Sinopsis dan Tanggapan Novel Bekisar Merah

20 Desember 2012 14:55:30 Dibaca :

SINOPSIS BEKISAR MERAH

Cerita novel ini berawal dari seorang lelaki yang bekerja sebagai seorang penyadap di desa yang bernama Karangsoga. Laki-laki tersebut bernama Darsa yang mempunyai istri sangat cantik bernama Lasi. Mereka sudah tiga tahun menikah tetapi belum juga dianugrahi anak. Lasi adalah anak dari mbok Wiryaji yang dahulunya diperkosa oleh orang Jepang, kemudian menikah dan setelah mengandung Lasi selama lima bulan mbok wiyarji ditinggalkan oleh orang Jepang tersebut. Sehingga anak-anak desa sering mengejek Lasi dengan sebutan “lasipang” lasi anak Jepang padahal namanya adalah “lasiyah”. Hanya Kanjat teman Lasi yang tidak mau mengejek, karena Kanjat anak yang baik dan tidak banyak tingkah.

Suatu hari seperti biasanya Darsa pergi untuk mengangkat pongkor. Sampai petang Darsa belum juga pulang ke rumah, Lasi pun menjadi cemas akan keadaan suaminya karena risiko menjadi penderes adalah nyawa taruhannya. Samar-samar tampak seorang laki-laki yang menggendong beban dipundaknya, ternyata Darsa jatuh dari pohon kelapa dan sekarat. Lasi pun bingung karena tak ada biaya untuk membawa kerumah sakit. Akhirnya Lasi memutuskan untuk menggadaikan kebun kelapanya kepada pak Tir juragan gula di Karangsoga.

Setelah tiga minggu di rumah sakit keadaan Darsa sudah membaik, luka-luka sudah kering. Tetapi dokter tetap menyuruh Lasi untuk mengirim Darsa ke rumah sakit pusat karena Darsa terus kencing di celana. Sebenarnya Lasi tidak punya biaya dan tetap ingin membawa Darsa ke rumah sakit pusat tetapi mbok Wiryaji tidak memperbolehkannya. Dengan begitu Lasi membawa Darsa pulang untuk di rawat oleh seorang dukun pijat di Karangsoga yang bernama bunek. Banyak orang bilang pijatannya terbukti bisa menyembuhkan beberapa penyakit.

Setelah beberapa lama tampaknya Darsa mulai mengalami perubahan, karena terlalu sibuk, Bunek meminta agar Darsa yang pergi kerumah Bunek. Sesekali Lasi mengantar, kadang Darsa pergi sendiri. Hal ini dimanfaatkan oleh Bunek, ia memiliki anak gadis yang bernama Sipah. Sipah belum memiliki suami, mungkin karena kakinya pincang. Dan Bunek ingin membuktikan kejantanan Darsa dengan perantara anaknya tersebut. Sipah sebenarnya menolak tapi karena dibujuk Bunek akhirnya ia mau melakukan perbuatan itu. Bunek menganggap hal itu sebagai imbalan. Darsa pun sebenarnya tidak mau melakukan hal sekeji itu, ia tidak mau menyakiti hati Lasi, tapi apa daya Darsa tetap tidak mampu menahan nafsu kelelakiannya.

Nasib Lasi memang bertambah sengsara setelah mendengar kelakuan nakal suaminya. Lasi tidak mau lagi hidup di desa Karangsoga. Lasi memilih pergi diam-diam dari desanya dengan menumpang truk muatan gula yang dikemudikan Pardi dan kernetnya Sapon. Lasi juga tidak mengerti ingin pergi kemana. Sebenarnya Pardi dan Sapon tidak memperbolehkan Lasi ikut, tetapi Lasi tetap dingin dan kaku untuk duduk di truk. Sesampainya di Jakarta Lasi dititipkan di warung makan milik Bu Koneng langganan Pardi. Karena Pardi dan Sapon akan bongkar muat barang digudang. Bu Koneng pun membujuk Lasi untuk tetap tinggal di rumahnya dan mempekerjakan Lasi sebagai pelayan warungnya. Dengan rayuan Bu Koneng yang selalu memuji kecantikan Lasi dan selalu mendengarkan cerita tentang Darsa. Akhirnya Lasi mau juga tinggal bersama Bu Koneng.

