Tuhan, Damaikan Papuaku

15 Juni 2012 08:29:11 Dibaca :

Jika ada suatu kesempatan dari Tuhan, untuk mengajukan satu permintaan saat ini, yang kuminta hanyalah “tanah Papuaku damai”. Ya, itulah pula yang saat ini sedang dirasakan putera-puteri Papua. Suatu kehidupan yang tenang, tanpa suara tembakan. Suatu kehidupan yang tenang tanpa pertumpahan darah. Suatu kehidupan yang tenang tanpa ketakutan. Suatu kehidupan yang tenang tanpa suara tangisan minta tolong.Suatu kehidupan tenang tanpa ketidak adilan dan kekerasan. Suatu kehidupan yang tenang tanpa kehancuran.Hanya suatu kehidupan yang tenang penuh damai, itulah impian kami.


Dibesarkan di tanah yang istimewa, membuat diriku merasa bahagia. Tanah yang penuh kenangan indah, mungkin tak bisa dibandingkan dengan apapun juga. Tanah Papua, bagiku adalah tempat yang penuh berkat. Mungkin sebagian orang merasa, Papua adalah tempat mengerikan dengan sejuta konflik. Namun tidak bagiku. Aku memang bukanlah orang yang beruntung menjadi seorang puteri daerah Papua, namun aku sungguh beruntung dilahirkan dan dibesarkan di tanah Papua. Aku sungguh beruntung dididik dalam lingkungan orang Papua. AKu sungguh beruntung mampu berdialek Papua. Menjadi kasarkah aku, pemabukkah aku, pengacaukah aku, perusuhkah aku, bodoh kah aku? TIDAK! Papua tidak mengajariku seperti itu. Stereotipe negatif yang melekat dalam wajah Papuaku haruslah ditepis.


Ketika banyaknya media yang menyiarkan konflik yang terjadi di tanah kelahiran ku akhir-akhir ini, membuatku sedikit miris. Belum lagi yang sedang terjadi dikota asalku, Jayapura. Di awali, dengan sebuah tuntutan “MERDEKA”, Papua seolah menjadi sebuah sorotan sebagai daerah konflik yang tidak tahu berterima kasih. Kurang dimanja kah Papua itu dengan dana otsus tertinggi? Kurang perhatiankah Papua itu? Mampukah Papua itu berdiri sendiri tanpa nama Indonesia? Ya, mungkin secara tidak langsung ada pemikiran seperti ini mengenai Papua sendiri. Namun dengan sebuah tanggapan “TIDAK” atau “YA”, “Salah” atau “benar”, bukanlah jawabannya. Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Mungkin dapat dimulai sendiri dengan melihatnya secara objektif.


Berkaca dari peristiwa yang saat ini sedang terjadi di Papua, tepatnya di Jayapura, mungkin dapat menjadi suatu pembelajaran bagi kita. Bagaimana suatu tuntutan disintegrasi haruslah diperhatikan sungguh-sungguh. Pemerintah bukanlah satu-satunya pemecah masalah yang terjadi. Peran serta seluruh elemen masyarakat Indonesia tentu sangat diharapkan. Papua adalah harta Indonesia yang haruslah diperhatikan. Peristiwa konflik yang saat ini sedang terjadi janganlah dilihat secara egois sebagai suatu kesalahan pemerintah. Namun harus lebih dilihat dari berbagai sudut pandang , apa saja yang menjadi penyebabnya, bagaimana solusinya. Masyarakat Papua saat ini tidak lah mengemis suatu belas kasihan namun memerlukan suatu toleransi yang besar dari berbagai pihak. Jika memang tuntutan tersebut bukanlah suatu jalan keluar yang baik untuk masalah di Papua, maka tentunya dengan beribu solusi haruslah diberikan selain tuntutan tersebut. Jangan biarkan suatu nyawapun melayang oleh karena keegoisan kita yang saling mempermasalahkan. Jangan biarkan suatu keputusan ya g tidak bijaksana membuat penderitaan masyarakat Indonesia khususnya Papua. Namun jika memang kemerdekaan akan membawa kehidupan yang baik bagi masyarakat Papua, harus benar-benar menjadi suatu keputusan yang penuh dengan tanggung jawab yang besar.


Damailah Papuaku, God Bless.

Angelica Senggu

/www.detik.cm

aku tak pandai untuk berkata-kata bijak,namun aku bersyukur Tuhan memberikanku kepandaian untuk menulis dengan bijak.^^
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?