PILIHAN HEADLINE

Perpustakaan Sayang, Perpustakaan Malang

18 Maret 2017 15:43:31 Diperbarui: 19 Maret 2017 02:53:31 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Perpustakaan Sayang, Perpustakaan Malang
Dokumentasi pribadi

Baru saja kemarin saya mendengar berita anjloknya lift di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Menurut berita yang beredar tadi malam, tidak ada korban jiwa. Korban trauma pastinya ada. Saya bertaruh dalam waktu yang lama, para korban itu menghindari lift dalam bentuk apapun dan lebih memilih meniti tangga. 

Dan bayangkan saya sekarang harus masuk dalam sebuah lift yang usianya tak kalah tua. Entah berapa usia bangunan dan lift yang saya masuki siang ini tetapi tidak bisa disangkal bahwa umurnya sudah tak muda lagi. Dibandingkan tiga bangunan yang baru lahir di sekitarnya, gedung sepuluh lantai ini sudah mirip manusia paruh baya jelang senja yang mulai sakit-sakitan karena kurang perawatan.

Begitulah setidaknya kesan muram yang saya temui sebelum menginjakkan kaki ke Perpustakaan Umum DKI Jakarta di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan. 

Sebagai pengunjung setia tempat ini di akhir pekan dan bahkan saban hari dalam kurun waktu yang dulu pernah mengharuskan saya bekerja di tempat yang tenang dan lapang, saya mengamati dengan cukup lama perkembangannya dalam setahun terakhir ini yang malah mengecewakan.

Selama kunjungan saya yang intens di tahun 2016, saya merasakan kualitas pelayanan perpustakaan ini relatif bagus. Para petugasnya, dari yang bernama Jihan, Mega, dan lain-lain selalu menyapa pengunjung dengan ramah. 

Mereka masih berusia muda sehingga membawa kesegaran dalam semangat pelayanan. Ada beberapa rekan mereka yang sudah lebih senior juga dan mereka bekerja relatif baik juga. Atasan mereka, seorang perempuan berkerudung dan bersuara lantang dan bercakap blak-blakan bernama Tuti, saya kerap jumpai disapa anak-anak pengunjung setia ruang perpustakaan khusus anak yang ramainya membuat kami pengunjung dewasa agak kesal tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, tidak ada yang terkesan hanya ongkang-ongkang di sini.

Musholla juga tersedia dan terawat baik. Sebenarnya di lantai dasar ada juga musholla yang lebih besar tapi ini akan memudahkan mereka yang sedang asyik melahap buku untuk tidak mesti turun naik lantai gedung untuk salat.

Dahulu, selama 2016, jam pelayanan perpustakaan ini sungguh memanjakan kami para pengunjung. Saya bisa datang sepagi pukul 9 dan menjadi pengunjung pertama lalu menukar kartu identitas dengan kunci dan membuka loker yang ada untuk menaruh tas dan barang lainnya untuk kemudian baru bisa masuk ke perpustakaan dengan barang yang benar-benar diperlukan. Bahkan disediakan tas-tas transparan bagi mereka yang hendak membawa barang yag cukup banyak ke dalam ruangan perpustakaan.

Pendingin ruangan juga bekerja dengan mulus di sini dulu. Pagi hari saat saya masuk ke ruangan, dan saat udara masih sejuk, ruangan tidak terasa panas. Bahkan karena ingin mencari sedikit kehangatan, saya memilih duduk di depan jendela agar terpapar secercah sinar mentari pagi hari. Sinyal wifi juga sangat lancar di pagi hari karena masih sepi pengunjung.

Tentang lift lagi, dulu juga lift yang bisa dipakai lebih banyak. Perkara lift ini memang sudah menjadi masalah laten gedung ini. Saya sendiri sudah maklum. Saya sudah sering mengalami insiden lift yang sangat lambat bergerak, mengularkan suara berderit sampai yang naik bergidik, bahkan suatu kali saya menyaksikan sendiri permukaan lantai gedung dan permukaan lantai lift tidak sejajar alias timpang, yang artinya lift tidak bisa menyelaraskan ketinggiannya dengan pengaturan yang semestinya. Siapa yang tidak khawatir? Karenanya, saya kerap memilih menggunakan tangga darurat saja. 