Suatu hari bu Koneng menyuruh bu Lanting untuk datang ke warungnya. bu Koneng ingin meperlihatkan pada bu Lanting bahwa ada barang bagus di warungnya. Dan barang bagus yang di maksud bu Koneng adalah Lasi. Bu Lanting adalah orang yang memanfaatkan para wanita cantik untuk diperistrikan pejabat-pejabat kaya. Setelah bu Lanting melihat Lasi, bu Lanting sangat tertarik dan ingin membawa Lasi ke rumahnya. Kemudian pada hari berikutnya, bu Lanting kembali datang dengan membawa hadiah untuk Lasi berupa pakaian lengkap yang bagus kualitasnya. Dengan bujukan bu Koneng Lasi pun mau mengenakannya dan mau ikut dengan bu Lanting yang dijadikan anak angkat oleh bu Lanting.

Lasi kini tinggal bersama bu Lanting dengan menjadi wanita jepang yang cantik dan memakai pakaian yang berkualitas. Lasi diperlakukan sebagai anak yang di sayang dan tak pernah melakukan apapun kecuali membantu bu Lanting merawat taman bunga. Hingga suatu hari bu Lanting bertemu dengan seorang pengusaha kaya bernama Handarbeni yang mengagumi Haruko Wanibuchi aktris film Jepang yang berumur hampir enam puluh lima tahun, gemuk, dan sudah mempunyai dua isteri. Dan hendak menjadikan Lasi seekor bekisar yang menjadi pajangan di rumahnya yang baru dan mewah di Slipi. Bu Lanting memperlihatkan tiga foto Lasi yang memakai baju Kimono Jepang. Respon Handarbeni sangat positif, ia segera mengatur waktu agar secepatnya bertemu dengan Lasi. Di sela-sela waktu sebelum bertemu dengan Handarbeni, Lasi kedatangan tamu dari Karangsoga yaitu Kanjat teman masa kecilnya, yang ingin mengajak Lasi untuk pulang. Tetapi Lasi tetap menolaknya, dan memberikan sebuah foto dirinya kepada Kanjat. Sebenarnya kanjat sejak saat itu mulai merasa hatinya terpikat oleh Lasi begitupun Lasi kepada kanjat, tapi mereka hanya menyimpannya dalam hati.

Setelah Lasi sering bertemu dengan Handarbeni, banyak nasihat Bu Lanting yang membuat Lasi selalu pasrah karena kata-katanya. Lasi yang dulu selalu hidup susah kini mulai berpikir karena akan dinikahi Handarbeni. Siapa yang mau menolak keberuntungan, itulah yang selau diucapkan Bu lanting. Di sisi lain Bu Lanting sangat beruntung ketika Lasi mau menjadi istri Handarbeni, ia akan diberi harta melimpah karena menyediakan bekisar merah yaitu Lasi. Sebelum menikah Lasi dibolehkan oleh bu Lanting untuk pulang ke Karangsoga mengurus surat cerai. Akhirnya, Lasi pulang ke Karangsoga dengan naik mobil yang disopiri oleh pak Min. Celoteh warga Karangsoga sesuai kebiasaan disana sudah berkembang kesemua masyarakat, tetapi Lasi tidak memperdulikannya. Setelah persidangan usai Lasi resmi menjadi janda, hingga suatu malam Kanjat yang sudah lulus sarjana dan sudah menjadi dosen bertamu kerumah Lasi, Kanjat mengungkapkan bahwa dia tidak mau kedahuluan orang lain untuk melamar Lasi. Sebenarnya Lasi juga menaruh hati pada Kanjat tapi Lasi tidak bisa berbuat apa-apa karena Lasi merasa harus balas budi pada bu Lanting dengan menikahi Handarbeni.

