslim yang berasal dari Campa-China.  

Yang menyatakan Walisongo bukan berasal dari Arab, memiliki latar belakang kepentingan dengan Kolonialis Belanda dan motivasi ideologis Orientalis berasumsi bahwa Arab itu adalah Islam (Islam tidak identik sama dengan Arab). Selanjutnya akhir akhir ini dimanfaatkan pula oleh para antek simpatisan komunis proxy China Komunis yang menyatakan Walisongo itu bukan turunan dari Rasulullah Muhammad SAW, akan tetapi dari turunan etnis China.

Upaya penyesatan informasi Walisongo yang dilakukan secara serampangan ini adalah untuk bisa menutupi permasalahan negatif akhir akhir ini bahwa etnis China sangat disorot dengan upaya upaya kasar terselubung mereka untuk mendominasi semua bidang di Indonesia disamping ekonomi juga mereka sangat bernafsu ingin menguasai bidang Politik serta kekuasaan bangsa dan Negara Indonesia dengan membangun link yang erat dengan Negara RRC.

Opini negatif yang berkembang adalah banyaknya masuk warga Negara asing China ke Indonesia secara illegal tanpa adanya upaya keras dari Pemerintah untuk maksimal mencegahnya. Dengan kata lain Negara Indonesia disetting dan dikonspirasi nyata akan di Singapurkan oleh mereka, apalagi adanya tujuan tertentu dari reklamasi pulau di teluk Jakarta untuk migrasi warga China. Untuk mendapatkan citra positif politik dukungan dan simpati dari masyarakat Indonesia, digulirkanlah berbagai tulisan bohong tanpa rasa malu bahwa  WALISONGO adalah berasal usul dari etnis China dan etnis Chinalah yang paling berjasa mengembangkan Islam di tanah Jawa dan Indonesia.

Berikut ini adalah daftar nama-nama sunan Walisongo beserta asal daerahnya : [1].Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gersik), sunan walisongo yang paling lebih dahulu ada. Beliau berasal dari Persia dan kemudian menetap dan berkedudukan di Gresik, jawa Timur. [2]. Sunan Ampel (Ngampel), sunan walisongo yang memiliki nama asli Raden Rahmat (Sayyid Ahmad Rahmatullah) dan berkedudukan di Ngampel, dekat Surabaya. [3]. Sunan Bonang, sunan walisongo yang semula bernama Makhdum Ibrahim ini adalah anak kandung dari Sunan Ampel. Ia berkedudukan di Bonang, dekat Tuban. [4]. Sunan Drajat, sunan walisongo yang awalnya bernama Raden Qasim ini adalah adik dari Sunan Bonang. Ia berkedudukan di Drajat, dekat Sedayu, Surabaya. [5].Sunan Giri, sunan yang semula bernama Raden Paku (Ainul Yaqin) ini adalah asli murid dari Sunan Ampel. Ia berkedudukan di bukit Giri, dekat Gresik. [6]. Sunan Muria (Raden Umar Said), sunan yang berkedudukan di sungai Muria, Kudus. [7]. Sunan Kudus, sunan yang semula bernama Ngudung (Ja’far Ash-Shadiq) ini berkedudukan di Kudus. [8] Sunan Kalijaga, sunan yang bernama asli Joko Said (Raden Sahid) ini berkedudukan di Kadilangu, Demak. [9]. Sunan Gunung Jati, atau yang bernama asli Syarif Hidayatullah merupakan satu-satunya anggota Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Ia lahir sekitar tahun 1450 M dan wafat pada usia 120 tahun atau sekitar tahun 1570 M.

Pelencengan, Penipuan dan Penyesatan Nama Walisongo katanya berasal Dari China.

Menurut buku yang ditulis Prof. Slamet Muljana penulis yang sangat menyesatkan tentang asal usul Walisongo, orang yang mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah orang China, yakni Chen Jinwen atau yang lebih dikenal dengan Raden Patah alias Panembahan Tan Jin Bun/Arya (Cu-Cu). Ia adalah pendiri kerajaan Demak di Jawa Tengah.

 Walisongo dibentuk oleh Sunan Ampel pada tahun 1474. Mereka terdiri dari sembilan orang wali diantaranya : Sunan Ampel alias Bong Swie Ho, Sunan Drajat alias Bong Tak Keng, Sunan Bonang alias Bong Tak Ang, Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang, Sunan Gunung Jati alias Du Anbo-Toh A Bo, Sunan Kudus alias Zha Dexu-Ja Tik Su, Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat, dan Sunan Giri yang merupakan cucu dari Bong Swie Ho.

Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 di Champa (Kamboja). Saat itu, banyak sekali orang Tionghoa/Cina penganut agama Islam bermukim di sana. Ia tiba di Jawa pada 1443. Tiga puluh enam tahun kemudian, yakni pada 1479, ia mendirikan Mesjid Demak.

Melihat kenyataan keberadaan dan perkembangan etnis Cina di Indonesia hingga kini, tanda tanda bahwa banyaknya etnis Cina yang menjadi tokoh ulama agama Islam sejak dahulu hingga sekarang tidak terlihat yang kita saksikan adalah WNI yang sudah mengerti dan paham para mualaf dari etnis Cina yang masuk Islam lalu mereka menjadi para pendakwah (Da’i) agama Islam yang gigih disamping para ulama dari turunan etnis Arab. Malah etnis Cina di Indonesia selama ini dominan berideologi Budha,Khong Hu Cu,Kristen, Komunis, Atheisme, Animisme. Kalaulah benar para Walisongo itu dari turunan China, seharusnya sudah banyak para pendakwah Islam dari turunan China layaknya seperti para Habaib turunan Arab di Indonesia.

Penulis GR.Tibbets dan Alwi bin Thohir al-Haddad berpendapat kepulauan Indonesia telah lama menjadi jalur perdagangan internasioal sebelum Islam datang. Orang-orang Arab yang berdagang ke Cina selalu melewati Sumatera dan Jawa untuk mampir sambil berdagang. Di sinilah Alwi al-Haddad berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Sumatera pada tahun 30 H di zaman Khalifah Utsman bin Affan, atau pada tahun 650 Masehi. Sebab, kepulauan Nusantara tidaklah asing bagi orang-orang Arab.

Sebelum zaman penjajahan, di bumi Nusantara dikabarkan telah ada komunitas Muslim Cina. Seperti halnya komunitas Muslim orang Arab, Muslim Cina juga ‘menyatu’ dengan pribumi dengan cara pernikahan. Ibu Sultan Fattah, sultan pertama kerajaan Demak, juga dikabarkan merupakan putri Cina yang dinikahkan kepada Bre Kertobhumi, seorang raja Majapahit. Lihat Rachmad Abdullah, Walisongo Gelora Dakwah (h.40).

Dari pemaparan di atas, jelaslah sudah bahwa yang datang ke Nusantara pertama kali adalah orang-orang Arab. Dan leluhur Walisongo merupakan keturunan Arab dari kalangan Bani Alawiyyin (Habaib).Teori Arab berpendapat bahwa Walisongo adalah keturunan Habaib dari Hadramaut. Pendapat yang menyebut Walisongo berasal dari Asia Tengah, Champa, atau lainnya ternyata tidak memiliki basis teori kuat, sebab tempat-tempat seperti Gujarat di India, Champa di China, dan lain-lain adalah hanya tempat singgah para rombongan Bani Alawiyyin sebelum sampai ke Sumatera dan Jawa. Tempat-tempat tersebut merupakan jalur perjalanan saja, bukan asal-usul rasnya. Inilah teori yang paling masyhur dan paling kuat. Waspada terhadap upaya pelencengan sejarah kedatangan Islam ke Indonesia, yang sudah dimulai dari sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini mau dilencengkan kepada yang lebih menyesatkan lagi.  

Jamaluddin al-Husein, kakek dari Maulana Malik Ibrahim misalnya, adalah seorang keturunan Arab dari Bani Alawiyyin yang lahir di India. Ia memiliki garis keturunan dari Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir, imigran asal Irak yang menetap di Hadramaut, Yaman, keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib RA. Jamaluddin al-Husein bukan dari etnis India, leluhurnya bernama Abdul Malik, berasal dari Hadramaut, tapi hijrah ke India untuk berdakwah. Ia menetap di wilayah Koromandel, India, yang pernah berdiri sebuah kerajaan yang didirikan oleh keturunan Abdul Malik. Namun, penduduknya banyak yang berpindah ke Champa karena kalah dalam suatu peperangan.

Jamaluddin al-Husein ini mempunyai tiga anak laki-laki yang keturunannya menjadi pendakwah. Mereka adalah Sayid Barakat Zainal Alam, Ibrahim al-Akbar, dan Ali Nurul Alam. Barakat Zainal Alam menetap di Gujarat India dan memiliki anak bernama Maulana Malik Ibrahim, salah satu Walisongo. Sedangkan Ibrahim al-Akbar merupakan kakek dari Sunan Ampel.