Dan menaiki tangga hingga lantai tujuh memang bukan perkara sulit buat saya yang masih muda, tetapi tentu akan hampir ‘membunuh’ mereka yang lanjut usia. Padahal di gedung yang sama juga bermarkas sebuah organisasi keperempuanan yang sering dikunjungi perempuan-perempuan berbagai bangsa dan berbagai usia, bahkan yang sudah berusia senja sekalipun.  

Sayangnya sekarang banyak perubahan di tempat kesukaan saya ini. Dan perubahannya tidak menuju arah yang lebih baik. Malah terkesan konstan, dan dalam beberapa aspek, melorot.

Menyoal tentang lift, saya mesti tekankan betapa mirisnya saya jika harus masuk ke dalamnya. Anehnya, sudah sejak dulu saya masuk ke sini pertama kali (kira-kira tahun 2015), tombol-tombol lift ini sudah berkurang tingkat kepekaannya. Sudah bukan hal aneh jika kita menekan satu tombol lantai kemudian tiba-tiba tombol itu mati begitu saja dan harus ditekan lagi. Dan karena gemas, kami menekannya dengan keras. 

Itu kalau orang dewasa yang masih bisa berpikir waras. Kalau pengunjung anak-anak, tidak jarang mereka sebal karena lambatnya kerja lift sampai mereka tekan dan pukul tombol operasi lift sampai jebol dan lampu penunjuk lantai sudah tak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Dan anehnya, lift yang paling timur hampir selalu tidak dioperasikan dan baru dijalankan jika ada tamu penting dan ada acara di aula lantai tujuh.

Selain itu, tidak bisa diakses. Lift barang yang dulu pernah saya pakai juga sudah lebih jarang dioperasikan, membuat kami yang bertandang mesti memakai dua lift di ujung barat saja. 

Lalu tentang kualitas pelayanan, saya menyaksikan tidak ada yang banyak berubah. Mereka yang bekerja masih sama baik dan ramahnya. Hanya saja saya amati jumlahnya lebih sedikit dari sebelumnya. Dan mulai 2017, terasa ada yang aneh karena para staf yang junior dan biasa bertugas saya tak jumpai lagi. Saya menerka mereka dimutasi ke tempat lain. Entahlah, namanya juga birokrasi. Bukan birokrasi namanya kalau tidak mengandung misteri. Apalagi ini di Indonesia.

Mengenai musholla dan kamar mandi, saya tidak menyangka saya dikecewakan dengan seringnya ditempel pemberitahuan “TOILET DAN AIR RUSAK” di sini. Dan ini sepanjang pengetahuan saya baru terjadi setelah waktu bergulir ke 2017. Tahun sebelumnya tak pernah saya harus ke lantai bawah cuma untuk ke kamar mandi. Memang sistem air di gedung ini memprihatinkan tetapi makin lama, karena makin tak dipedulikan, rasanya fungsi makin menurun juga.

Yang paling membuat saya kecewa ialah jam operasional yang malah dipangkas dari pukul 9 pagi sampai cuma 5 sore. Padahal tiap hari di tahun sebelumnya tempat ini terbuka dari pukul 9 pagi sampai 8 malam (meski teorinya begitu, kadang pukul 19.30 pelayanan sudah mulai diakhiri.

Kalaupun ada kemajuan yang patut diapresiasi di perpustakaan umum ini adalah volume pelantang suara untuk mengabarkan pengumuman yang ada di dalam ruangan perpustakaan yang lebih keras suaranya. Dulu, volumenya begitu rendah sampai kami hanya mengira si petugas di mikrofon cuma iseng berbisik-bisik pada kami.