Lasi sudah menjadi Nyonya Handarbeni, menikmati segala kemewahan materi yang tidak pernah terbayangkan oleh bekas seorang isteri penderes nira dari desa Karangsoga. Tetapi Lasi merasa perkawinannya dengan Handarbeni hanya perkawinan main-main dan Lasi juga merasa kecewa karena Handarbeni ternyata impoten. Sebenarnya bukan impoten yang membuat Lasi kecewa, tetapi perkataan Handarbeni yang menyuruh Lasi untuk memuaskan diri pada laki-laki lain dengan tutup mulut dan tetap menjadi istri Handarbeni. Hingga pada suatu hari Lasi minta ijin untuk pulang ke Karangsoga karena kekecewaannya pada Handarbeni. Sampai di Karangsoga Lasi ingin membangun rumah orang tuanya. Selama dua bulan Lasi sering berbalik-balik dari Karangsoga ke Jakarta, kadang Handarbeni juga ikut ke Karangsoga. Sebenarnya respon warga Karangsoga melihat Handarbeni negatif, tetapi karena Handarbeni ramah dan memberi bantuan dana kepada desa untuk membangun infrastruktur sehingga membuat warga Karangsoga tidak terlalu menceloteh. Lasi merasa sudah puas untuk membalas dendam pada warga Karangsoga yang dulunya sering menceloteh Lasi seenaknya. Sebenarnya Lasi ingin bertemu dengan Kanjat, ia ingin menceritakan semua permasalahannya dan ingin mendanai proyek yang akan di buat oleh Kanjat untuk lebih memakmurkan warga Karangsoga juga ingin menanyakan pada Kanjat apakah Kanjat sudah punya calon istri karena Lasi mendengar bahwa Kanjat dekat dengan. Kemudian pada hari berikutnya, Kanjat pun mau menemui Lasi, Lasi bercerita pada Kanjat bahwa ia hanya kawin-kawinan dengan Handarbeni dan Lasi juga menceritakan semua yang mengganjal hatinya. Kanjat pun memahami maksud Lasi dan menjelaskan pada Lasi bahwa tidak ada yang bisa mengganti Lasi di hati Kanjat.

Di desa Karangsoga akan ada jalur listrik yang akan menerangi desa Karangsoga, sehingga menyebabkan pohon-pohon kelapa sebagai sumber utama warga Karangsoga terpakasa sebagian harus di tebang. Darsa adalah salah satu warga yang pohon kelapanya di tebang tetapi tidak hanya itu pohon kelapa Darsa paling banyak di tebang, karena terletak lurus pada jalur listrik. Darsa yang menghidupi istri dan anaknya punya dua belas pohon kelapa yang sepuluh pohon nantinya akan ditebang. Tidak tau Darsa akan menghidupi anak dan istrinya dengan apa lagi. Kanjat dan Lasi pun turut berduka atas penderitaan yang ditimpa Darsa, dan Lasi memberikan uang pada istri Darsa dan bilang “itu mungkin cukup untuk makan satu tahun kamu besama Darsa”.

Di tengah perjalanan pulang dari rumah Darsa, Lasi dan Kanjat berjalan pada lorong-lorong desa Karangsoga, mereka teringat kenangan masa kecil mereka yang sering main kucing-kucingan ketika Kanjat selalu merapatkan diri dengan Lasi ketika bersembunyi di balik pohon. Lasi tiba-tiba bilang besok akan kembali ke Jakarta dan mengajak Kanjat untuk ikut bersamanya. Tetapi Kanjat menolak ajakan Lasi karena Kanjat seorang dosen jadi tidak mungkin untuk pergi sesuka hati, tanpa ada jadwal yang mengikat. Lasi juga menanyakan fotonya apakah masih disimpan kanjat, ternyata Kanjat masih menyimpannya dan Lasi juga masih menyimpan foto kanjat. Kanjat melihat mata Lasi dengan mendalam yang masih menyimpan pesona, tetapi pada mata Lasi pula Kanjat melihat kenyataan lain bahwa Lasi masih punya suami, dan lebih dari itu. Dalam mata Lasi, Kanjat juga melihat Darsa, Sipah, dan anaknya. Itu seperti menyindir Kanjat yang gagal meringankan beban hidup para penyadap kelapa, bagi kanjat Lasi adalah harapan dan cita-cita yang tetap hidup dalam hatinya. Di sisi lain, Kanjat adalah pejuang bagi penyadap yang terus dipanggil untuk memihak mereka. Bahkan Darsa adalah salah satu penyadap yang butuh dipihak oleh Kanjat. Kanjat menyadari bahwa tanpa para penyadap-penyadap tersebut, Kanjat tidak bisa menjadi sarjana. Karena itulah Kanjat merasa berhutang budi pada para penyadap yang telah merelakan banyak keringatnya untuk dijual pada ayah Kanjat.

Tanggapan Novel Bekisar Merah

1. Saya menyukai tema yang di angkat dalam novel ini karena tema yang di angkat tentang tema sebuah desa dengan khas budayanya begitu juga kehidupannya yang penuh keserhanaan. Sehingga membuat saya menjadi lebih sering berkaca pada diri saya sendiri, saya bukan siapa-siapa di dunia ini.