Para Walisongo berperan penting dalam pembinaan mazhab Syafi’i hingga mayoritas Muslim Indonesia bermazhab Syafi’i. Dikatakan bahwa ikatan keluarga kalangan Asyrafpada zaman itu sangat kuat. Mereka tidak kesulitan untuk mempersamakan serta memupuk kesatuan paham Ahlussunnah. Pola pembinaan mazhab ini juga diperkuat dengan pertalian hubungan keluarga antara anak dengan bapak, paman dengan keponakan, dan antara mertua dengan menantu. Tradisi ini sangat kuat hingga membentuk pertalian ideologis secara turun-temurun.

Dapat disimpulkan, dugaan yang mengatakan bahwa akidah Walisongo adalah Syiah, merupakan anggapan yang sangat spekulatif. Berdasarkan data di atas, mazhab dan akidah Walisongo adalah Ahlus Sunnah-Syafi’iyyah. Diturunkan dari para leluhur mereka dari Bani Alawi di Hadramaut yang memegang kuat tradisi keagamaannya yang bercorak tasawuf itu. Jika Walisongo itu Syiah, maka dapat dipastikan mayoritas Muslim Indonesia Syiah hingga sekarang. Kenyataannya, Muslim Indonesia mayoritasnya berakidah Ahlus Sunnah bermazhab fikih Syafi’iyyah. Hal ini karena, secara turun-temurun dan berkelanjutan diwariskan dari para mubaligh Walisongo dan para ulama lainnya hingga saat ini.

Ada beberapa kesimpulan kajian penyesatan para orientalis Barat dan para Chinaisme itu sebenarnya dapat dibaca karena beberapa tujuan politik.

Pertama,mereka ingin melemahkan aqidah Islam didalam setiap diri kaum muslimin Indonesia, sehingga target dan tujuan menimbulkan keraguan atas kebenaran Islam tercapai. Perkembang tumbuhan jumlah ummat Islam didunia semakin hari semakin banyak yang memeluk dan memperdalam agama Islam, sehingga kebenaran ajaran Islam sangat perlu dirusak sehingga kebenaran Islam dapat didegradasi menjadi pembenaran.

Kedua, musuh Islam di Indonesia bertujuan mengaburkan identitas pembawa agama Islam yang sebenarnya, bahwa bangsa Arab yang membawa Islam tidak membawa kemajuan terhadap Indonesia. Kegemilangan strategi Walisongo didalam meng-Islamkan Indonesia, perlu direbut dari etnis yang berasal Arab menjadi etnis lainnya seperti China dan India. Bahkan orientalis lebih menampilkan kisah-kisah mitologi daripada karya intelektual bangsa Nusantara. Kisah-kisah para ulama Jawa dahulu dan Walisongo, misalnya, dikreasi dengan menonjolkan unsur mitologi daripada unsur keilmuan dan intelektual.

Ketiga, kultur dan tradisi keagamaan yang telah lama tumbuh serta membudaya di kalangan Muslim Indonesia, digiring dan disangkut-pautkan dengan budaya non-Ahlus Sunnah-Syafi’iyyah bahkan juga dikaitkan dengan kultur non-Islami (Hindu) atau (Budha), atau Kristen. Karena itu, kajian selanjutnya yang benar dan jujur serta komprehensif tentang pemikiran dan asal usulnya tiap tokoh Walisongo sangat dibutuhkan untuk disosialisasikan didalam masyarakat Indonesia. (Ashwin Pulungan)

DAFTAR PUSTAKA

1.Solikhin Salam. “Sunan Kudus Riwayat Hidup Serta Perjuangannya”. Menara Kudus.

2. Widji Saksono. “Mengislamkan Tanah Jawa Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo”.1995-Mizan.

3.Agus Salim Haji, “Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia”. Sumber Ilmu Jakarta 1957.

4. Rachmad Abdullah, Walisongo Gelora Dakwah.

5.Rahimsyah. T.Th. Kisah Perjuangan Walisongo.Surabaya: Dua Media.

6.Ibnu Nuh, Abdullah. 1986. al-Imam al-Muhajir. Bogor : Majelis Ihya. Al-Masyhur, Idrus Alwi. 2012. Membongkar Kebohongan Sejarah danSilsilah Keturunan Nabi Saw di Indonesia.T.K.Saraz Publishing.

7. Kholili Hasib. Menelusuri Mahzab Walisongo.

8.Al-Haddad, Alwi bin Thahir. 1996. Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh.Jakarta: Penerbit Lentera