Lalu penggunaan teknologi informasi di perpustakaan yang tampak mubazir. Pemerintah DKI tampaknya menganggarkan pembelian sejumlah sabak elektronik (tablets) yang terkini bermerek Samsung dengan tepian warna keemasan yang  kemudian dipasang dengan tali pengaman di meja-meja. Tujuannya untuk memudahkan mengakses aplikasi e-library.

Tapi itu semua mubazir, karena selain jarang sekali saya jumpai pengunjung yang mengaksesnya (karena buat apa pakai gawai orang lain jika sudah punya sendiri?), gawai-gawai ini tidak bisa dipakai secara maksimal tanpa sinyal internet nirkabel yang lancar! Dan sudah beberapa lama ini, seingat saja sejak 2017, koneksi wifi di sini sudah rusak. Dan hal itu memang sudah diumumkan terus menerus di meja resepsionis tapi beberapa pekan dan bulan berlalu, masalah wifi ini membuat para pengunjung yang mayoritas mahasiswa yang ingin menghabiskan waktu di perpustakaan untuk berselancar di dunia maya menjadi frustrasi. Termasuk saya!

Seorang teman juga mengeluhkan pelayanan perpanjangan buku pinjaman yang sekarang tahun 2017 ini sudah menutup cara perpanjangan dengan cuma menelepon untuk memberi kabar ke pustakawan. "Sebal, sekarang mesti datang ke sana juga! Mana aku punya waktu!" begitu alasannya.

Dengan langkah gontai, saya tukarkan kartu identitas saya dengan kunci loker dan meninggalkan perpustakaan seraya membatin,”Ya setidaknya ini masih lebih enak daripada mesti nongkrong di Starbucks, merogoh kocek untuk bisa duduk dan menulis di kursi kayu yang ergonomis dan pemandangan langit nan lapang dan citra eksklusif.” Tetapi siapa yang butuh citra?

Dan untuk membuktikan betapa kecilnya perhatian yang didapatkan perpustakaan dalam birokrasi dan pemerintahan selama ini, kita bisa saksikan bagaimana papan penunjuk arah perpustakaan ke kawasan Rasuna ini dipasang di Pancoran dan Jl. Diponegoro, Menteng. Saya saat pertama tinggal di Jakarta dulu penasaran dengan lokasi perpustakaan begitu melihat papan itu tetapi setelah beberapa lama baru bisa tertawa kecut menyaksikan papan-papan itu dipasang di sana. Apa pasal? Karena sungguh papan itu tidak ada gunanya sebab tidak mencantumkan alamat tepat perpustakaan dan jaraknya terlalu jauh dari lokasi perpustakaan di sebelah GOR Sumantri ini. 

Saya yang berstatus warga pendatang di sini rasanya memang tidak bisa berharap terlalu banyak dengan peningkatan pelayanan publik yang paling berkaitan erat dengan minat saya dalam sastra dan menulis, apalagi setelah gonjang-ganjing politik selama ini. 

Namun, kalau saya boleh berandai-andai, jika saya ber-KTP Jakarta, saya akan pilih kandidat pemimpin DKI Jakarta yang menjanjikan kualitas perpustakaan yang lebih baik dari yang telah ada. Karena inila h salah satu cara untuk mengalihkan perhatian mereka dari pusat-pusat perbelanjaan ke perpustakaan. Dari konsumtif menjadi edukatif. 

Kadang iri juga menyaksikan bagaimana nyaman dan lengkapnya perpustakaan di negara-negara maju. Perpustakaan di Indonesia, meskipun yang terletak di ibukota negara yang notabene pusat peradaban bangsa, masih jauh dari gambaran tersebut. Entah sampai kapan impian ini akan cuma jadi impian tetapi setidaknya saya sudah mulai meramaikan perpustakaan secara konkret. Semampu saya. Sebisa saya. Tak perlu cuma mengumbar kata, tetapi diiringi tindakan nyata. (*) 

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana