HIGHLIGHT

Man Rabbuka? Benggol Kalih Sen Tigo!

12 Mei 2012 21:24:32 Dibaca :
Man Rabbuka? Benggol Kalih Sen Tigo!
Sahabat Masa Kecil

Sungguh bahagia dalam seminggu saya bisa berjumpa dengan dua sahabat lama, satu sahabat masa kecil yang 35 tahun baru ketemu. Sahabat lainnya adalah teman kos yang tak terdengar kabarnya selama 24 tahun setelah meninggalkan bangku kuliah. Dua-duanya tinggal dan bekerja di Jakarta serta sahabat spesial yang banyak menyimpan kenangan.

Ciri khas yang masih saya kenali dari sahabat kecil saya ini adalah pipinya yang lesung pipit. Lesung pipit yang bukan asli, melainkan buatan. Akibat terjatuh dari bersepeda, rem tangan sepeda yang dari besi itu masuk ke mulutnya dan menembus pipinya. Hasil jahitan lukanya itulah yang membuat pipinya berlesung pipit. Kecelakaan yang membawa berkah, blessing in disguise, hehehe….

Sahabat masa kecil saya ini sangat mempengaruhi, karena ia ‘pemimpin’ geng kami, meski kami seumuran. Kami hanya bertiga, dengan sahabat lainnya yang lebih muda, pernah saya ceritakan di sini, yang sedang belajar menjadi preman di Jakarta. Pengaruh yang masih saya ingat adalah kalimat yang saya jadikan judul di atas.

Menurutnya, jika kita nanti di akhirat, akan ditanya oleh malaikat: “Man Rabbuka?” (Siapa Tuhanmu?). Harus dijawab: “Benggol kalih sen tigo”. Terus terang saya tidak tahu maksudnya. Saya hanya memperkirakan saja. Karena benggol dan sen adalah uang jaman dulu, maka jawabannya adalah: ‘uang’ atau ‘duit’, yang berarti menuhankan duit. Saat saya ingatkan tentang kalimat itu, ia tertawa terbahak-bahak, merasa berhasil dahulu mengelabuhi.

Di masa kecil yang masa ‘jahiliah’ (kebodohan)itu kami benar-benar jahil,  suka mencuri buah-buahan dan ayam. Masih teringat ketika kami mencuri buah nanas dan harus melewati rumah pemilik kebun. Siang sekitar jam dua itu kami perkirakan pemiliknya yang juga ibu guru teman saya (kami berbeda SD) sedang istirahat tidur, tapi nyatanya berada di teras rumah yang berjarak sekitar 15 m dari jalan. Beliau menanyakan dari mana kami. Jelas kami terkejut, dua orang cepat-cepat menutupi teman pembawa kantung dan kami menjawab dari membeli beras (Jw: nempur), kebetulan kami membawa hasil curian dengan kantung beras. Setelah agak jauh, kami berlarian ketakutan.

Tentang mencuri ayam dan kiat-kiatnya sudah pernah saya ceritakan di sini.

Selama bertemu kami benar-benar bernostalgia, mengabsen satu-persatu tetangga dan sekaligus sahabat-sahabat kecil lainnya dan keberadaannya sekarang, termasuk prihatin terhadap sahabat geng kami lainnya.

***

13368318191900179243
Sahabat Kos

Sahabat kos yang notabene sahabat dalam keprihatinan menuntut ilmu tentu saja sahabat yang tak terlupakan juga. Tak jarang mengisi hari-hari dengan kegiatan yang kurang bermanfaat, penuh canda, debat dan hura-hura, sehingga tak terasa kelamaan kuliah, melebihi batasan seharusnya. Suka duka bersama dengan teman-teman kos sebagai momen-momen yang sering 'tak bermutu' tetapi dinamis.

Kenangan terhadap teman kos yang saya temui adalah canda-candanya yang membawa keceriaan. Pembawaannya ternyata tak berubah.

***

Dalam dua kesempatan bertemu di rumah makan dengan sahabat-sahabat lama itu, kami cukup lama bercengkerama dan berusaha dulu-duluan mentraktir dengan penuh kerelaan.

Kalau saya bandingkan, pertemuan dengan sahabat masa kecil/sekolah sepertinya berbeda. Mengherankan, bagaimana bisa pertemuan dengan sahabat-sahabat lama yang notabene dahulu berisi lebih banyak kegiatan ‘tidak bermutu’, terasa lebih berkesan dibanding dengan teman-teman kerja di masa lalu? Jangan-jangan, kegiatan ‘yang tidak bermutu’ (yang biasanya tidak dilandasi kepentingan pribadi) itulah yang bisa lebih menumbuhkan kerinduan, keindahan dan kebahagiaan.

Saya mengerti bahwa pernyataan sahabat kecil saya pun hanya canda belaka, namun meski canda bisa saja jadi kenyataan, mengingat jika seseorang di dunia menuhankan duit, konon di akhirat akan mengakui dengan jujur pertanyaan malaikat. Semoga canda sahabat kecil saya menjadi pengingat kita semua. (Depok, 12 Mei 2012)

Wisnu Susilo

/ws-thok

TERVERIFIKASI (BIRU)

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, bekerja di DKI Jakarta. Tak cuma 'nguplek' di Jawa saja, bersama Kompasiana ingin lebih melihat Dunia.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?