Khasiat Mahkota Dewa

21 Februari 2012 11:09:22 Dibaca :
Khasiat Mahkota Dewa

Banyak orang dan masyarakat yang belum tahu tentang manfaat tumbuhan mahkota dewa. Tumbuhan mahkota dewa umumnya di tanam di perkarangan rumah sebagai peneduh atau banyak pula di kebun - kebun, buahnya berserat dan berwarna kemerahan kalau sudah tua atau matang. Sering kali orang - orang yang tidak tahu manfaatnya tumbuhan atau pohon mahkota dewa hanya di jadikan pohon peneduh di depan rumah karena pohon mahkota dewa hanya memiliki ketinggian sekitar 3 meter.

Sewaktu di sekolah menengah atas saya melakukan penelitian pada  buah mahkota dewa ini ternyata buah mahkota dewa banyak mempunyai khasiat. Mahkota dewa atau Phaleria macrocarpa adalah tumbuhan yang berasal dari Irian Jaya atau Papua. Tumbuhan mahkota dewa mempunyai banyak khasiat yang luar biasa dari penyakit ringan hingga berat seperti gatal - gatal, pegal - pegal dan flu. Mahkota dewa juga bisa mengurangi diabetes dan keluhan kanker.

Pada umumnya orang yang sudah tahu manfaatnya memproses buah mahkota dewa dengan cara yang sederhana. Pertama mengumpulkan beberapa buah mahkota dewa, di iris tipis - tipis. Mengiris buah mahkota dewa gampang - gampang susah karena buah mahkota dewa bertekstur serat - serat buah dan biji buah di dalamnya. Setelah buah di iris tipis - tipis kemudian di jemur di bawah sinar matahari atau yang lebih cepat di oven. Setelah proses pengeringan tersebut ada yang lansung di seduh dan di jadikan teh atau yang sering saya jual saat sekolah adalah di jadikan mahkota dewa instan.

Cara membuat mahkota dewa instan pada dasarnya prosesnya sama dengan membuat jahe instan dan cara prosesnya sebagai berikut.

1. Iris tipis - tipis buah mahkota dewa (bijinya tidak di pakai dan sebaiknya di jadikan bibit).

2. Keringkan irisan mahkota dewa dengan cara di jemur atau di oven jika ingin lebih efisien.

3. Timbang mahkota dewa yang sudah di jemur sebanyak 1 kg atau sesuai selera.

4. Blender mahkota dewa dengan 1 liter air sampai menjadi bubur halus.

5. Saring hasil lenderan mahkota dewa untuk memisahkan serat dan air mahkota dewa.

6. Masak mahkota dewa dengan menggunakan wajan dan api kecil.

7. Tambahkan gula 1 kg di awal memasak.

8. Aduk terus sampai mahkota dewa mengkristal.

9. Mahkota dewa yang sudah menjadi kristal siap di konsumsi tapi jika ingin hasilnya menjadi kristalan yang halus, tumbuk mahkota dewa atau di blender dan jika kurang manis bisa di tambahkan gula tapi yang mempunyai keluhan diabetes biasanya hanya menyeduhnya menjadi teh dan tidak di tambah gula.

Di sebutkan kenapa biji mahkota dewa tidak ikut di proses menjadi obat banyak yang menuturkan biji mahkota dewa mempunyai zat racun dan kalau di makan bisa mengakibatkan muntah - muntah atau sampai mati rasa. Maka dari itu sebaiknya biji buah mahkota dewa di budidayakan lagi supaya nantinya banyak obat - obatan herbal apalagi dengan menanam buah mahkota dewa tidak perlu perawatan yang ekstra karena tanpa adanya perawatan pun mahkota dewa bisa hidup dan tumbuh dari musim ke musim.

Bagian lain dari tumbuhan mahkota dewa yang bisa di jadikan obat adalah  batangnya yang bisa di jadikan obat kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa di gunakan untuk mengobati lemah syahwat, disentri, alergi dan tumor dengan cara cukup merebus dengan air lalu di minum. Dan jangan kaget pula ketika meminum air dari daun mahkota dewa. Air daun mahkota dewa yang di minum bisa mengakibatkan kantuk atau mabuk. Efek tersebut normal dan tidak perlu khawatir. Jika mabuknya berkelanjutan akibat dari minum air daun mahkota dewa cukup dengan minum air sebanyak - banyaknya sampai rasa mabuknya hilang.

Harus di ingat pula bahwa wanita hamil usia muda di anjurkan jangan menkonsumsi buah mahkota dewa karena mahkota dewa bisa memacu kerja otot rahim untuk mempercepat proses persalinan sehingga bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.

Anik Yulianita

/www.afathree.com

Siangku untuk mewujudkan dunia dan ketika malam tiba Allah memberikan pakaian untukku :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?