2. Saya suka pesan-pesan yang biasa di tembangkan oleh Eyang Mus, yang kental dengan budaya jawa, yaitu budaya saya. walaupun saya lahir di jawa tetapi saya tidak terlalu mengerti pesan-pesan jawa yang terungkap dalam novel tersebut. Pesan-pesan nya dapat menjadi kunci kehidupan yang akan datang.

3. Gambaran kemiskinan yang di tonjolkan oleh Ahmad tohari sangat nyata. Sehingga membuat saya terlarut dalam bacaan.

4. Penggambaran suasana yang masih terlalu alami dari desa Karangsoga sangat indah dan penuh estetis, seperti “ ketika angin tiba-tiba bertiup lebih kencang pelepah-pelepah itu serempak terjulur sejajar satu arah” sehingga membuat saya juga menikmati suasana desa yang masih alami tersebut.

5. Ahmad Tohari menggambarkan nilai-nilai sosial yang sangat sulit dipahami oleh seorang perempuan desa yang sederhana dengan tingkat pendidikan yang rendah. Misalnya, ketika Pardi yang mampir di sebuah warung untuk memuaskan diri dengan wanita padahal Pardi sudah punya istri dan hanya dengan kertas yang bernilai harga bisa menikmati wanita di warung itu.

6. Kata kiasan Ahmad Tohari yang mengibaratkan Lasi sebagai bekisar bermakna inovatif karena arti bekisar sendiri adalah peranakan ayam hutan dan ayam kampung yang mempunyai keindahan bentuk, bulu, dan kokoknya. Biasanya jenis ayam ini untuk hiasan dalam kandang indah oleh para orang kaya. Sehingga bekisar tersebut sangat menggambarkan Lasi pada novel tersebut.

7. Ahmad Tohari menggambarkan peperangan antara nilai-nilai kesetiaan, norma sosial, nafsu berahi, serta utang budi, seperti pada saat Darsa yang sembuh dari sakitnya kemudian di hadapkan oleh bunek anaknya yang masih perawan, sedangakan Darsa mempunyai istri yang harus setia, tapi juga karena bunek ingin balas budi dari Darsa karena sudah menyembuhkannya, juga nafsu Darsa yang menggejolak karena ada perawan di depan mata.

8. Menurut saya bahasa yang di gunakan tidak terlalu rumit di pahami, cuma bahasanya terlalu panjang dan berbelit-belit. Tapi itu sangat menunjukkan keestetisan karya bahasa sastra yang sebenarnya.

9. Saya sangat suka saat Ahmad Tohari menunjukkan perbedaan yang sangat jauh antara kehidupan Jakarta kota metropolitan dengan desa Karangsoga yang masih alami, baik kehidupan sosial masyarakat atau keadaan suasana pedesaannya. Dengan begitu saya bisa mengerti bahwa bersyukur sekali orang yang hidup di desa, walaupun katrok (ndeso) tetapi tetap pada jalan lurus norma-norma yang berlaku baik agama atau masyarakat.

AMANAT

1. Kehidupan kadang ada masa diatas juga ada masa di bawah, sama dengan roda yang berputar. Jadi perjuangkan terus tujuan hidup kamu sampai kamu meraihnya, baik itu laki-laki atau perempuan tidak ada perbedaan derajat untuk memperjuangkan tujuan hidup.

2. Jangan mudah percaya dengan orang yang baru saja kamu kenal dan ingin mewujudkan impian mu, karena bisa saja orang tersebut malah menghancurkan impinmu yang hampir kamu raih.

3. Di balik kesusahan pasti ada kebahagiaan, meski jauh datangnya kebahagiaan tapi tetap percayalah kebahagiaan akan menjemput kesusahan itu.

4. Sebelum mencela orang lain, lihatlah dulu apakah anda sudah sesempurna tuhan yang tidak pernah mencela anda saat anda berbuat curang.

5. Balas dendam bukan hal yang baik untuk dilakukan, daripada bersusah payah untuk balas dendam lebih baik energi digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.

6. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, yang dianjurkan untuk sekali seumur hidup, jangan bermain-main dengan pernikahan.

7. Jika kita telah banyak menimpa musibah, percayalah sesuatu akan indah pada waktunya.

8. Wanita itu harus RENDAH HATI jangan RENDAH DIRI

9. Wanita adalah harta yang paling berharga, jadi sebagai wanita jagalah hartamu sebisa mungkin.

10. Cinta dan nafsu itu berbeda. Hargai cintai dan tinggalkan nafsu!

Binti N Rosida

/www.bintinrosida.com

jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?